Monthly Archives: Februari 2017

Karena Sejarah Bukan Hanya Soal yang Cantik-cantik Saja

Standar
Karena Sejarah Bukan Hanya Soal yang Cantik-cantik Saja

“Ngapain ke Buru, Buru nggak bagus,” kata teman saya.

Tapi sejarah kan bukan hanya soal yang cantik-cantik saja. Malah kebanyakan sejarah tertulis dari darah dan air mata. Semenjak hobi membaca buku-buku bersejarah dan autobiografi/biografi tentang orang-orang yang dipindahkan paksa ke Pulau Buru saya jadi pengin ke sana dan menghidupkan apa-apa yang sudah saya baca.

Tahun 2012, saya pernah membuat list tempat-tempat yang ingin didatangi sebelum mati, dan saya memasukkan Pulau Buru ke dalamnya. Saya sudah hampir lupa dengan list tersebut sampai akhirnya ada rencana “dadakan” ke Ambon Februari 2017 ini.

Wah…saya bergairah sekali. Saya bukanlah pejalan yang senang membuat rencana perjalanan. Jadi tidak ada menghubungi siapa-siapa, googling tentu ada tapi tidak spesifik bahkan tidak tahu bakal menginap dimana.

Kami berangkat dengan pesawat Trigana Air dari Ambon menuju Namrole, Kabupaten Buru Selatan. Sebenarnya kalau mau menuju kawasan dimana para eks tapol tinggal sebaiknya menuju Namlea (Kabupaten Buru Utara Timur). Karena lebih dekat, sekira 15 menit saja. Tapi dari Ambon menuju Namlea hanya bisa ditempuh melalui laut yang memakan waktu 5 jam (katanya). Soalnya sedikit bingung juga sih, beberapa kali menanyakan informasi mengenai jadwal kapal yang pasti, tidak ada jawaban yang sama. Selalunya diberikan jawaban mengambang. Padahal dulu di Namlea ada bandara tapi sekarang tidak ada lagi.

Eniwei, perjalanan dari Ambon menuju Namrole hanya sekira 30 menit (bahkan kurang mungkin). Nah, dari Namrole ke Savanajaya ini yang cukup jauh sekira 2-3 jam. Savanajaya salah satu unit dimana para eks tapol tinggal. Kebetulan yang menyenangkan warung kopi tempat kami mampir adalah milik salah satu eks tapol dari Unit 1.

Sembari menikmati kopi sachet, kami bercerita dengan sang bapak dan istrinya. Sang bapak berasal dari Semarang dan menurut ceritanya dia satu-satunya orang dari desanya yang ditahan dan diborong ke Buru di tahun 1969.

“Di Nusakambangan dua bulan, saya dibawa ke Buru,” katanya.

Dia bekerja di toko buku dan dicurigai terlibat PKI, “Padahal dari desa saya banyak yang ditangkap dan diperiksa tapi saya saja yang ditahan,” dia bilang sambil tertawa. Dia bilang juga tudingan PKI banyak digunakan orang untuk menjatuhkan orang-orang lainnya. Misalnya karena jabatan, percintaan atau sekadar tak suka dengan orang tersebut. Ayah mertua sang bapak juga mengalami hal yang sama. Tapi lewat kejadian inilah dia bertemu dengan istrinya yang setahun kemudian menyusul orangtuanya ke Buru.

“Kami membuka lahan di sini. Ditanami padi, jadi sawah…”

img_2821

Kalau saya membaca, sang bapak seperti sudah terbiasa bercerita tentang pengalamannya “terjebak” di sini. Mungkin karena sudah terlalu banyak yang bertanya kepadanya? Jadinya terbiasa? Ketika saya membuka obrolan saat menginjakkan kaki di warungnya sang istri meminta saya ke dalam rumah, “Baru Pilkada, Mba…” demikian katanya. Suasana masih hangat, jangan sampai kalau didengar orang yang salah menafsirkan jadi mendidihkan suasana.

***

“Saya nggak terpikir untuk balik. Kalau di Jawa pasti mulai dari nol lagi,” jawabnya saat saya bertanya kenapa tidak balik ke kampung halaman. Sang bapak yang memiliki tiga anak ini mengaku selama di Pulau Buru pernah balik empat kali ke Jawa, setelah menjual sawahnya saat kerusuhan di Ambon 1999. Bapak berusia 74 tahun ini tidak pernah kembali lagi ke Jawa setelahnya.

Ketika bercerita tentang Jawa kampung halamannya, rona wajahnya jadi ceria, dia cerita tentang pertemuan dengan teman-teman seperjuangan dulu di Buru. Berkisah tentang pengalaman, permainan yang dilakoni untuk mengisi waktu dan lain-lainnya, “Teman-teman seusia saya yang juga memilih menetap di sini sudah banyak yang meninggal..”

