Category Archives: Uncategorized

Antara Bokong Reza Rahadian dan Krisis Perempuan Paruh Baya

Standar

Bukan karena ingin melihat Reza Rahadian masturbasilah makanya untuk kedua kalinya saya nonton Something in The Way yang diputar di Radiant Cinema, Tangerang Selatan. Yah, walaupun, melihat Reza beraksi “solo” bukan sesuatu yang membosankan juga! Reza sangat piawai memerankan tokoh Ahmad, supir taksi yang rajin sholat namun kesengsem dengan Kinan alias Santi pelacur jalanan.

20134178_2_IMG_FIX_700x700

sumber foto: http://itcaughtmyeyes.com

Saya bukan cuma memuji akting “seksual” Reza yang wow; mulai dari akting masturbasi yang sangat menjiwai dan juga ekspresi kenikmatan pada wajahnya saat pertama kali orgasme dengan berhubungan badan tetapi juga badannya yang terpahat bagus. Kalau diibaratkan patung, Reza adalah masterpiece dari sang pemahat–body-nya bagus bener, hehehe!

Saya bukan Reza addict, tapi suka dengan aktingnya sejak dia main jadi karakter yang menyebalkan dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Kemudian ada 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta dan Habibie & Ainun. Film-filmnya yang sekarang ini saya kurang begitu sreg.

Anyway, sebenarnya kemarin saya cuma mau nonton About a Woman. Tapi karena diputarnya jam 7 dan saya datang kecepatan takut kehabisan tiket, jadilah untuk menunggu saya nimbrung lagi nonton Something In The Way yang dilanjut dengan About a Woman.

Sejujurnya sih agak sedikit drop, ibarat makan, sudah kenyang dengan suguhan Something In The Way, harus ngunyah About a Woman yang so-so. Saya nggak bilang kalau About a Woman nggak bagus. Tapi, kalau dibandingkan dengan Something In The Way ataupun Lovely Man, masih lebih bagus kedua film sebelumnya.

About a Woman bercerita tentang perempuan 65 tahun yang hidup sendiri di rumahnya. Rutinitasnya itu-itu saja, makan, olahraga, nonton film dan merangkai puzzle. Ketika pembantu perempuannya berhenti, dia kedatangan keponakan dari menantunya yang disuruh sang mantu untuk melihat mertuanya.

Di sinilah konflik cerita muncul, ketika kedua manusia terpaut usia jauh ini menemukan gejolak seksual pada masing-masing. Mereka mulai bereskperimen dengan rasa dan fisik mencari makna, apakah ini hanya perasaan sesaat, dorongan biologis atau hanya naluri kesepian?

Seperti biasa, film-filmnya Teddy Soeriaatmadja selalu punya ending sedih. Inti film ini sih, kesedihan bisa membunuhmu pelan-pelan. Baik secara konotasi maupun denotasi….

118125-film-festival

Iklan

Filosofi Odong-odong

Standar

Semenjak lebih sering bekerja dari rumah, saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama ponakan. Entah itu mengantar, menjemput mereka dari sekolah dan setiap pagi atau sore kami punya kebiasaan untuk naik odong-odong.

Odong-odong adalah semacam gerobak yang memiliki beberapa deretan tempat duduk dan ditarik dengan sepeda motor. Biasanya ada 3-4 baris dengan muatan 3-4 anak per bangku tergantung besar kecilnya si anak. Kemudian menambah keseruan, ada playlist lagu yang diputar.

Cukup membayar 2000 perak, penumpang akan dibawa berkeliling sesuai dengan rute yang ada. Biasanya satu kali putaran bisa 15-20 menit. Ternyata kendaraan ini tidak hanya menjadi idola buat para anak saja tetapi juga orang tua. Saya lebih sering melihat ibu-ibu sih ketimbang bapak-bapaknya. Mungkin para bapak sibuk mencari uang makanya yang menemani krucil seringnya para ibu.

