5 Hal Tentang Gunung Kawi Tidak Seperti dibilang di Google

Standar
5 Hal Tentang Gunung Kawi Tidak Seperti dibilang di Google

Ini bukan tentang Gunung Kawi di Bali ya tapi di Jawa Timur.

Keisengan saya ingin melihat “kemistisan” Gunung Kawi sudah sejak lama. Tapi baru terwujud akhir tahun lalu. Dan ternyata setelah saya lihat dengan mata kepala langsung, Gunung Kawi malah tidak seram-seram amat.

Malahan saya kepikiran untuk menginap beberapa hari di sana untuk merenung seperti yang biasa saya lakukan di ViaVia Jogja hehehe. Saya ke Gunung Kawi bersama abang saya yang nyeleneh–saya sebut begitu karena dia doyan dengan hal-hal mistik plus aneh dan kakak ipar.

“Adek mau ketemu Eyang Jugo ya…” kata abang saya. Saya sendiri tidak tahu siapa Eyang Jugo sampai akhirnya abang cerita kalau Eyang Jugo itu “eyang sakti” di Gunung Kawi yang makamnya kerap dikunjungi pelancong ataupun orang yang berdoa di sana memohon sesuatu.

Dari kunjungan singkat kami ke Gunung Kawi, ada lima hal yang bisa saya simpulkan dari sini dan hal-hal yang tidak di share Mbah Google ke orang yang iseng googling tentang Kawi, seperti saya…

1. Tempatnya Adem dan Khas Pedesaan

Bukan karena pas saya datang hujan ya. Kondisi di sini memang teduh dan tidak ada suasana seram kok. Malahan begitu kami turun langsung diserbu “guide” yang mungkin menganggap semua orang yang datang ke sini untuk melakukan doa bukan iseng seperti kami hehehe.

Begitu keluar dari mobil, untuk sampai ke komplek wisatanya kami melewati rumah penduduk di kiri-kanan jalan yang sempit. Suasananya buat saya seperti di Kali Code. Dan rata-rata di depan rumah penduduk terpasang papan menyewakan kamar yang memang disediakan buat orang-orang yang ingin menginap. Seru juga! Saya jadi teringat rumah penduduk di kaki Gunung Gede yang sering dijadikan basecamp pendaki…

2. Ada Banyak Aksesori

Unik-unik, lucu-lucu, tidak kalah keren dengan yang ada di Malioboro pokoknya. Saya dan kakak ipar membeli gelang dengan model kayu dan batu giok. Di sini juga menjual kaos dengan tulisan Gunung Kawi berbagai motif–kalau tertarik membeli hehehe. Ada juga yang menjual dupa dan jimat.

3. Ada Penginapannya Juga Lho!

Bukan penginapan rumah penduduk tapi penginapan komersil yang berada di barisan toko-toko oleh-oleh. Biasanya penginapan ini penuh saat hari-hari tertentu dan dikeramatkan. Kalau memang moment hari besar, banyak yang datang mulai dari Jawa sampai luar Jawa untuk inap di sini dan berdoa. Saya sempat komentar, “Wah enak juga ya kalau inap di sini,” yang langsung dibilang, “Hush!” sama abang saya.

Abang saya yang nyeleneh ini suka tempat-tempat aneh dan dia juga pernah mengunjungi beberapa tempat keramat termasuk Gunung Kawi. Tapi dia tidak pernah mau menjawab serius setiap saya tanya mendetail tentang pengalaman-pengalamannya dulu.

4. Wisata Kuliner

Namanya juga kawasan wisata, tidak lengkap dunks tanpa makanan. Ada banyak warung-warung sederhana tapi berkesan bertebaran di sini. Mulai dari makanan Jawa sampai chinese food–mungkin karena banyak juga orang chinese yang datang ke sini. Kakak ipar saya mencoba saren yaitu makanan dari darah hewan yang dibekukan. Saya icip sedikit punyanya karena gaya makannya lahap. Rasanya gurih. Kakak ipar saya cerita kalau ibunya sering buat saren di warung mereka. Oh, ya kakak ipar saya ini asalnya dari Jogja dan dia bilang kaulau di Jogja menu seperti ini banyak dijumpai di warung-warung makan.

5. Membaca Nasib

Buat yang percaya tak percaya dan pengin membaca nasibnya bisa coba di sini. Jadi selain makam dua eyang sakti, ada juga kuil Budha tempat berdoa dan membaca nasib dengan cara mengocok-ngocok sebilah papan. Nanti papan yang terjatuh diberikan kepada penjaga kuil untuk dibaca sesuai dengan nomor yang tertera di papan tersebut.