Saya sering membaca tentang eks tapol tapi baru kali ini bertemu langsung dengan salah seorang yang mengalami kehidupan di Buru. Rasanya seperti menyaksikan langsung sejarah. Apalagi perjalanan yang kami tempuh start dari Buru bagian selatan menuju utara timur menyempatkan kami melihat keindahan liar dari tempat ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebagian badan jalan yang kami lewati memang bagus tapi ada juga yang curam berbatas jurang. Belum lagi liku jalan yang naik turun karena melewati pegunungan. Menjelang sore ada kabut tebal yang menyelimuti, wajib membuka mata lebar-lebar supaya bisa melihat jalan dengan jelas. Saya jadi membayangkan bagaimana para eks tapol menghadapi Pulau Buru yang masih sangat hutan di tahun 1960-an?

Ada kesenduan—mungkin karena saya terlalu banyak baca buku tentang 65 jadinya sedikit mellow, move on tapi tetap harus dituntaskan secara jantan dan bertanggung-jawab. “Tidak bisalah kalau hanya minta maaf,” katanya, masih dengan logat Jawa yang medok.

Iklan

Bikram Yoga Menyelamatkan Hidup Saya!

Standar
Bikram Yoga Menyelamatkan Hidup Saya!

Mungkin terdengar terlalu lebay, tapi seperti itulah yang saya rasakan saat bergabung dengan komunitas Bikram Yoga di Kuningan pertengahan 2013. Ya…saya pecinta olahraga dan sejak 2009 rutin lari pagi saat tinggal di Medan dulu. Ketika pindah ke Jakarta dan tidak punya waktu untuk lari pagi karena bangun saja sudah jam 5 mau lari jam berapa lagi? Saya memutuskan untuk memindah jadwal lari ke sore.

Jadi setiap pulang kantor (Kuningan) saya lari menuju arah rumah (Daan Mogot). Tapi tidak sampai Daan Mogot ya—saya belum segila itu, paling hanya sampai Pasar Senen, Grogol, Central Park, Monas, tergantung rute yang saya ambil.

Saya menjalaninya setahunan lebih. Oh, ya di masa itu saya sering gabung di event lari. Waktu itu biaya pendaftarannya masih murah sekira Rp 50.000 – Rp 100.000 untuk jarak 10 Km. Kadang juga gratis pas ulang tahun Jakarta atau kemerdekaan Indonesia. Di pertengahan senang-senangnya dengan lari, kaki saya keseleo pas lagi lari dari kantor menuju rumah. Pokoknya sampai tidak bisa dipakai lari lagi. Padahal sudah diurut oleh tukang urut yang berbeda.

Beberapa hari saya absen lari, saya mulai berpikir untuk mengganti jenis olahraga. Akhirnya saya memilih sepeda! Waktu itu saya tidak mau terikat dengan industri gym dimana kita harus bayar mahal untuk keringatan. Mulailah saya dengan hobi baru sepedaan dari kantor – rumah – kantor. Saya sampai memberi nama sepeda saya Eross—dari Eross Candranya Sheila On 7.

Bersepeda menolong saya terutama saat banjir yang biasanya datang di akhir/awal tahun. Bersepeda membuat saya bisa menembus banjir karena Jalan Daan Mogot mati total, tidak bisa dilewati kendaraan.

Namun seperti alaminya, dalam berpacaran saja ada rasa bosan apalagi aktivitas fisik yang tidak melibatkan “rekan latihan”. Di saat saya jenuh itulah, atasan saya menawarkan voucher Bikram Yoga di Epicentrum Kuningan. Jujur ketika ditawarin voucher gratis tersebut saya tidak tertarik. Pertama, saya pernah mencoba berbagai jenis yoga saat liputan dan tidak ada yang sreg. Buat saya olahraga itu ya keringatan dan beberapa kali gabung di kelas yoga, tidak ada keringat yang mengalahkan lari ataupun sepedaan. Selain itu, dulu saya menolak industri olahraga yang menguras kantong hanya demi memenuhi tuntutan gaya hidup.

Kelas pertama saya di Bikram Yoga membuat saya kewalahan. 90 menit paling melelahkan dalam hidup saya! Pusing, mual dan seperti dehidrasi, soalnya suhu ruangannya mencapai 420 Celcius. Yang artinya panasnya benar-benar gila!

Kelas demi kelas saya lalui. Walaupun batas kelas dalam voucher sudah terpenuhi, saya memperpanjang durasi karena ketagihan dengan latihan fisik ini. Hal-hal yang saya senangi dari Bikram Yoga yang membuatnya berbeda dengan olahraga lain adalah bagaimana setiap posenya menghubungkan antara pikiran dan fisik.