Odong-odong.jpg

Ponakan saya yang paling kecil dan imut si Nom, kegandrungan odong-odong. Dalam sehari dia bisa naik 6 x putaran odong-odong dengan rinciang masing-masing 3 putaran di pagi dan sore. Menemaninya naik odong-odong sedikit banyak membuat saya hafal lagu-lagu yang diputar dan keunikan tak biasa yang susah untuk ditemukan di kota besar. Misalnya, ibu-ibu berdaster menggendong balitanya dengan kain jarik dan menyimpan uang di dalam beha! Fenomenal sekali ya kan?

Sejujurnya, saya sangat menikmati momen naik odong-odong dengan si Nom dan anak-anak kecil lainnya. Pasalnya, ada banyak kejadian unik dan hal-hal sederhana yang menyelinap dalam pengamatan saya. Apalagi kalau bukan interaksi orang-orang di perkampungan tempat kami tinggal. Ada banyak suku di sini, bukan hanya Betawi, Jawa, Cina, Batak dan suku-suku lain yang tidak tertebak saya lewat pandangan mata dan obrolan.

Laju jalan odong-odong yang pelan tapi pasti membuat saya mampu merekam keadaan sekitar. Ibu yang menjemur baju, menyuapi anaknya, anak-anak kecil setengah telanjang yang lari di gang-gang, aroma hio yang hampir habis terbakar meruapi jalanan–berasal dari depan rumah orang Cina di depan jalan, seorang bapak dengan kursi roda sedang bermain catur (beberapa kali lawan mainnya selalu itu-itu saja tapi sering juga berganti-ganti), kakek tua yang selalu setia minum kopi di pos satpam, gerombolan ibu-ibu yang bergosip di gerobak bakso dan macam peristiwa unik lainnya.

Kehidupan bersahaja yang merakyat ala rakyat kecil namun tetap berbahagia dalam kesederhanaannya. Saya rasa para “penguasa” harus naik coba naik odong-odong untuk tahu bagaimana kehidupan rakyat sebenarnya hehehe…

Dari beberapa hal yang saya nikmati selama naik odong-odong, ada hal yang tidak masuk ke dalam nalar saya yaitu soal jenis lagu yang dimainkan si abang odong-odong. Aneh, kebanyakan lagu-lagunya adalah genre dangdut denga lirik nakal seperti ini;

Liriknya sangat absurd dan tidak pantas untuk diperdengarkan ke anak-anak. Apakah lagu ini diputar untuk memenuhi selera abang odong-odongnya atau ibunya para anak-anak ya? Semacam wanti-wanti supaya hati-hati dengan para pria buaya?

“Wanita punya lubang buaya” bukan cuma satu-satunya lagu yang masuk kategori dewasa, ada juga lagunya Zaskia Gotik…

Kalau kamu mendengarkan liriknya, pasti langsung teringat dengan Bang Toyib yang tidak pulang-pulang. Sepertinya Bang Jono ini punya kebiasaan yang sama dengan Bang Toyib, suka kelayapan dan tidak pernah beli susu untuk anak-anaknya. Eh, apa lagu ini diputar supaya anak-anak kecil juga “demo” ke bapaknya kalau tidak dibelikan susu?

Di antara banyak lagu yang tak masuk akal, ada satu lagu yang masih bisa ditoleransi seperti ini…

Yah walaupun liriknya tetap masih tergolong “dewasa”, setidaknya tidak ada kata-kata yang mengumbar di sana, justru mengajarkan kesederhanaan dan mimpi tak muluk. Berharap punya anak dua….tinggal di rumah sederhana…

Dan….selama menjadi penumpang setia odong-odong, hanya satu lagu inilah yang relevan dengan anak-anak…

 

Kalau saya punya odong-odong, saya akan membuat playlist lagu-lagu yang lebih masuk akal untuk diperdengarkan kepada anak-anak temannya si Nom. Misalnya seperti lagu ini…

 

Atau…

 

Lebih masuk akal kan?

Mandalawangi, Perjalanan tentang cinta tak sampai

Standar

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu….

 

Menurut kepercayaan masyarakat setempat yang tinggal di sekitar Gunung Gede – Pangrango, Jawa Barat, Gunung Gede melambangkan perjalanan sedangkan Gunung Pangrango adalah tempat untuk kembali.