Gimana, tertarik mengunjungi Gunung Kawi? Kalau saya sih, setelah Kawi pengin ke Kemukus. Kalau saya bilang ke abang saya lagi pasti dia komen, “Ya ampun mau ngapain lagi ke sana. Itu kan tempat orang ‘dewasa’ ” 🙂

IMG_20161203_102300

 

Amboi! Ngopi di 3 Tempat ini di Ambon

Standar
Amboi! Ngopi di 3 Tempat ini di Ambon

Baru kemarin di Indonesia timur sekarang balik lagi ke wilayah barat!

Dua minggu lalu secara on the spot mengunjungi Ambon, ketemu teman lama dan menikmati beberapa tempat ngopi yang cukup andalan di sana. Ternyata orang-orang Ambon hobi ngupi-ngupi juga lho. Dua kawasan yang ramai dengan tempat ngopi adalah Jalan Sam Ratulangi dan Jalan Said Perintah. Tempat ngopinya nggak sementereng Jakarta—dan justru itu sih yang sebenarnya saya suka!

Tapi saya sempat cicipi kopi di tempat yang agak “wah” eh jatuhnya malah kecewa. Terlalu panas dan encer. Gerai kopi yang sudah punya merk juga seharusnya menjaga kualitas sajian kopi di daerah lain memiliki rasa yang sama dengan di kota besar.

Eniwei, ini beberapa tempat ngopi di Ambon yang cukup amboi menurut saya. Walaupun nggak terlalu sempurna sih, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan hehehe…

  1. Rumah Kopi Sibu Sibu

Saya nyobain kopi di sini atas saran teman. Konon katanya Kopi Kenarinya uenaak. Maka saya memesan Kopi Kenari yang ada jahenya. Dan rasanya….lumayanlah. Buat orang yang senang kopi encer dan nggak begitu pahit, kopi ini cukup bersahabat. Tapi, penggemar yang pahit-pahit, kayaknya kopi ini nggak cukup “nendang”.

img_2809

Bolehlah kalau sekadar mencoba. Eniwei, tempatnya lumayan asyik dengan interior dinding yang dipenuhi foto-foto penyanyi lawas dari Ambon. Plus, ada live music-nya juga!

img_2807

  1. Kedai Kopi Tradisi Joas

Yang bikin saya jatuh cinta dengan tempat ini adalah kuih tradisionalnya yang enak bangetss namanya Pocis. Jadi kuih ini dibuat dengan cara dibakar. Garing di luar dan lembut di dalamnya. Dinikmati dengan kopi hitam paling pas! Ternyata Kopi Tradisi Joas ini sudah lumayan lama lho. Desainnya agak tua tapi buat yang suka kuno-kuno bakal asyik nongkrong di sini.

img_20170223_115034_1

  1. Rumah Kopi Palangkaraya

Kayaknya sih namanya itu, hehehe…tempatnya pas di depan Kedai Kopi Tradisi. Buat saya kopi hitam di sini lebih lumayan dibanding yang lain. Lagi-lagi yang paling berkesan adalah makanan pendampingnya. Bentuknya seperti Nasi Kucing, ditutup dengan daun pisang, isinya sekepal nasi putih, kelapa dan ikan cakalang sambal. Enak!!!!

img_2878

Sebenarnya ada beberapa tempat lagi sih yang asyik untuk ngupi seperti Patita Café di Hotel Hero di depan Kantor Gubernur. Sayangnya kopi yang disajikan di sini hanya sachet. Mereka yang ngupi di sana lebih senang Good Day ataupun White Coffee pabrikan. Yah…persoalan selera…

Karena Sejarah Bukan Hanya Soal yang Cantik-cantik Saja

Standar
Karena Sejarah Bukan Hanya Soal yang Cantik-cantik Saja

“Ngapain ke Buru, Buru nggak bagus,” kata teman saya.

Tapi sejarah kan bukan hanya soal yang cantik-cantik saja. Malah kebanyakan sejarah tertulis dari darah dan air mata. Semenjak hobi membaca buku-buku bersejarah dan autobiografi/biografi tentang orang-orang yang dipindahkan paksa ke Pulau Buru saya jadi pengin ke sana dan menghidupkan apa-apa yang sudah saya baca.

Tahun 2012, saya pernah membuat list tempat-tempat yang ingin didatangi sebelum mati, dan saya memasukkan Pulau Buru ke dalamnya. Saya sudah hampir lupa dengan list tersebut sampai akhirnya ada rencana “dadakan” ke Ambon Februari 2017 ini.

Wah…saya bergairah sekali. Saya bukanlah pejalan yang senang membuat rencana perjalanan. Jadi tidak ada menghubungi siapa-siapa, googling tentu ada tapi tidak spesifik bahkan tidak tahu bakal menginap dimana.