Saya merasakan perbedaan setiap kali melipat tangan sebelum dan sesudah berlatih yoga. Dulu, sebelum beryoga saya tidak merasakan koneksi apa-apa setiap kali menautkan jemari. Setelah yoga, saya merasakan koneksi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Keringat yang mengucur deras, koneksi, kelelahan yang luar biasa karena tubuh dilipat-lipat sedemikian rupa seturut dengan 26 posenya, ada lagi yang saya senangi dari Bikram Yoga yaitu kata-kata bijak dan penuh motivasi yang sering diucapkan guru di terakhir kali pose Savasana. Saya seolah mendapatkan ilham dan pencerahan setiap kelas berakhir. Tak jarang saya men-tweet apa yang diucapkan guru saking terinspirasinya. Waktu itu saya merasa guru-guru saya sangat bijaksana dan hidupnya pasti penuh dengan keseimbangan.

Tahun demi tahun berlalu, saya tidak hanya menjadi sekadar murid tapi juga bergabung dengan komunitasnya. Mengenal beberapa murid, akrab dengan sebagian guru lalu intens berkomunikasi, mengobrol tentang yoga dan kehidupan personal.

Pada akhirnya saya menyadari, kita semua hanyalah manusia biasa yang berusaha bertahan hidup. Mengumpulkan serpihan demi serpihan, melupakan dan berdamai dengan masa lalu, beraktivitas fisik (baca: olahraga) demi menghasilkan hormon endorphin supaya bahagia.

Saya sampai saat ini percaya aktivitas olahraga—apapun itu dapat melepaskan stres. Jadi, orang-orang yang berolahraga tidak hanya termotivasi supaya mendapatkan bentuk badan ideal ataupun sekadar mengikuti gaya hidup tetapi efek bahagia selepasnya yang membuat kita kecanduan.

Saya menyebutnya lelah yang membahagiakan

img_20161201_162036

Pernikahan Jo

Standar
Pernikahan Jo

Tidak seperti pertemanan pada umumnya, kami tidak memiliki banyak foto yang menampilkan kebersamaan. Aku tidak pernah menjadikan foto kami sebagai foto profil di telepon genggamku. Tidak seperti kebanyakan sahabat pada umumnya, kami jarang berfoto sama lalu memajangnya di Facebook. Seperti sebuah proklamasi kalau kami adalah sahabat. Tidak. Pertemanan kami tidak seperti itu. Kami bukanlah tipe sahabat yang senang memamerkan pertemanan kami dengan menghabiskan weekend sembari nongkrong di kafe,  ngobrol ngalur-ngidul. Merayakan ulang tahun bersama, bertukar hadiah, Oho, itu bukan kami.

Kami jarang keluar bersama. Mengobrolkan kenapa Brad Pitt meninggalkan Jennifer Aniston, kenapa SBY masih jadi presiden, kenapa Rooney Mara tidak memenangkan Oscar—tidak pernah. Untuk hal-hal yang kukatakan tadi kami punya teman masing-masing. Meski intensitas pertemuan kami dinilai minus untuk ukuran sahabat tapi dia selalu jadi orang pertama dan terakhir yang kuhubungi ketika aku sedang ada masalah. Begitupun dia. Kami teman duka bukan suka.

Bila terjadi sesuatu dengan yang lainnya, salah satu dari kami pasti segera datang, menjumpai, menghibur dan membantu. Yah, begitulah kami. Persahabatan antara aku dan Jo. Aku sering melihatnya dari kejauhan untuk memastikan dia baik-baik saja. Begitupula dia. Sering sebelum tidur aku mendapati pesan masuk di telepon genggamku menanyakan kabar. “Ada cerita apa hari ini? Apa semuanya baik-baik saja?”

“Apa kabar Mas mu?” Dia menanyakan pacarku, Bimo.

Aku pun balik menanyakan Sekar pacarnya.

“Ukurannya masih sama 34D hahaha…” Itu jawaban Jo.

Maka setelah beberapa sms hahahihi lainnya,  pesan ditutup dengan ucapan selamat malam, mimpi indah.

Aku akui, kami tidak cukup intens sebagai teman. Tapi untuk seseorang yang setiap malam kau mengucapkan selamat tidur, teman yang selalu kau cari ketika sedang bertengkar dengan pacarmu ataupun di-bully di kantor, masakan kepada dia kau tidak memberitahu hari pernikahanmu?

