Mengintip “Persetubuhan” di Solo

Standar

Buat yang memuja kamasutra wajib mengunjungi kedua candi ini. Bagi yang mencintai seni dan pewayangan ini adalalah tempat yang paling direkomendasikan.

Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang beberapa menit saat saya dan teman sampai di Stasiun Solo Balapan. Atmosfer ramah segera menyapa kami begitu kami menginjakkan kaki di kota asal Jokowi ini. Adalah kali kedua saya ke Solo, kunjungan pertama hanya sebenta—sangat sebentar malah hanya beberapa jam, itupun sekadar menapak di Pasar Klewer—sentra batik terkenal di Solo.

Banyak orang bilang, sekarang ini kian lama Jogja tidak lagi seramah dulu. Jogja lebih “komersil” tidak ndeso lagi. Sehingga buat orang-orang yang dulunya menyukai Jogja kini beralih ke Solo.

“Jogja itu udah terlalu rame, nggak enak lagi untuk dijadikan tempat wisata yang tenang,” kata teman saya, seorang traveling writer. “Lebih enak Solo,” katanya lagi. Namun, dibalik ketenangan, kedamaian dan ndeso-nya, Solo menyimpan “keliarannya” sendiri. Bersembunyi di

kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar berdiri dua candi yang eksotis nan seksuil—Sukuh dan Cetho. Konon katanya, kedua candi ini dengan vulgar memampangkan alat kelamin perempuan dan laki-laki dengan gamblangnya. Bahkan ada juga adegan persetubuhan!

Ah, mengingatkan saya pada candi kamasutra di India. Apakah seseksual itukah penggambaran relief di kedua candi di Solo yang bakal saya datangi ini? Hmm…saya sungguh tidak sabar untuk melihatnya langsung. Apalagi, info pertama mengenai candi ini saya dapatkan dari novel Manjali dan Cakrabirawa yang ditulis oleh Ayu Utami.

Perjalanan menuju Sukuh dan Cetho agak susah bila harus dengan angkutan umum. Soalnya jalannya cukup menanjak, sedikit banyak mirip jalan Medan menuju Berastagi. Untuk mempermudah perjalanan, kami menyewa mobil sebagai transportasi. Sehingga bisa menikmati Solo lebih bebas. Benar juga kata teman saya yang traveling writer itu, Solo lebih bersahabat ketimbang Jogja. Maksudnya, bukan berarti Jogja tidak nyaman lagi. Tapi sejatinya buat pecinta ketenangan dan nuansa pedesaan, sudah saatnya kamu beralih ke Solo.

Jalan-jalannya tenang tidak seriuh Jogja yang gempita dengan kerlap-kerlipnya. Kalau boleh berandai, Solo seperti perempuan perawan yang malu-malu. Solo adalah perempuan yang segan mengungkapkan birahi kepada lelakinya. Mungkin karena mengajak bercumbu dianggap terlalu tabu untuk seorang perempuan. Padahal jika saja kita mengusiknya, Solo adalah pecinta yang ulung. Dia bukan hanya layak ditunggangi tapi juga menunggangi.

Solo punya caranya sendiri dalam melayani wisatawan. Keindahannya bukan pada pakaian yang dikenakannya melainkan tubuhnya. Jangan langsung meninggalkan Solo, seperti “meniduri” perawan kita harus sabar menguak kecantikannya. Kedua candi ini adalah salah satunya.

Candi Cetho, seperti pura di Bali_0

Candi Sukuh

Dan di sinilah kecantikan itu bermuara. Di kaki Gunung Lawu, sekira satu setengah jam dari Kota Solo, Candi Sukuh namanya. Sangat sederhana. Jauh dari kesan megah seperti Borobudur dan artistik seperti Prambanan. Terbangun di atas sepetak tanah. Tidak butuh waktu lama untuk sekadar mengelilinginya. Karena Candi Sukuh tidaklah seluas Komplek Candi Prambanan atau semega Borobudur.

Namun untuk mencermati kisah-kisahnya butuh waktu lebih dari sepersekian jam. Aneka historis mematri di dinding-dindingnya. Setiap patung memiliki kisah, setiap relief memiliki tragedinya. Menurut cerita, candi yang didirikan pada abad 15 M pemerintahan Ratu Suhita pada masa Majapahit ini digunakan untuk ruwatan.