Kami berangkat dengan pesawat Trigana Air dari Ambon menuju Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Sebenarnya kalau mau menuju kawasan dimana para eks tapol tinggal sebaiknya menuju Namlea (Kabupaten Buru Utara Timur). Karena lebih dekat, sekira 15 menit saja. Tapi dari Ambon menuju Namlea hanya bisa ditempuh melalui laut yang memakan waktu 5 jam (katanya). Soalnya sedikit bingung juga sih, beberapa kali menanyakan informasi mengenai jadwal kapal yang pasti, tidak ada jawaban yang sama. Selalunya diberikan jawaban mengambang. Padahal dulu di Namlea ada bandara tapi sekarang tidak ada lagi.

Eniwei, perjalanan dari Ambon menuju Namrole hanya sekira 30 menit (bahkan kurang mungkin). Nah, dari Namrole ke Savanajaya ini yang cukup jauh sekira 2-3 jam. Savanajaya salah satu unit dimana para eks tapol tinggal. Kebetulan yang menyenangkan warung kopi tempat kami mampir adalah milik salah satu eks tapol dari Unit 1.

Sembari menikmati kopi sachet, kami bercerita dengan sang bapak dan istrinya. Sang bapak berasal dari Semarang dan menurut ceritanya dia satu-satunya orang dari desanya yang ditahan dan diborong ke Buru di tahun 1969.

“Di Nusakambangan dua bulan, saya dibawa ke Buru,” katanya.

Dia bekerja di toko buku dan dicurigai terlibat PKI, “Padahal dari desa saya banyak yang ditangkap dan diperiksa tapi saya saja yang ditahan,” dia bilang sambil tertawa. Dia bilang juga tudingan PKI banyak digunakan orang untuk menjatuhkan orang-orang lainnya. Misalnya karena jabatan, percintaan atau sekadar tak suka dengan orang tersebut. Ayah mertua sang bapak juga mengalami hal yang sama. Tapi lewat kejadian inilah dia bertemu dengan istrinya yang setahun kemudian menyusul orangtuanya ke Buru.

“Kami membuka lahan di sini. Ditanami padi, jadi sawah…”

img_2821

Kalau saya membaca, sang bapak seperti sudah terbiasa bercerita tentang pengalamannya “terjebak” di sini. Mungkin karena sudah terlalu banyak yang bertanya kepadanya? Jadinya terbiasa? Ketika saya membuka obrolan saat menginjakkan kaki di warungnya sang istri meminta saya ke dalam rumah, “Baru Pilkada, Mba…” demikian katanya. Suasana masih hangat, jangan sampai kalau didengar orang yang salah menafsirkan jadi mendidihkan suasana.

***

“Saya nggak terpikir untuk balik. Kalau di Jawa pasti mulai dari nol lagi,” jawabnya saat saya bertanya kenapa tidak balik ke kampung halaman. Sang bapak yang memiliki tiga anak ini mengaku selama di Pulau Buru pernah balik empat kali ke Jawa, setelah menjual sawahnya saat kerusuhan di Ambon 1999. Bapak berusia 74 tahun ini tidak pernah kembali lagi ke Jawa setelahnya.

Ketika bercerita tentang Jawa kampung halamannya, rona wajahnya jadi ceria, dia cerita tentang pertemuan dengan teman-teman seperjuangan dulu di Buru. Berkisah tentang pengalaman, permainan yang dilakoni untuk mengisi waktu dan lain-lainnya, “Teman-teman seusia saya yang juga memilih menetap di sini sudah banyak yang meninggal..”

Saya sering membaca tentang eks tapol tapi baru kali ini bertemu langsung dengan salah seorang yang mengalami kehidupan di Buru. Rasanya seperti menyaksikan langsung sejarah. Apalagi perjalanan yang kami tempuh start dari Buru bagian selatan menuju utara timur menyempatkan kami melihat keindahan liar dari tempat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebagian badan jalan yang kami lewati memang bagus tapi ada juga yang curam berbatas jurang. Belum lagi liku jalan yang naik turun karena melewati pegunungan. Menjelang sore ada kabut tebal yang menyelimuti, wajib membuka mata lebar-lebar supaya bisa melihat jalan dengan jelas. Saya jadi membayangkan bagaimana para eks tapol menghadapi Pulau Buru yang masih sangat hutan di tahun 1960-an?

Ada kesenduan—mungkin karena saya terlalu banyak baca buku tentang 65 jadinya sedikit mellow, move on tapi tetap harus dituntaskan secara jantan dan bertanggung-jawab. “Tidak bisalah kalau hanya minta maaf,” katanya, masih dengan logat Jawa yang medok.

Bikram Yoga Menyelamatkan Hidup Saya!

Standar
Bikram Yoga Menyelamatkan Hidup Saya!