Maka, aku di sini, di kafe tempat kami kemarin duduk, curhat habis-habisan tentang Bimo. Jo mengaduk chamomile tea-nya dengan enggan. Whipped cream minumanku sudah melumer dari sepuluh menit yang lalu. Aku menatap tajam Jo yang membisu.

“Aku tahu dari Wiwid dan Angie kamu menikah Sabtu depan,” aku menyebut dua teman kantor kami.

Jo diam, menunduk  masih mengaduk chamomile-nya.

img_0176

“Dan itu bukan Sekar…” aku seperti orang bodoh yang berkata-kata sendiri. Aku kembali menatap Jo tajam. Jika Jo kertas, sudah sedari tadi dia tercabik-cabik oleh tatapanku.
Aku menghentikan tangan Jo yang mengaduk-aduk tehnya, “Jawab aku Jo, pertama, kamu nggak cerita ke aku kamu akan menikah,” aku menarik napas sejenak, “kedua kamu nggak menikah dengan Sekar!”

Jo melepas peganganku, “Sudahlah Kenes, nggak usah berlagak bodoh! Aku nggak cinta sama Sekar,” kata Jo kecut. Dia menatapku sinis dan memalingkan muka.

Aku menatap arah pandang Jo, ke dua kursi tempat kami biasa duduk. Kali ini tempat biasa kami itu diduduki orang lain makanya kami tidak duduk disitu. Tempat dimana aku curhat tentang Bimo pada Jo.

“Lantas, apa kamu mencintai orang yang akan kamu kawini ini?” bisikku pelan. Pertanyaan yang sesungguhnya tak membutuhkan jawaban.

Jo menatapku dengan tatapan nanar, “Menurutmu?” desisnya sinis.

Aku ingin menangis tapi kutahan. Jo yang selalu melindungiku berubah renyuh. Semenjak aku menikah dengan Mas Bimo, aku berhenti kerja dan untuk waktu lama tidak berkomunikasi dengan Jo. Kami sama-sama tahu apa alasannya. Ya, semenjak malam itu. Tapi kami tak mau membahas malam itu. Malam setelah aku curhat habis-habisan tentang Bimo.

Jo tidak menghadiri pernikahanku. Padahal aku sudah menyampaikannya langsung. Tapi dia malah merobek undangan itu, meremuk dan mengempaskannya ke tong sampah. “Lebih baik aku mati ketimbang datang!”

Kini apa dia mau membalasku? Aku tahu informasi Jo akan menikah tanpa sengaja. Saat aku berada di Hypermart membeli bahan makanan dimasak untuk makan malam, aku berjumpa Wiwid dan Angie. Di tengah obrolan, mereka cerita kalau Jo akan menikah. Hampir saja aku menjatuhkan telur yang sedang kupilih. Aku begitu terkejut. Shock tepatnya. Aku tak pernah berpikir Jo akan menikah. Maksudku semua orang bakal menikah, tapi secepat itu? Setelah malam itu?

Lamunanku buyar, aku mendengar Jo menggeret korek api, menyalakan rokok.
“Sudah berapa bulan?” Jo melirik perutku.

Wajahku memerah, “Baru satu bulan…darimana kamu tahu?”

Jo mendengus, “Kamu nggak mesan double espresso favoritmu…”

Jo mengembuskan asap rokoknya ke samping supaya tidak mengenai aku. Tiba-tiba saja kami terdiam diterpa jeda yang luar biasa. Pernikahan Jo tidak lagi jadi topik percakapan. Aku memerhatikan Jo, rambutnya sudah sedikit lebih panjang dari terakhir kami bertemu. Aku menatap matanya yang bulat penuh dengan bulu mata panjang lentik. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang penuh. Mataku turun ke lehernya. Aku masih ingat aroma lehernya yang kucium malam itu. Astagfirullah, segera kutepis pikiran itu.

“Jadi…” Jo tersenyum nakal, “…enak main sama dia?” Jo terkekeh dengan gaya menjijikkan. Aku terperangah mendengar kata-kata itu meluncur dari mulut Jo.
“Maksudmu???” suaraku meninggi.

“Lebih enak mana ketimbang malam itu?” kata Jo cepat.

Ingatan enam bulan  lalu menyeruak, membongkar benteng-benteng yang kubangun untuk menjaganya agar tak keluar dari memori. Malam itu seharusnya menjadi malam yang biasa. Malam dimana aku datang pada Jo dan curhat tentang Bimo. Malam itu seharusnya aku menangis saja, memuntahkan semua rasa kesalku.