DSCN2186

            Bisa jadi inilah yang membuat Soe Hok Gie mencintai Pangrango dan membuat teman-temannya berikhtiar untuk menabur abunya di Mandalawangi—lembah di Pangrango. Pastinya Mandalawangi memiliki kenangan yang sangat dahsyat buat Soe Hok Gie sampai-sampai banyak puisi tercipta tentangnya.

Mulai dari pandangan-pandangan politik kritisnya sampai dengan kisah cintanya yang tak selesai. Tahun 1942 dia lahir dan meninggal karena mengisap asap beracun di Semeru tahun 1969. Dalam rentang waktu tersebut sudah seringkali Soe Hok Gie melepas keresahannya di Pangrango kemudian menyepi di Mandalawangi.

Selepas Soe Hok Gie mangkat, pesona Mandalawangi kian menghipnotis hingga sekarang entah sampai kapan. Mandalawangi telah menjadi ikon para pendaki yang menjadikan Soe Hok Gie sebagai idolanya dan para pendamba romantisme.

Gede dan Pangrango dari Cibodas.JPG

            Terbukti hampir setiap weekend Pangrango menjadi destinasi buat penduduk urban yang mencari ketenangan di penghunung minggu mereka yang padat karena pekerjaan dan macet kota besar. Travel agent juga cukup sering membuat jadwal ke sana. Karena memang terbukti minat berkunjung ke sana cukup tinggi.

Sebenarnya gunung-gunung di Jawa Barat menjadi favorit para gunung mania Ini dikarenakan jalur yang jelas, trek yang tidak begitu berat sehingga tidak dibutuhkan ketangguhan khusus untuk sampai ke sana. Beberapa diantaranya yang menjadi destinasi lain yang disukai adalah Papandayan, Cikuray, Guntur dan Ciremai.

Namun memang belum ada yang mengalahkan magnet Pangrango. Selain karena pikat Gie, biasanya untuk orang-orang yang berparu-paru kuat akan melanjutkan pendakian ke Gunung Gede yang menjadi tetangga dari Pangrango.

Kuncup Edelweiss di Lembah Mandalawangi.JPG

            Ada banyak jalur yang bisa digunakan dalam pendakian Pangrango. Sejauh ini yang terdata ada sekira 20 jalur. Namun yang paling populer adalah Cibodas yaitu masuk ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Bila melewati rute ini kita bisa menikmati objek wisata lain sebelum sampai ke Pangrangonya. Beberapa di antaranya adalah Air Terjun Cibeureum, Air Panas yang memang dilewati sebelum mencapai Kandang Badak—yang biasanya menjadi tempat  berehat ataupun menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Pangrango.

Meski treknya melalui jalur Cibodas ini tidak begitu berat dibanding trek yang lain namun tetap cukup menguras keringat. Apalagi buat orang yang jarang berolahraga. Kira-kira 7-8 jam perjalanan dengan kecepatan biasa untuk sampai ke Kandang Badak. Selebihnya antara 2 – 4 jam untuk sampai di Pangrango dan 1,5 – 2 jam untuk sampai ke Mandalawangi. Menerobos jalan yang sempit, becek, penuh tanjakan, belum lagi batang-batang pohon besar yang menghalangi jalan.

Euforia “Gie” memang sangat berasa. Ransel-ransel raksasa di pundak, kain yang melilit leher ataupun kepala dan sepatu gunung menutupi kaki. Semangat untuk sampai di puncak sudah mulai membara di warung-warung biasa para pendaki berkumpul sebelum memulai perjalanan.

Tidak jarang juga ada pasangan yang mendaki gunung cinta ini dan mendirikan tenda di Mandalawangi. Penggalan puisi kabut tipis mulai turun di lembah kasih lembah Mandalawangi memang benar-benar menghipnotis pendaki untuk menginap di Mandalawangi.

Mengucap janji, bergandengan tangan sambil duduk tepekur menyaksikan kuncup-kuncup edelweiss yang tumbuh abadi. Rasa lelah tergantikan sudah tiba di Pangrango yang puncaknya tidak begitu luas namun cukup untuk menyaksikan keindahan alam dari ketinggian 3019 mdpl. Barisan awan serta bukit-bukit hijau yang membentang. Angin beku yang menampar wajah, mengeringkan keringat yang terkuras di perjalanan.