Mungkin terdengar terlalu lebay, tapi seperti itulah yang saya rasakan saat bergabung dengan komunitas Bikram Yoga di Kuningan pertengahan 2013. Ya…saya pecinta olahraga dan sejak 2009 rutin lari pagi saat tinggal di Medan dulu. Ketika pindah ke Jakarta dan tidak punya waktu untuk lari pagi karena bangun saja sudah jam 5 mau lari jam berapa lagi? Saya memutuskan untuk memindah jadwal lari ke sore.

Jadi setiap pulang kantor (Kuningan) saya lari menuju arah rumah (Daan Mogot). Tapi tidak sampai Daan Mogot ya—saya belum segila itu, paling hanya sampai Pasar Senen, Grogol, Central Park, Monas, tergantung rute yang saya ambil.

Saya menjalaninya setahunan lebih. Oh, ya di masa itu saya sering gabung di event lari. Waktu itu biaya pendaftarannya masih murah sekira Rp 50.000 – Rp 100.000 untuk jarak 10 Km. Kadang juga gratis pas ulang tahun Jakarta atau kemerdekaan Indonesia. Di pertengahan senang-senangnya dengan lari, kaki saya keseleo pas lagi lari dari kantor menuju rumah. Pokoknya sampai tidak bisa dipakai lari lagi. Padahal sudah diurut oleh tukang urut yang berbeda.

Beberapa hari saya absen lari, saya mulai berpikir untuk mengganti jenis olahraga. Akhirnya saya memilih sepeda! Waktu itu saya tidak mau terikat dengan industri gym dimana kita harus bayar mahal untuk keringatan. Mulailah saya dengan hobi baru sepedaan dari kantor – rumah – kantor. Saya sampai memberi nama sepeda saya Eross—dari Eross Candranya Sheila On 7.

Bersepeda menolong saya terutama saat banjir yang biasanya datang di akhir/awal tahun. Bersepeda membuat saya bisa menembus banjir karena Jalan Daan Mogot mati total, tidak bisa dilewati kendaraan.

Namun seperti alaminya, dalam berpacaran saja ada rasa bosan apalagi aktivitas fisik yang tidak melibatkan “rekan latihan”. Di saat saya jenuh itulah, atasan saya menawarkan voucher Bikram Yoga di Epicentrum Kuningan. Jujur ketika ditawarin voucher gratis tersebut saya tidak tertarik. Pertama, saya pernah mencoba berbagai jenis yoga saat liputan dan tidak ada yang sreg. Buat saya olahraga itu ya keringatan dan beberapa kali gabung di kelas yoga, tidak ada keringat yang mengalahkan lari ataupun sepedaan. Selain itu, dulu saya menolak industri olahraga yang menguras kantong hanya demi memenuhi tuntutan gaya hidup.

Kelas pertama saya di Bikram Yoga membuat saya kewalahan. 90 menit paling melelahkan dalam hidup saya! Pusing, mual dan seperti dehidrasi, soalnya suhu ruangannya mencapai 420 Celcius. Yang artinya panasnya benar-benar gila!

Kelas demi kelas saya lalui. Walaupun batas kelas dalam voucher sudah terpenuhi, saya memperpanjang durasi karena ketagihan dengan latihan fisik ini. Hal-hal yang saya senangi dari Bikram Yoga yang membuatnya berbeda dengan olahraga lain adalah bagaimana setiap posenya menghubungkan antara pikiran dan fisik.

Saya merasakan perbedaan setiap kali melipat tangan sebelum dan sesudah berlatih yoga. Dulu, sebelum beryoga saya tidak merasakan koneksi apa-apa setiap kali menautkan jemari. Setelah yoga, saya merasakan koneksi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Keringat yang mengucur deras, koneksi, kelelahan yang luar biasa karena tubuh dilipat-lipat sedemikian rupa seturut dengan 26 posenya, ada lagi yang saya senangi dari Bikram Yoga yaitu kata-kata bijak dan penuh motivasi yang sering diucapkan guru di terakhir kali pose Savasana. Saya seolah mendapatkan ilham dan pencerahan setiap kelas berakhir. Tak jarang saya men-tweet apa yang diucapkan guru saking terinspirasinya. Waktu itu saya merasa guru-guru saya sangat bijaksana dan hidupnya pasti penuh dengan keseimbangan.

Tahun demi tahun berlalu, saya tidak hanya menjadi sekadar murid tapi juga bergabung dengan komunitasnya. Mengenal beberapa murid, akrab dengan sebagian guru lalu intens berkomunikasi, mengobrol tentang yoga dan kehidupan personal.

Pada akhirnya saya menyadari, kita semua hanyalah manusia biasa yang berusaha bertahan hidup. Mengumpulkan serpihan demi serpihan, melupakan dan berdamai dengan masa lalu, beraktivitas fisik (baca: olahraga) demi menghasilkan hormon endorphin supaya bahagia.