Ruwatan adalah upacara untuk membebaskan seseorang dari kesialan. Misalnya anak yang lahir sungsang, pasangan yang tidak mempunyai keturunan dan lain-lain. Itu sebabnya bangun Candi Sukuh menggambarkan simbol kesempurnaan atau keabadian. Ada tiga bangunan yang berarti tiga tahapan yang harus dicapai manusia untuk mencapai nirwana—dunia bawah, dunia tengah dan dunia atas. Sampai sekarang masih ada penduduk sekitar yang mengadakan upacara ruwatan di Candi Sukuh. Walaupun ada juga yang melakukan ruwat di rumah dengan mendatangkan dalang.

Banyak yang mengatakan bentuk Candi Sukuh—seperti trapesium atau piramida yang terpotong, mirip dengan peninggalan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Ada atau tidak hubungan antara keduanya belum ada pembuktian. Di bagian puncak pada Candi Sukuh, lahan datarnya masih sering dijadikan sebagai tempat pemujaan atau meminta petunjuk kepada Khalik. Jadi, walaupun memeluk agama muslim/agama lain tapi masih banyak warga sekitar ataupun penduduk dari luar yang melakukan semedi di puncak Candi Sukuh.

Pantas saja saat kami tiba di bagian atas candi, ada aroma dupa dan bunga-bungaan di atas. Saya menghirup aroma mistis tapi tidak mencekam. Justru saya sangat menikmati suasana misterius ini. Candi itu ibarat teka-teki semakin misterius semakin penasaran kita dibuatnya. Memandang ke bawah dan menyaksikan pemandangan bagian candi yang lain dari atas. Mengira-ngira apakah dengan saya menginjakkan kaki di tempat tertinggi dari candi ini berarti saya mencapai nirwana?

Erotis, Historis dan Magis

Sukuh menyimpan erotikanya. Lewat patung-patung serta penggambaran lingga (alat kelamin laki-laki), yoni (alat kelamin perempuan), serta penyatuan keduanya secara gamblang. Mungkin beberapa orang akan terkekeh, tersenyum malu-malu ketika melihat lingga dan yoni yang dinampakkan sangat nyata di Sukuh.

Patung yang memegang kemaluannya

Namun peletakan lambang kedua alat kelamin tersebut bukan tanpa alasan. Ada cerita dibalik itu semua. Misalnya saja gambar patung tanpa kepala yang berada di bagian tengah candi. Patung tersebut memegang kemaluannya. Konon itu menandakan, ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan dan ingin meminangnya si lelaki harus meminta izin dulu dengan orangtua si perempuan.

Karena menikah bukan hanya urusan seks saja tapi juga bentuk dari tanggung-jawab. Tanggung-jawab kepada orangtua si perempuan dan si laki-laki, kepada keluarga yang bakal terbentuk dan soal materi utnuk menghidupi istri dan anak. Jika si laki-laki tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan itu semua, sebaiknya tidak usah menikah dan ketimbang berzinah lebih baik si laki-laki melakukan self service!

Di gapura pertama, yang dikunci—tidak tahu kenapa, terdapat lambang lingga yang memasuki yoni dan keduanya dipagari dengan rantai. Lambang ini berada di dalam kungkungan pagar yang merupakan gapura pertama dari Candi Sukuh dan di atasnya tergantung patung menyerupai barong. Makna dari simbol tadi adalah persetubuhan hanya bisa dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Dan bila itu dilanggar akan mendapat hukuman dari raksasa yang menyerupai barong tadi.

Begitu banyak kisah-kisah menarik di Candi Sukuh ini dari yang erotis, historis sampai mistis. Konon katanya seorang perempuan bisa tahu masih perawan atau tidak bila melewati gapura pertama sampai ke puncak candi. Jika, dia mengeluarkan darah berarti dia masih perawan

dan jika kain yang diikatkan di pinggangnya terlepas tanpa sengaja berarti dia tidak perawan lagi.