Mimpi untuk berada di labuhannya Soe Hok Gie terwujud sudah. Sebuah perjalanan tentang cinta yang tak sampai…

 

DSCN2273.JPG

Mengintip “Persetubuhan” di Solo

Standar

Buat yang memuja kamasutra wajib mengunjungi kedua candi ini. Bagi yang mencintai seni dan pewayangan ini adalalah tempat yang paling direkomendasikan.

Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang beberapa menit saat saya dan teman sampai di Stasiun Solo Balapan. Atmosfer ramah segera menyapa kami begitu kami menginjakkan kaki di kota asal Jokowi ini. Adalah kali kedua saya ke Solo, kunjungan pertama hanya sebenta—sangat sebentar malah hanya beberapa jam, itupun sekadar menapak di Pasar Klewer—sentra batik terkenal di Solo.

Banyak orang bilang, sekarang ini kian lama Jogja tidak lagi seramah dulu. Jogja lebih “komersil” tidak ndeso lagi. Sehingga buat orang-orang yang dulunya menyukai Jogja kini beralih ke Solo.

“Jogja itu udah terlalu rame, nggak enak lagi untuk dijadikan tempat wisata yang tenang,” kata teman saya, seorang traveling writer. “Lebih enak Solo,” katanya lagi. Namun, dibalik ketenangan, kedamaian dan ndeso-nya, Solo menyimpan “keliarannya” sendiri. Bersembunyi di

kaki Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar berdiri dua candi yang eksotis nan seksuil—Sukuh dan Cetho. Konon katanya, kedua candi ini dengan vulgar memampangkan alat kelamin perempuan dan laki-laki dengan gamblangnya. Bahkan ada juga adegan persetubuhan!

Ah, mengingatkan saya pada candi kamasutra di India. Apakah seseksual itukah penggambaran relief di kedua candi di Solo yang bakal saya datangi ini? Hmm…saya sungguh tidak sabar untuk melihatnya langsung. Apalagi, info pertama mengenai candi ini saya dapatkan dari novel Manjali dan Cakrabirawa yang ditulis oleh Ayu Utami.

Perjalanan menuju Sukuh dan Cetho agak susah bila harus dengan angkutan umum. Soalnya jalannya cukup menanjak, sedikit banyak mirip jalan Medan menuju Berastagi. Untuk mempermudah perjalanan, kami menyewa mobil sebagai transportasi. Sehingga bisa menikmati Solo lebih bebas. Benar juga kata teman saya yang traveling writer itu, Solo lebih bersahabat ketimbang Jogja. Maksudnya, bukan berarti Jogja tidak nyaman lagi. Tapi sejatinya buat pecinta ketenangan dan nuansa pedesaan, sudah saatnya kamu beralih ke Solo.

Jalan-jalannya tenang tidak seriuh Jogja yang gempita dengan kerlap-kerlipnya. Kalau boleh berandai, Solo seperti perempuan perawan yang malu-malu. Solo adalah perempuan yang segan mengungkapkan birahi kepada lelakinya. Mungkin karena mengajak bercumbu dianggap terlalu tabu untuk seorang perempuan. Padahal jika saja kita mengusiknya, Solo adalah pecinta yang ulung. Dia bukan hanya layak ditunggangi tapi juga menunggangi.

Solo punya caranya sendiri dalam melayani wisatawan. Keindahannya bukan pada pakaian yang dikenakannya melainkan tubuhnya. Jangan langsung meninggalkan Solo, seperti “meniduri” perawan kita harus sabar menguak kecantikannya. Kedua candi ini adalah salah satunya.

Candi Cetho, seperti pura di Bali_0

Candi Sukuh

Dan di sinilah kecantikan itu bermuara. Di kaki Gunung Lawu, sekira satu setengah jam dari Kota Solo, Candi Sukuh namanya. Sangat sederhana. Jauh dari kesan megah seperti Borobudur dan artistik seperti Prambanan. Terbangun di atas sepetak tanah. Tidak butuh waktu lama untuk sekadar mengelilinginya. Karena Candi Sukuh tidaklah seluas Komplek Candi Prambanan atau semega Borobudur.