Saya sampai saat ini percaya aktivitas olahraga—apapun itu dapat melepaskan stres. Jadi, orang-orang yang berolahraga tidak hanya termotivasi supaya mendapatkan bentuk badan ideal ataupun sekadar mengikuti gaya hidup tetapi efek bahagia selepasnya yang membuat kita kecanduan.

Saya menyebutnya lelah yang membahagiakan

img_20161201_162036

Pernikahan Jo

Standar
Pernikahan Jo

Tidak seperti pertemanan pada umumnya, kami tidak memiliki banyak foto yang menampilkan kebersamaan. Aku tidak pernah menjadikan foto kami sebagai foto profil di telepon genggamku. Tidak seperti kebanyakan sahabat pada umumnya, kami jarang berfoto sama lalu memajangnya di Facebook. Seperti sebuah proklamasi kalau kami adalah sahabat. Tidak. Pertemanan kami tidak seperti itu. Kami bukanlah tipe sahabat yang senang memamerkan pertemanan kami dengan menghabiskan weekend sembari nongkrong di kafe,  ngobrol ngalur-ngidul. Merayakan ulang tahun bersama, bertukar hadiah, Oho, itu bukan kami.

Kami jarang keluar bersama. Mengobrolkan kenapa Brad Pitt meninggalkan Jennifer Aniston, kenapa SBY masih jadi presiden, kenapa Rooney Mara tidak memenangkan Oscar—tidak pernah. Untuk hal-hal yang kukatakan tadi kami punya teman masing-masing. Meski intensitas pertemuan kami dinilai minus untuk ukuran sahabat tapi dia selalu jadi orang pertama dan terakhir yang kuhubungi ketika aku sedang ada masalah. Begitupun dia. Kami teman duka bukan suka.

Bila terjadi sesuatu dengan yang lainnya, salah satu dari kami pasti segera datang, menjumpai, menghibur dan membantu. Yah, begitulah kami. Persahabatan antara aku dan Jo. Aku sering melihatnya dari kejauhan untuk memastikan dia baik-baik saja. Begitupula dia. Sering sebelum tidur aku mendapati pesan masuk di telepon genggamku menanyakan kabar. “Ada cerita apa hari ini? Apa semuanya baik-baik saja?”

“Apa kabar Mas mu?” Dia menanyakan pacarku, Bimo.

Aku pun balik menanyakan Sekar pacarnya.

“Ukurannya masih sama 34D hahaha…” Itu jawaban Jo.

Maka setelah beberapa sms hahahihi lainnya,  pesan ditutup dengan ucapan selamat malam, mimpi indah.

Aku akui, kami tidak cukup intens sebagai teman. Tapi untuk seseorang yang setiap malam kau mengucapkan selamat tidur, teman yang selalu kau cari ketika sedang bertengkar dengan pacarmu ataupun di-bully di kantor, masakan kepada dia kau tidak memberitahu hari pernikahanmu?

Maka, aku di sini, di kafe tempat kami kemarin duduk, curhat habis-habisan tentang Bimo. Jo mengaduk chamomile tea-nya dengan enggan. Whipped cream minumanku sudah melumer dari sepuluh menit yang lalu. Aku menatap tajam Jo yang membisu.

“Aku tahu dari Wiwid dan Angie kamu menikah Sabtu depan,” aku menyebut dua teman kantor kami.

Jo diam, menunduk  masih mengaduk chamomile-nya.

img_0176

“Dan itu bukan Sekar…” aku seperti orang bodoh yang berkata-kata sendiri. Aku kembali menatap Jo tajam. Jika Jo kertas, sudah sedari tadi dia tercabik-cabik oleh tatapanku.
Aku menghentikan tangan Jo yang mengaduk-aduk tehnya, “Jawab aku Jo, pertama, kamu nggak cerita ke aku kamu akan menikah,” aku menarik napas sejenak, “kedua kamu nggak menikah dengan Sekar!”

Jo melepas peganganku, “Sudahlah Kenes, nggak usah berlagak bodoh! Aku nggak cinta sama Sekar,” kata Jo kecut. Dia menatapku sinis dan memalingkan muka.

Aku menatap arah pandang Jo, ke dua kursi tempat kami biasa duduk. Kali ini tempat biasa kami itu diduduki orang lain makanya kami tidak duduk disitu. Tempat dimana aku curhat tentang Bimo pada Jo.

“Lantas, apa kamu mencintai orang yang akan kamu kawini ini?” bisikku pelan. Pertanyaan yang sesungguhnya tak membutuhkan jawaban.

Jo menatapku dengan tatapan nanar, “Menurutmu?” desisnya sinis.