Pengorbanan Durga

Relief-relief di dalam candi ini menceritakan banyak kisah salah satu kisah yang paling tidak saya sukai tapi sangat ingin saya bagi salah satunya adalah tentang Dewi Uma yang dikutuk oleh Dewa Siwa. Menurut kisahnya, untuk menguji kesetiaan istrinya—Dewi Uma, Dewa

Siwa pura-pura sakit dan meminta istrinya turun ke bumi untuk mencari susumilik seorang penggembala untuk menyembuhkannya.

Sebenarnya penggembala yang dicari oleh Dewi Uma adalah Sang Siwa sendiri yang menyamar. Singkat cerita, si penggembala (Dewa Siwa) meminta satu kali persetubuhan sebagai ganti susu. Keinginan untuk menyembuhkan sang suami membuat  Dewi Uma rela menyerahkan tubuhnya. Dewa Siwa marah (untuk alasan yang tidak dimengerti toh, si penggembala adalah dia dan yang menyetubuhi Dewi Uma ya dia sendiri) dan mengutuk Dewi Uma menjadi Durga—makhluk raksasa luar biasa jelek yang tinggal di sentra gandamayu, tempat tinggal orang-orang mati. Dan Sang Siwa—yang menurut saya sangat egois ini mengatakan Durga dapat kembali menjadi  Dewi Uma kalau diruwat oleh Sadewa. Dari legenda inilah upacara ruwat menjadi tradisi orang Jawa dan Bali.

Relief Durga di Sentra Gandamayu

 

Candi Cetho

Gapura-gapura di Candi Cetho

Tak lengkap rasanya bila mengunjungi Sukuh tanpa mampir ke Cetho. Letaknya ke atas lagi kira-kira 30 menit dari Sukuh. Cuacanya lebih sejuk, cenderung dingin, perjalanan ke sana menuntun kita pada pemandangan hamparan perkebunan teh yang lebih dari owsome tetapi owowowowsome!

Di sepanjang perjalanan, aroma gurih cengkeh akan membaui indra penciumanmu. Sebaiknya matikan pendingin kendaraanmu dan nikmati udara segar yang yang sangat jarang ditemui di perkotaan. Candi Cetho, kesannya lebih wah ketimbang Candi Sukuh. Jejeran gapura yang akan kita lewati langsung tampak dari kejauhan.

Letaknya di ketinggian membutuhkan usaha yang lebih keras untuk sampai ke atas. Anak-anak tangga yang tinggi, berundak-undak memaksa kaki kita untuk melangkah lebar. Keeksotisan serupa yang terdapat di Sukuh kita temui juga di Cetho. Pelambangan penyatuan lingga dan yoni di halaman dalam candi dapat kita lihat di sana.

Jika Candi Sukuh disebut candi perempuan, Candi Cetho sering juga disebut dengan candi laki-laki, mungkin karena ada kepercayaan kalau di Candi Cetho bisa untuk menguji keperjakaan—sama halnya dengan Candi Sukuh untuk uji perawan atau tidak. Sampai sekarang baik Cetho maupun Sukuh masih sering dijadikan untuk upacara umat Hindu. Terlepas dari segala mitos, mistis, historis dan kumpulan tanda tanya yang mengepung kedua candi itu. Termasuk cerita bahwasanya kedua candi ini sejatinya adalah kerajaan gaib maha besar

yang tak bisa dilihat dengan mata biasa.

Iklan

“Orgasme” di Filosofi Kopi

Standar

“Ntar bisa orgasme beneran?”

Tepeng, sang barista di Filosofi Kopi (Blok M, Melawai Jakarta) tertawa nyengir mendengar guyonan saya mengomentari menu Affogato Orgasm yang terpampang di coffee shop mereka. Tentu saja, ini hanya semacam “pengundang” buat orang untuk mencicipinya. Affogato Orgasm adalah menu affogato umum namun dengan tambahan durian yang bikin rasanya lebih menggigit genit, makanya dibilang orgasm.

Saya tidak memesan menu ini—walaupun sudah diwanti-wanti teman untuk mencobanya. Bukan karena saya tidak suka durian ataupun menolak orgasme. Saya lebih tertarik untuk mencicipi Ben’s Perfecto yang menjadi menu andalan Ben (Chicco Jerikho) di film Filosofi Kopi.