Namun untuk mencermati kisah-kisahnya butuh waktu lebih dari sepersekian jam. Aneka historis mematri di dinding-dindingnya. Setiap patung memiliki kisah, setiap relief memiliki tragedinya. Menurut cerita, candi yang didirikan pada abad 15 M pemerintahan Ratu Suhita pada masa Majapahit ini digunakan untuk ruwatan.

Ruwatan adalah upacara untuk membebaskan seseorang dari kesialan. Misalnya anak yang lahir sungsang, pasangan yang tidak mempunyai keturunan dan lain-lain. Itu sebabnya bangun Candi Sukuh menggambarkan simbol kesempurnaan atau keabadian. Ada tiga bangunan yang berarti tiga tahapan yang harus dicapai manusia untuk mencapai nirwana—dunia bawah, dunia tengah dan dunia atas. Sampai sekarang masih ada penduduk sekitar yang mengadakan upacara ruwatan di Candi Sukuh. Walaupun ada juga yang melakukan ruwat di rumah dengan mendatangkan dalang.

Banyak yang mengatakan bentuk Candi Sukuh—seperti trapesium atau piramida yang terpotong, mirip dengan peninggalan suku Maya di Meksiko atau suku Inca di Peru. Ada atau tidak hubungan antara keduanya belum ada pembuktian. Di bagian puncak pada Candi Sukuh, lahan datarnya masih sering dijadikan sebagai tempat pemujaan atau meminta petunjuk kepada Khalik. Jadi, walaupun memeluk agama muslim/agama lain tapi masih banyak warga sekitar ataupun penduduk dari luar yang melakukan semedi di puncak Candi Sukuh.

Pantas saja saat kami tiba di bagian atas candi, ada aroma dupa dan bunga-bungaan di atas. Saya menghirup aroma mistis tapi tidak mencekam. Justru saya sangat menikmati suasana misterius ini. Candi itu ibarat teka-teki semakin misterius semakin penasaran kita dibuatnya. Memandang ke bawah dan menyaksikan pemandangan bagian candi yang lain dari atas. Mengira-ngira apakah dengan saya menginjakkan kaki di tempat tertinggi dari candi ini berarti saya mencapai nirwana?

Erotis, Historis dan Magis

Sukuh menyimpan erotikanya. Lewat patung-patung serta penggambaran lingga (alat kelamin laki-laki), yoni (alat kelamin perempuan), serta penyatuan keduanya secara gamblang. Mungkin beberapa orang akan terkekeh, tersenyum malu-malu ketika melihat lingga dan yoni yang dinampakkan sangat nyata di Sukuh.

Patung yang memegang kemaluannya

Namun peletakan lambang kedua alat kelamin tersebut bukan tanpa alasan. Ada cerita dibalik itu semua. Misalnya saja gambar patung tanpa kepala yang berada di bagian tengah candi. Patung tersebut memegang kemaluannya. Konon itu menandakan, ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan dan ingin meminangnya si lelaki harus meminta izin dulu dengan orangtua si perempuan.

Karena menikah bukan hanya urusan seks saja tapi juga bentuk dari tanggung-jawab. Tanggung-jawab kepada orangtua si perempuan dan si laki-laki, kepada keluarga yang bakal terbentuk dan soal materi utnuk menghidupi istri dan anak. Jika si laki-laki tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan itu semua, sebaiknya tidak usah menikah dan ketimbang berzinah lebih baik si laki-laki melakukan self service!

Di gapura pertama, yang dikunci—tidak tahu kenapa, terdapat lambang lingga yang memasuki yoni dan keduanya dipagari dengan rantai. Lambang ini berada di dalam kungkungan pagar yang merupakan gapura pertama dari Candi Sukuh dan di atasnya tergantung patung menyerupai barong. Makna dari simbol tadi adalah persetubuhan hanya bisa dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Dan bila itu dilanggar akan mendapat hukuman dari raksasa yang menyerupai barong tadi.

Begitu banyak kisah-kisah menarik di Candi Sukuh ini dari yang erotis, historis sampai mistis. Konon katanya seorang perempuan bisa tahu masih perawan atau tidak bila melewati gapura pertama sampai ke puncak candi. Jika, dia mengeluarkan darah berarti dia masih perawan

dan jika kain yang diikatkan di pinggangnya terlepas tanpa sengaja berarti dia tidak perawan lagi.