Aku ingin menangis tapi kutahan. Jo yang selalu melindungiku berubah renyuh. Semenjak aku menikah dengan Mas Bimo, aku berhenti kerja dan untuk waktu lama tidak berkomunikasi dengan Jo. Kami sama-sama tahu apa alasannya. Ya, semenjak malam itu. Tapi kami tak mau membahas malam itu. Malam setelah aku curhat habis-habisan tentang Bimo.

Jo tidak menghadiri pernikahanku. Padahal aku sudah menyampaikannya langsung. Tapi dia malah merobek undangan itu, meremuk dan mengempaskannya ke tong sampah. “Lebih baik aku mati ketimbang datang!”

Kini apa dia mau membalasku? Aku tahu informasi Jo akan menikah tanpa sengaja. Saat aku berada di Hypermart membeli bahan makanan dimasak untuk makan malam, aku berjumpa Wiwid dan Angie. Di tengah obrolan, mereka cerita kalau Jo akan menikah. Hampir saja aku menjatuhkan telur yang sedang kupilih. Aku begitu terkejut. Shock tepatnya. Aku tak pernah berpikir Jo akan menikah. Maksudku semua orang bakal menikah, tapi secepat itu? Setelah malam itu?

Lamunanku buyar, aku mendengar Jo menggeret korek api, menyalakan rokok.
“Sudah berapa bulan?” Jo melirik perutku.

Wajahku memerah, “Baru satu bulan…darimana kamu tahu?”

Jo mendengus, “Kamu nggak mesan double espresso favoritmu…”

Jo mengembuskan asap rokoknya ke samping supaya tidak mengenai aku. Tiba-tiba saja kami terdiam diterpa jeda yang luar biasa. Pernikahan Jo tidak lagi jadi topik percakapan. Aku memerhatikan Jo, rambutnya sudah sedikit lebih panjang dari terakhir kami bertemu. Aku menatap matanya yang bulat penuh dengan bulu mata panjang lentik. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh. Mataku turun ke lehernya. Aku masih ingat aroma lehernya yang kucium malam itu. Astagfirullah, segera kutepis pikiran itu.

“Jadi…” Jo tersenyum nakal, “…enak main sama dia?” Jo terkekeh dengan gaya menjijikkan. Aku terperangah mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Jo.
“Maksudmu???” suaraku meninggi.

“Lebih enak mana ketimbang malam itu?” kata Jo cepat.

Ingatan enam bulan  lalu menyeruak, membongkar benteng-benteng yang kubangun untuk menjaganya agar tak keluar dari memori. Malam itu seharusnya menjadi malam yang biasa. Malam dimana aku datang pada Jo dan curhat tentang Bimo. Malam itu seharusnya aku menangis saja, memuntahkan semua rasa kesalku.

Jo seperti biasa merokok sambil mendengar celotehanku, menenangkan dan mengantarku pulang dengan motornya. Jo yang selalu seperti biasa membatalkan janji dengan Sekar pacarnya supaya bisa menghibur aku temannya. Seharusnya cukup sampai disitu saja. Aku membiarkan motornya berlalu tidak menahannya karena hujan. Kalau aku tidak menahannya mungkin kami bisa tetap berteman seperti biasa. Bahkan Jo bisa menghadiri pernikahanku dan dia tak perlu menikah dengan orang yang tak dicintainya. Malam itu seharusnya aku membiarkan Jo langsung pulang, meski hujan. Tapi keegoanku menyuruh Jo tinggal di rumah. Memintanya menginap atau setidaknya menunggu hujan reda. Semata-mata bukan hanya bentuk kepedulian, ada hasrat terselubung. Ada libido yang sudah lama mengendap dan menunggu ditetaskan. Semua tentang Jo. Kebaikannya, keberadaannya, bau tubuhnya yang wangi dan wajahnya yang rupawan hanya nilai plus saja. Dan terjadilah malam itu. Tangan Jo yang dingin membekap pipiku mendekatkan ke wajahnya. Aku mengelus punggungnya, meraba celah di dadanya, ke bawah perutnya.

Semua terjadi begitu cepat. Seperti gasing yang berputar. Kepalamu dipenuhi dengan sensasi baru yang belum pernah kau cicipi sebelumnya. Kau takut tapi juga mau. Kau ragu tapi juga ingin tahu. Maka kau putuskan untuk mengikuti nalurimu. Menjelajahi ruang-ruang yang tabu dimensi yang dulunya kelabu semua membuka lalu meluruh. Pernahkah kau merasakan bahagia yang diselimuti rasa bersalah? Kami berbaring berpelukan dengan perasaan yang sukar dijelaskan. Lega yang membuncah meluap pecah. Jo memelukku erat sangat dekat sampai aku bisa mendengar tetak-tetak kehidupan di dadanya. Mencium aroma familiar yang biasa kucari-cari di ruang kantor. Kami dekat tapi sekarang jauh-jauh lebih dekat. Seperti aku yang bernafas, jantung Jo yang berdetak.