Jo seperti biasa merokok sambil mendengar celotehanku, menenangkan dan mengantarku pulang dengan motornya. Jo yang selalu seperti biasa membatalkan janji dengan Sekar pacarnya supaya bisa menghibur aku temannya. Seharusnya cukup sampai disitu saja. Aku membiarkan motornya berlalu tidak menahannya karena hujan. Kalau aku tidak menahannya mungkin kami bisa tetap berteman seperti biasa. Bahkan Jo bisa menghadiri pernikahanku dan dia tak perlu menikah dengan orang yang tak dicintainya. Malam itu seharusnya aku membiarkan Jo langsung pulang, meski hujan. Tapi keegoanku menyuruh Jo tinggal di rumah. Memintanya menginap atau setidaknya menunggu hujan reda. Semata-mata bukan hanya bentuk kepedulian, ada hasrat terselubung. Ada libido yang sudah lama mengendap dan menunggu ditetaskan. Semua tentang Jo. Kebaikannya, keberadaannya, bau tubuhnya yang wangi dan wajahnya yang rupawan hanya nilai plus saja. Dan terjadilah malam itu. Tangan Jo yang dingin membekap pipiku mendekatkan ke wajahnya. Aku mengelus punggungnya, meraba celah di dadanya, ke bawah perutnya.

Semua terjadi begitu cepat. Seperti gasing yang berputar. Kepalamu dipenuhi dengan sensasi baru yang belum pernah kau cicipi sebelumnya. Kau takut tapi juga mau. Kau ragu tapi juga ingin tahu. Maka kau putuskan untuk mengikuti nalurimu. Menjelajahi ruang-ruang yang tabu dimensi yang dulunya kelabu semua membuka lalu meluruh. Pernahkah kau merasakan bahagia yang diselimuti rasa bersalah? Kami berbaring berpelukan dengan perasaan yang sukar dijelaskan. Lega yang membuncah meluap pecah. Jo memelukku erat sangat dekat sampai aku bisa mendengar tetak-tetak kehidupan di dadanya. Mencium aroma familiar yang biasa kucari-cari di ruang kantor. Kami dekat tapi sekarang jauh-jauh lebih dekat. Seperti aku yang bernafas, jantung Jo yang berdetak.

Cinta adalah sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hanya hati yang mampu mengungkapkan apa itu cinta. Sayang hati tak mengenal abjad jadi hanya bisa merasa, mendata dan membekapnya dalam asa.

Hatiku merasa aku mencintai Jo.
Jo mengelus kepalaku, nafasnya yang hangat menyapu pipiku.
“Kenes…”
“Ya…”
“Tinggalkan Bimo…”

“…..”
“Tinggalkan Bimo dan hiduplah bersamaku…”

Aku mengerjapkan mata, menyiapkan pipi sebagai landasan air mata. Malam itu malam terindah dalam hidupku. Seperti banyaknya cinta absurd yang bertebaran di hidup ini demikian juga cintaku dan Jo.

“Aku nggak mau membuat membuatmu menangis..” kata Jo.

“Kalau begitu berhentilah bertanya tentang malam itu!”
Aku menarik nafas, mengembuskannya dan menata kata-kata, “Kita sama-sama tahu…kalau itu adalah malam paling indah..” aku menelan air mata yang jatuh ke sudut bibirku.

“Jadi, nggak ada masalah ‘kan? Kita sama-sama menginginkannya Kenes…” Jo memegang ujung jariku, menekan-nekan telunjukku dan menciumnya penuh getar.
“Kamu… tahu Jo…” kataku sedih.

“Apa?” Jo tiba-tiba teriak, “karena aku tak…” aku segera membekap mulutnya dengan tanganku, “Pelankan suaramu Jooooo..” bisikku.

Jo mengenyahkan tanganku dari mulutnya, “Sudahlah Kenes, tidak ada yang perlu dibahas lagi…” Jo membuang rokoknya ke asbak tanpa mematikan baranya.
“Kita sudah tahu, sama-sama tahu, tak ada yang perlu dibahas lagi. Kamu dengan Bimo dan aku dengan pilihanku…”

Aku menangis. Hatiku sangat pedih mendengar kata-kata Jo. Kenapa dia memilih menikah dengan orang yang dulu menyakitinya hanya karena rasa kesal aku menikah dengan Bimo?

“Tapi Jo…kamu ‘kan nggak bisa menikah dengan dia…” aku frustasi.
Aku ingat Jo pernah cerita tentang pengalaman masa kecilnya. Disakiti orangtuanya.
“Mungkin dia tak sama dengan orang jahat itu…” sahut Jo.
“Aku…” belum selesai aku bicara Jo sudah memotong, “Memangnya kamu mau menikah denganku?” tantang Jo.