Pengorbanan Durga

Relief-relief di dalam candi ini menceritakan banyak kisah salah satu kisah yang paling tidak saya sukai tapi sangat ingin saya bagi salah satunya adalah tentang Dewi Uma yang dikutuk oleh Dewa Siwa. Menurut kisahnya, untuk menguji kesetiaan istrinya—Dewi Uma, Dewa

Siwa pura-pura sakit dan meminta istrinya turun ke bumi untuk mencari susumilik seorang penggembala untuk menyembuhkannya.

Sebenarnya penggembala yang dicari oleh Dewi Uma adalah Sang Siwa sendiri yang menyamar. Singkat cerita, si penggembala (Dewa Siwa) meminta satu kali persetubuhan sebagai ganti susu. Keinginan untuk menyembuhkan sang suami membuat  Dewi Uma rela menyerahkan tubuhnya. Dewa Siwa marah (untuk alasan yang tidak dimengerti toh, si penggembala adalah dia dan yang menyetubuhi Dewi Uma ya dia sendiri) dan mengutuk Dewi Uma menjadi Durga—makhluk raksasa luar biasa jelek yang tinggal di sentra gandamayu, tempat tinggal orang-orang mati. Dan Sang Siwa—yang menurut saya sangat egois ini mengatakan Durga dapat kembali menjadi  Dewi Uma kalau diruwat oleh Sadewa. Dari legenda inilah upacara ruwat menjadi tradisi orang Jawa dan Bali.

Relief Durga di Sentra Gandamayu

 

Candi Cetho

Gapura-gapura di Candi Cetho

Tak lengkap rasanya bila mengunjungi Sukuh tanpa mampir ke Cetho. Letaknya ke atas lagi kira-kira 30 menit dari Sukuh. Cuacanya lebih sejuk, cenderung dingin, perjalanan ke sana menuntun kita pada pemandangan hamparan perkebunan teh yang lebih dari owsome tetapi owowowowsome!

Di sepanjang perjalanan, aroma gurih cengkeh akan membaui indra penciumanmu. Sebaiknya matikan pendingin kendaraanmu dan nikmati udara segar yang yang sangat jarang ditemui di perkotaan. Candi Cetho, kesannya lebih wah ketimbang Candi Sukuh. Jejeran gapura yang akan kita lewati langsung tampak dari kejauhan.

Letaknya di ketinggian membutuhkan usaha yang lebih keras untuk sampai ke atas. Anak-anak tangga yang tinggi, berundak-undak memaksa kaki kita untuk melangkah lebar. Keeksotisan serupa yang terdapat di Sukuh kita temui juga di Cetho. Pelambangan penyatuan lingga dan yoni di halaman dalam candi dapat kita lihat di sana.

Jika Candi Sukuh disebut candi perempuan, Candi Cetho sering juga disebut dengan candi laki-laki, mungkin karena ada kepercayaan kalau di Candi Cetho bisa untuk menguji keperjakaan—sama halnya dengan Candi Sukuh untuk uji perawan atau tidak. Sampai sekarang baik Cetho maupun Sukuh masih sering dijadikan untuk upacara umat Hindu. Terlepas dari segala mitos, mistis, historis dan kumpulan tanda tanya yang mengepung kedua candi itu. Termasuk cerita bahwasanya kedua candi ini sejatinya adalah kerajaan gaib maha besar

yang tak bisa dilihat dengan mata biasa.

“Orgasme” di Filosofi Kopi

Standar

“Ntar bisa orgasme beneran?”

Tepeng, sang barista di Filosofi Kopi (Blok M, Melawai Jakarta) tertawa nyengir mendengar guyonan saya mengomentari menu Affogato Orgasm yang terpampang di coffee shop mereka. Tentu saja, ini hanya semacam “pengundang” buat orang untuk mencicipinya. Affogato Orgasm adalah menu affogato umum namun dengan tambahan durian yang bikin rasanya lebih menggigit genit, makanya dibilang orgasm.

Saya tidak memesan menu ini—walaupun sudah diwanti-wanti teman untuk mencobanya. Bukan karena saya tidak suka durian ataupun menolak orgasme. Saya lebih tertarik untuk mencicipi Ben’s Perfecto yang menjadi menu andalan Ben (Chicco Jerikho) di film Filosofi Kopi.