Cinta adalah sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hanya hati yang mampu mengungkapkan apa itu cinta. Sayang hati tak mengenal abjad jadi hanya bisa merasa, mendata dan membekapnya dalam asa.

Hatiku merasa aku mencintai Jo.
Jo mengelus kepalaku, nafasnya yang hangat menyapu pipiku.
“Kenes…”
“Ya…”
“Tinggalkan Bimo…”

“…..”
“Tinggalkan Bimo dan hiduplah bersamaku…”

Aku mengerjapkan mata, menyiapkan pipi sebagai landasan air mata. Malam itu malam terindah dalam hidupku. Seperti banyaknya cinta absurd yang bertebaran di hidup ini demikian juga cintaku dan Jo.

“Aku nggak mau membuat membuatmu menangis..” kata Jo.

“Kalau begitu berhentilah bertanya tentang malam itu!”
Aku menarik nafas, mengembuskannya dan menata kata-kata, “Kita sama-sama tahu…kalau itu adalah malam paling indah..” aku menelan air mata yang jatuh ke sudut bibirku.

“Jadi, nggak ada masalah ‘kan? Kita sama-sama menginginkannya Kenes…” Jo memegang ujung jariku, menekan-nekan telunjukku dan menciumnya penuh getar.
“Kamu… tahu Jo…” kataku sedih.

“Apa?” Jo tiba-tiba teriak, “karena aku tak…” aku segera membekap mulutnya dengan tanganku, “Pelankan suaramu Jooooo..” bisikku.

Jo mengenyahkan tanganku dari mulutnya, “Sudahlah Kenes, tidak ada yang perlu dibahas lagi…” Jo membuang rokoknya ke asbak tanpa mematikan baranya.
“Kita sudah tahu, sama-sama tahu, tak ada yang perlu dibahas lagi. Kamu dengan Bimo dan aku dengan pilihanku…”

Aku menangis. Hatiku sangat pedih mendengar kata-kata Jo. Kenapa dia memilih menikah dengan orang yang dulu menyakitinya hanya karena rasa kesal aku menikah dengan Bimo?

“Tapi Jo…kamu ‘kan nggak bisa menikah dengan dia…” aku frustasi.
Aku ingat Jo pernah cerita tentang pengalaman masa kecilnya. Disakiti orangtuanya.
“Mungkin dia tak sama dengan orang jahat itu…” sahut Jo.
“Aku…” belum selesai aku bicara Jo sudah memotong, “Memangnya kamu mau menikah denganku?” tantang Jo.

Aku menatap Jo dengan pilu. Dadaku perih seperti ditusuki ribuan peniti. Aku diam karena aku tahu kami tidak punya jawaban untuk itu. Aku tidak mungkin menikah dengan Jo bukan karena Bimo. Karena Jo adalah Johanna…

Jo lagi-lagi mengaduk-aduk chamomile-nya. Pasti sudah dingin, tidak enak untuk diminum. Seperti suasana saat ini.

“Jo..” aku membelah hening di antara kami, “pesankan aku double espresso…”

img_0608

Maret 2012
(Cerpen)

All I Want is Your body, You Should Not Ask for My Heart…

Standar
All I Want is Your body, You Should Not Ask for My Heart…

I can only ask this question in my mind and swallow up saliva or just let it float together with my cigarette smoke—Marlboro Light, which I throw up, phuuh….

Maybe I was wrong. Yes, I was wrong, indeed. Why have I aroused love in your heart? Letting you step into my life, melt and walk in my line. Oh, dear, all I want was just to have fun, but you asked for more. If only you could have felt enough with that, we would have been still together.

Then we might have been sitting in front of your house.. Holding hands under the moon light, with shadows of our hugging each other. Then, we might have been sharing about our day and laughing about it, while wiping your cheek and kissing your red lips with my dark lips.

Then, in the midnight, I will kiss your fore head tenderly and say, “Good night and sweet dream.” Hoping night will run fast and morning comes to reunite us again. “I don’t want a commitment. I like you, but I don’t want to take a serious relationship. In this time, just let it flow and see what time will decide for us,” most of my voice swallowed by the blowing winds. We were still on my motorcycle and your arms still hug me closely.

“It’s okay, if you want like that. I can handle it,” you said after clamming up in few minutes.

And a story about us started. One after one was tied becoming a whole tale.

***

I was imagining, we were kissing in the cinema with the movie’s scenes rolling and the yell of people who are watching the movie as the back sound while I was looking for tongue in her mouth. And then I would be hugging her so deep, smelling her neck and pouring kisses there.