Aku menatap Jo dengan pilu. Dadaku perih seperti ditusuki ribuan peniti. Aku diam karena aku tahu kami tidak punya jawaban untuk itu. Aku tidak mungkin menikah dengan Jo bukan karena Bimo. Karena Jo adalah Johanna…

Jo lagi-lagi mengaduk-aduk chamomile-nya. Pasti sudah dingin, tidak enak untuk diminum. Seperti suasana saat ini.

“Jo..” aku membelah hening di antara kami, “pesankan aku double espresso…”

img_0608

Maret 2012
(Cerpen)

All I Want is Your body, You Should Not Ask for My Heart…

Standar
All I Want is Your body, You Should Not Ask for My Heart…

I can only ask this question in my mind and swallow up saliva or just let it float together with my cigarette smoke—Marlboro Light, which I throw up, phuuh….

Maybe I was wrong. Yes, I was wrong, indeed. Why have I aroused love in your heart? Letting you step into my life, melt and walk in my line. Oh, dear, all I want was just to have fun, but you asked for more. If only you could have felt enough with that, we would have been still together.

Then we might have been sitting in front of your house.. Holding hands under the moon light, with shadows of our hugging each other. Then, we might have been sharing about our day and laughing about it, while wiping your cheek and kissing your red lips with my dark lips.

Then, in the midnight, I will kiss your fore head tenderly and say, “Good night and sweet dream.” Hoping night will run fast and morning comes to reunite us again. “I don’t want a commitment. I like you, but I don’t want to take a serious relationship. In this time, just let it flow and see what time will decide for us,” most of my voice swallowed by the blowing winds. We were still on my motorcycle and your arms still hug me closely.

“It’s okay, if you want like that. I can handle it,” you said after clamming up in few minutes.

And a story about us started. One after one was tied becoming a whole tale.

***

I was imagining, we were kissing in the cinema with the movie’s scenes rolling and the yell of people who are watching the movie as the back sound while I was looking for tongue in her mouth. And then I would be hugging her so deep, smelling her neck and pouring kisses there.

This scene was playing in my mind when our eyes were staring at the cinema screen closely. There was no real kissing, or even hugging. She’s just yelling and closing her eyes and hiding on my shoulder. One day we were making a different story, riding under drizzling rain, passing a night with the roar of motorcycle.

We were passing Djamin Ginting road, moved to Pasar I, Pasar II and other Pasar until we met Simalingkar junction into the red sector. The motel’s wall sent me a shagging flavour like asked me to stop and bring my girl to the adventure of lust. We exchanged sweat on crumpled sheet, shared a breath in every second our skin met.

“Do you hear what I am saying to you?” A reality slapped me. Her voice stopped my imagination. I didn’t stop my motorcycle at the red sector. We kept going and leaving warm wall which called other couples.

In different time, we enjoyed a cup of Bandrek at Bandrek Sahid. Her favourite was Bandrek Susu with sweet bread, as for me a bowl of mung bean.

I remember she always blew scoop by scoop my mung bean before I ate it.

“It’s very hot,” I said.

“I will cool it for you,” her hand took my mung bean.

Tenderly, she took the beautiful hand held of a stainless spoon and scooped it closer to her red lips then blew it. The fume of mung bean framed her ovoid face. Her lips blew a warm breeze and cooled the mung bean.

Like before, my mind played in a dirty way. I wish I were a mung bean so I could taste her breathe on my body and her tongue licked my skin.

“You can eat now.” The spoon in front of my face ruined my dream. I didn’t have any choice but to keep the imagination of my lust.

wis_img_6196_november-24-2012_02

***

You need to praise and criticize her, put yourself in her position. Let her think that you are the only one who understands her. If you do that you will make a woman madly in love with you.

Believe me, I have played this game more than a quarter of my life. It’s not a flattery that makes a woman decide to let herself falling for a man. A woman will melt when a man gives a kiss in her dreams and purpose, follow her laughs and wipe her tears.

I assume myself an eagle which likes adventures. I don’t want to tie myself up with any woman yet. I could not stay in one place. I am a pleasure seeker, a women hunter, enjoy them and leave them without regrets. Finishing chapter by chapter, saving them as a story for my memory book and be proud of it someday.

Actually, even she’s just a chapter of my book she’s different from else I know, indeed. She’s not a hooker who often warming my lonely nights in karaoke toilet. She’s not a kind of woman who has regular sex.

She looks like a white holy paper that makes me want to write something in. About anything. Happiness, painful or may be just shatter it and throw it into trash can. I am Jean Baptiste Grenouille1 who is inflamed just because of her scent. I don’t want to possess her. I just want to feel and taste her. The body.

“Why do you like me?” One night I asked a random question. In front of her house when moon light shines over us and my big hand holds hers. Her eyes twinkle with her lips still warm and blush because of our kisses. I didn’t know why her looks was so shiny, it might be because of the moon light or the love madness.