IMG_0759.JPG

Seperti yang kita tahu, Filosofi Kopi adalah film yang diangkat dari cerpen di salah satu kumcer Dewi Lestari aka Dee. Dee, menurut salah satu wawancara di media mengaku Filosofi Kopi besutan Angga Dwimas Sasongko sang sutradara, sejauh ini adalah film terbaik yang diangkat dari novelnya. Walaupun sempat diragukan apakah akan “meledak”, dan memang saat press conference (April 2015) yang saya hadiri sendiri, seorang wartawan media online bertanya kepada Angga, apakah dia yakin film ini akan sukses, bukan malah menambah kegagalan di daftar film-film Indonesia sebelumnya?

Ternyata perkiraan si wartawan media online tersebut salah! Filosofi Kopi sukses besar—bahkan akan dibikin sekuelnya. Kombinasi Chicco Jerikho sebagai Ben dan Rio Dewanto sebagai Jody membuat film ini laris manis. Jalinan cerita yang apik dan agak berbeda dengan yang ada di cerpennya Dee mendapat apresiasi dari kalangan kritikus film dan movie blogger. Ditambah dengan promosi dimana tiket bioskop Filosofi Kopi bisa ditukar dengan segelas kopi—lengkap sudah!

Cerita punya cerita, membikin Filosofi Kopi membuat Angga, Chicco dan Rio jadi kegandrungan kopi. Sehingga ketiganya “menghidupkan” kafe Filosofi Kopi yang ada di film ke dunia nyata. Jadilah, penonton yang ngefans dengan film tersebut bisa mencicipi Ben’s Perfecto, sisa-sisa chemistry antara Ben dan Jody bahkan Tiwus—kopi kampung yang mengalahkan Ben’s Perfecto.

Maka, ketika saya datang ke Filosofi Kopi, saya memilih Capuccino Perfecto. Rasanya? Buat saya, Capuccino Perfecto cukup asyik, namun “kepahitan” si kopi kurang berasa. Tepeng, mas barista yang baik menawarkan Tiwus Tubruk juga.

IMG_0734.JPG

IMG_0723.JPG

“Ini kopi yang mengalahkan Ben’s Perfecto itu ‘kan?” tanya saya yang masih belum move on dengan filmnya.

Hmmm….saya bisa lebih nyambung dengan Tiwus Tubruk. Susah menjelaskan bagaimana detail rasanya. Tapi cocok saja di lidah dengan taste kopi yang lebih keluar, apalagi getir-getir biji kopi yang samar menempel di lidah. Mas Tepeng sempat mendemonstrasikan pembuatan Tiwus Tubruk. “Harus searah jarum jam dan ditunggu beberapa saat supaya rasanya keluar,” katanya sambil menuangkan kucuran air panas ke biji kopi yang sudah digerus.

IMG_0744.JPG

Filosofi Kopi tidak hanya menawarkan kopi-kopi dahsyat yang ada di dalam filmnya saja, tetapi keseluruhan film tersebut. Setting Filosofi Kopi sebagai film tidak diubah sama sekali. Di dinding menempel beberapa quote dari Jody dan Ben. Fradi Stevy adalah seniman yang menghidupkan coffee shop ini lewat permainan kata yang ditulisnya di beberapa spot. Cukup nyentrik dengan sebagian quotes yang nyeleneh seperti; good convesation’s better than sex, better than conversation better than all religions. Saya tidak tahu apakah memang missed di “r” adalah kesengajaan sang seniman atau tidak.

Juga tidak ada WiFi—persis seperti yang dibilang Ben dalam film, coffee shop untuk berbagi, bercerita dengan teman bukan terpaku pada gadget seperti yang kita hadapi di masa sekarang ini. Dan satu yang pastinya paling digemari—terutama kaum hawa, jika beruntung, pesanan kopi kita akan dibikin langsung oleh Jody aka Rio Dewanto dan Ben aka Chicco Jerikho yang tentunya membuat kopi dua tingkat lebih nikmat. Bagaimana, siap untuk orgasme?

IMG_0755.JPG