This scene was playing in my mind when our eyes were staring at the cinema screen closely. There was no real kissing, or even hugging. She’s just yelling and closing her eyes and hiding on my shoulder. One day we were making a different story, riding under drizzling rain, passing a night with the roar of motorcycle.

We were passing Djamin Ginting road, moved to Pasar I, Pasar II and other Pasar until we met Simalingkar junction into the red sector. The motel’s wall sent me a shagging flavour like asked me to stop and bring my girl to the adventure of lust. We exchanged sweat on crumpled sheet, shared a breath in every second our skin met.

“Do you hear what I am saying to you?” A reality slapped me. Her voice stopped my imagination. I didn’t stop my motorcycle at the red sector. We kept going and leaving warm wall which called other couples.

In different time, we enjoyed a cup of Bandrek at Bandrek Sahid. Her favourite was Bandrek Susu with sweet bread, as for me a bowl of mung bean.

I remember she always blew scoop by scoop my mung bean before I ate it.

“It’s very hot,” I said.

“I will cool it for you,” her hand took my mung bean.

Tenderly, she took the beautiful hand held of a stainless spoon and scooped it closer to her red lips then blew it. The fume of mung bean framed her ovoid face. Her lips blew a warm breeze and cooled the mung bean.

Like before, my mind played in a dirty way. I wish I were a mung bean so I could taste her breathe on my body and her tongue licked my skin.

“You can eat now.” The spoon in front of my face ruined my dream. I didn’t have any choice but to keep the imagination of my lust.

wis_img_6196_november-24-2012_02

***

You need to praise and criticize her, put yourself in her position. Let her think that you are the only one who understands her. If you do that you will make a woman madly in love with you.

Believe me, I have played this game more than a quarter of my life. It’s not a flattery that makes a woman decide to let herself falling for a man. A woman will melt when a man gives a kiss in her dreams and purpose, follow her laughs and wipe her tears.

I assume myself an eagle which likes adventures. I don’t want to tie myself up with any woman yet. I could not stay in one place. I am a pleasure seeker, a women hunter, enjoy them and leave them without regrets. Finishing chapter by chapter, saving them as a story for my memory book and be proud of it someday.

Actually, even she’s just a chapter of my book she’s different from else I know, indeed. She’s not a hooker who often warming my lonely nights in karaoke toilet. She’s not a kind of woman who has regular sex.

She looks like a white holy paper that makes me want to write something in. About anything. Happiness, painful or may be just shatter it and throw it into trash can. I am Jean Baptiste Grenouille1 who is inflamed just because of her scent. I don’t want to possess her. I just want to feel and taste her. The body.

“Why do you like me?” One night I asked a random question. In front of her house when moon light shines over us and my big hand holds hers. Her eyes twinkle with her lips still warm and blush because of our kisses. I didn’t know why her looks was so shiny, it might be because of the moon light or the love madness.

She looked embarrassed looking at me in the moment and turned her face looked at my hand which was wrapping hers.

“Please, don’t laugh….” she murmured, whispered.

“What?”

“For me you are another number three in my life. All this time I hide behind a root. Meeting you releases me from a curse of root. I don’t need to hide from the sun as 1,7321 anymore. With you, I will be an integer.”

“Hah? What did you mean? Number three? A root?”.

She sighs. Looking at me like I am a primary student who could not understand when the teacher teaches about arithmetic.

“The point is you complete me. Meeting you was like finding a part of me which lost….”

“My dear, nothing lasts forever. We should ready if someday we must face a good bye…”

“Where will you go?” suddenly shine on her face disappears, she looks worried.

“I’m not going anywhere..” I cut her word with a long deep kiss.

***

Someone tells me if you could kiss a girl on her lips so you can sleep with her. I don’t know if it’s true or wrong but I always sleep with girls whom their lips I kissed. She refused me the first time I wanted to kiss her lips.

“Why, so fast…” she made an excuse.

“If life is so short why don’t you let me love you before our time has gone 3. What if 2012 is the end of the world?

“Ha..ha..” she laughed. And with her laugh we were melting in the beautiful and lovely symphony. Releasing everything and becoming one breathe. Dancing an old dance that has been there since Adam and Eve. In the ancient way and sang the same old song.

“I love you…”

***

A cigarette smoke which I breathe out floated in night sky. Marlboro lights. The taste is not too bitter but light and suitable with people who want to quit smoking.

“I like the flavour. It smells good, may be just because it is mixed with your sweat,” she said that.

Really, I was surprised enough when her chapter almost finished. It should be a few more pages before the end. But she made one mistake. She asked more.

Her tears dropped and filled her eyes. She was crying sadly and painfully. She shouted million questions, “Why?” I was sorry, I could not wipe your tears. I would let the wind wipe it. And rain would erase memories about me in her mind.

My lovely dear, all I want is your body you should not ask for my heart….

 

2013

(Cerpen)