She looked embarrassed looking at me in the moment and turned her face looked at my hand which was wrapping hers.

“Please, don’t laugh….” she murmured, whispered.

“What?”

“For me you are another number three in my life. All this time I hide behind a root. Meeting you releases me from a curse of root. I don’t need to hide from the sun as 1,7321 anymore. With you, I will be an integer.”

“Hah? What did you mean? Number three? A root?”.

She sighs. Looking at me like I am a primary student who could not understand when the teacher teaches about arithmetic.

“The point is you complete me. Meeting you was like finding a part of me which lost….”

“My dear, nothing lasts forever. We should ready if someday we must face a good bye…”

“Where will you go?” suddenly shine on her face disappears, she looks worried.

“I’m not going anywhere..” I cut her word with a long deep kiss.

***

Someone tells me if you could kiss a girl on her lips so you can sleep with her. I don’t know if it’s true or wrong but I always sleep with girls whom their lips I kissed. She refused me the first time I wanted to kiss her lips.

“Why, so fast…” she made an excuse.

“If life is so short why don’t you let me love you before our time has gone 3. What if 2012 is the end of the world?

“Ha..ha..” she laughed. And with her laugh we were melting in the beautiful and lovely symphony. Releasing everything and becoming one breathe. Dancing an old dance that has been there since Adam and Eve. In the ancient way and sang the same old song.

“I love you…”

***

A cigarette smoke which I breathe out floated in night sky. Marlboro lights. The taste is not too bitter but light and suitable with people who want to quit smoking.

“I like the flavour. It smells good, may be just because it is mixed with your sweat,” she said that.

Really, I was surprised enough when her chapter almost finished. It should be a few more pages before the end. But she made one mistake. She asked more.

Her tears dropped and filled her eyes. She was crying sadly and painfully. She shouted million questions, “Why?” I was sorry, I could not wipe your tears. I would let the wind wipe it. And rain would erase memories about me in her mind.

My lovely dear, all I want is your body you should not ask for my heart….

 

2013

(Cerpen)

 

Groupies

Standar
Groupies

Jo sometimes thinks that his profession as a writer may have stronger fans like the singers or bands or movie stars, and this type of fans called groupies. The groupies, usually women, are willing to do anything for their idol. Maybe Jo and his writer friends do not have a huge sexual magnet like Ariel Peterpan or John Mayer. Instead some of them have below standard appearance and no records as Don Juan of the school.

It is not a secret that women readers are attracted to their capacity in developing stories. In fact, they adore Jo and his writer friends because of the bullshits that are written. These groupies are building them with high imaginary profiles as smart hot rebellious gentlemen with great idealistic writing skills that must be conquered, hence worthy to fuck with.

Some of Jo’s friends are exploiting this condition in many occasions either to fulfill their lecherous needs or just fooling around.

“We happy, they are happier, Jo!” said Pring.

“It’s very fun, Jo. Not all of them are stupid though. Some are smart ass, to fuck with them is like brainstorming,” joke Wesa, defending himself.

Jo just smiled when hearing it. He tries not to give a shit for all dirty chats they did and with whom they have slept with and what they did in those nights. He tries to ignore and delete all details his friends share with him from his mind.

He is neither a hypocrite nor a holy man. But he is definitely not a man like Pring or Wesa who occasionally mis-used their charms on women readers for personal pleasure. He ever heard a specific rumor about Wesa, from an unknown source, saying that Wesa likes to do something naughty after presenting public speech at colleges. If a woman calling him “sir” during the first day then changed it to “mas” on the next day, it means they have already slept together.

Actually, not all writers like to share their experience with the groupies. Some of them prefer to keep quiet and regard it as just small cheats, and personal stories that should not be shared with others while drinking beers.

Many of his friends perceive Jo is a cold fish, with flat face, zero expression. Jo just smiled when he was listening to their comments.

“Look…even when you’re laughing you lost your expression!” Wesa said.

He spontaneously closed his lips tightly in one line. He was afraid that when he put a smile, they would add further his smile was like ‘bread without jam’.

Jo spent his childhood as a quiet boy and not a very active student. He loved the unseen activity like hiding in the library with books in his hands. Talking with books has always been more fun than having a limitless conversation with friends in canteen. Same like writing which was a fulfilling thing more than boobs or butts discussion in toilet with few boys while smoking.

Maybe this is a reason why Kintari couldn’t stick around beside him. At their fifth anniversary they got divorced.

Jo….many things that are more important than your moron books…”

Her words were not more hurtful than the fact that she would leave him for good. Jo tried not to give any shit for what she said when they were still together. It was like a new hobby for Kintari to abuse him with bad things about his profession.