IMG_0759.JPG

Seperti yang kita tahu, Filosofi Kopi adalah film yang diangkat dari cerpen di salah satu kumcer Dewi Lestari aka Dee. Dee, menurut salah satu wawancara di media mengaku Filosofi Kopi besutan Angga Dwimas Sasongko sang sutradara, sejauh ini adalah film terbaik yang diangkat dari novelnya. Walaupun sempat diragukan apakah akan “meledak”, dan memang saat press conference (April 2015) yang saya hadiri sendiri, seorang wartawan media online bertanya kepada Angga, apakah dia yakin film ini akan sukses, bukan malah menambah kegagalan di daftar film-film Indonesia sebelumnya?

Ternyata perkiraan si wartawan media online tersebut salah! Filosofi Kopi sukses besar—bahkan akan dibikin sekuelnya. Kombinasi Chicco Jerikho sebagai Ben dan Rio Dewanto sebagai Jody membuat film ini laris manis. Jalinan cerita yang apik dan agak berbeda dengan yang ada di cerpennya Dee mendapat apresiasi dari kalangan kritikus film dan movie blogger. Ditambah dengan promosi dimana tiket bioskop Filosofi Kopi bisa ditukar dengan segelas kopi—lengkap sudah!

Cerita punya cerita, membikin Filosofi Kopi membuat Angga, Chicco dan Rio jadi kegandrungan kopi. Sehingga ketiganya “menghidupkan” kafe Filosofi Kopi yang ada di film ke dunia nyata. Jadilah, penonton yang ngefans dengan film tersebut bisa mencicipi Ben’s Perfecto, sisa-sisa chemistry antara Ben dan Jody bahkan Tiwus—kopi kampung yang mengalahkan Ben’s Perfecto.

Maka, ketika saya datang ke Filosofi Kopi, saya memilih Capuccino Perfecto. Rasanya? Buat saya, Capuccino Perfecto cukup asyik, namun “kepahitan” si kopi kurang berasa. Tepeng, mas barista yang baik menawarkan Tiwus Tubruk juga.

IMG_0734.JPG

IMG_0723.JPG

“Ini kopi yang mengalahkan Ben’s Perfecto itu ‘kan?” tanya saya yang masih belum move on dengan filmnya.

Hmmm….saya bisa lebih nyambung dengan Tiwus Tubruk. Susah menjelaskan bagaimana detail rasanya. Tapi cocok saja di lidah dengan taste kopi yang lebih keluar, apalagi getir-getir biji kopi yang samar menempel di lidah. Mas Tepeng sempat mendemonstrasikan pembuatan Tiwus Tubruk. “Harus searah jarum jam dan ditunggu beberapa saat supaya rasanya keluar,” katanya sambil menuangkan kucuran air panas ke biji kopi yang sudah digerus.

IMG_0744.JPG

Filosofi Kopi tidak hanya menawarkan kopi-kopi dahsyat yang ada di dalam filmnya saja, tetapi keseluruhan film tersebut. Setting Filosofi Kopi sebagai film tidak diubah sama sekali. Di dinding menempel beberapa quote dari Jody dan Ben. Fradi Stevy adalah seniman yang menghidupkan coffee shop ini lewat permainan kata yang ditulisnya di beberapa spot. Cukup nyentrik dengan sebagian quotes yang nyeleneh seperti; good convesation’s better than sex, better than conversation better than all religions. Saya tidak tahu apakah memang missed di “r” adalah kesengajaan sang seniman atau tidak.

Juga tidak ada WiFi—persis seperti yang dibilang Ben dalam film, coffee shop untuk berbagi, bercerita dengan teman bukan terpaku pada gadget seperti yang kita hadapi di masa sekarang ini. Dan satu yang pastinya paling digemari—terutama kaum hawa, jika beruntung, pesanan kopi kita akan dibikin langsung oleh Jody aka Rio Dewanto dan Ben aka Chicco Jerikho yang tentunya membuat kopi dua tingkat lebih nikmat. Bagaimana, siap untuk orgasme?

IMG_0755.JPG