Stop daydreaming! Put your feet back on earth, you should have gotten a better job with your diploma…”

“You were screaming out there criticizing the government yet no food on the table for your daughter and wife to eat. This is the next most ridiculous thing I knew after what the college students done after the demonstration to step down the old man from his chair!”

“Stop hanging around with your writer friends Jo, didn’t you see how the other side of actions they had performed in their lives? They tried to straighten up the government’s bended rules but their own genitals were screwed in holes didn’t belong to them!”

img_20161201_135310

As always, Jo kept his mouth locked whenever Kintari vomited her frustration. He would find it odd when she did not complain in a day. Then arrived the day when everything changed. She stabbed him hurtfully with her words. He came to that it was the final acceptance he could handle from her. He questioned himself, whether Kintari was the same woman he brought into marriage institution? The same woman who hugged his first novel when it was published for the second times? The same woman who gave him the best blow job ever? Because only Kintari, the woman he ever slept with. The same woman who always cheered him up every time he prepared to meet publisher. And the same woman who kissed his laptop before pressing the send button every time he sent his writings to medias.

Now everything was destroyed by one word when she hit the cruelest thing. “Don’t you have any shamed? My salary is higher than you but you are the man in the house?”

Bam!! Something knocked him down right at one strike. He lost his ability, self-confidence and the worst was he felt something important has been pulled out from deep inside his heart. Something that he knew since long time. The warm familiar feeling that has been living inside which gave him confidence that no matter what it would never vanish. It took only one sentence from once he thought to be his other half. How could love gone in such an easy way?

Since Kintari moved out with their daughter, Jo has never tasted love anymore. Though, losing the love of his life, never stop him from writing. Even without the lucky kiss from a beautiful woman on his laptop.

Everything was normal until something happened. He met Lokita when he was attending Wesa’s new book launching at an artsy café in Kemang. Her profile and gestures reminded him of Irshad Manji, a woman writer that many years later was raided in the middle of discussion at Pasar Minggu. Jo thought that she has a face as calm as a lake, face. Pretty enough even with her boyish style.

She greeted him nicely, “You are the writer of…” she mentioned one of his novels that he wrote after separated with Kintari. Joe nodded and again smiled—a smile that Wesa and Pring claim as like bread without jam. Suddenly her calm face became bright. She showed a full expression like a kid given balloons. Excitedly she grabbed his hand and telling him something that often he has been hearing from his readers.

“I cried while reading your novel, Mas…”

“I love the last dialogue at the end of the novel…”

Like before, he just nodded and didn’t give full reaction. He got something more important in mind. Was it any fruit ice on the table? Why this event took a very long time? Could he cancel his plan with Wesa and friends to go for drinking? What would be the best ending for his new on-going short story? Should he delete the last thing that he added on it or not? Many thoughts were coming and going when Lokita is still talking to him. She shows that she enjoys his book. Like a good stalker, Lokita always there during any discussions or art performances where ever he attended. It does not require longtime, Lokita has succeeded stealing his attention. He feels like something warm is coming back into his heart. The old lost feeling. Lokita is not an ordinary fan that is just following an idol. Admired by his writing then regard that her writer is a demigod—honestly Jo knows it better that almost all writers are full of shits. They sometimes don’t even know exactly what they are writing. Using difficult words, poetical heavy stuff to fool people that want to be fooled.

Thank God Lokita is different. She has a childish side that melt Jo’s heart down. She is a good partner of discussion. Sometimes she looks like she knows everything in this world, but at other times she is like a just born baby. There is always something new about Lokita, he never get bored with her.

Jo finds new happiness everytime he sees Lokita at the events which he attends. His heart is full of blissfulness since he met her. Sometimes he feels desperate because of his secret feeling on her. He wants to explode his feeling but he is afraid what would happen after that? Sometimes he feels like there are unseen threads stitched on his mouth.

Love is a beautiful yet pain thing that could ever happen, right?

After a long time he finally found a woman that make him feel the beat again. Nervous, doubt, don’t know what to do. When he eventually was able to manage his emotions and got brave enough to tell Lokita about the truth, she is gone. She never showed herself. Like the wind blows. Not knowing when it comes and where it goes.

Again, he disappointed. He no more saw Lokita during the weekly discussion where he and his friend always visited. He looked sad and no passion. No writing he could finish in the week.

Deadlocked. He failed to find an ending for his short story.

This time is a different. He never felt like this before. When his marriage with Kintari is over, he has never lost his writing appetite. He was still able to continue writing. Lokita is different. She has ruined his writing rhyme. He lost his alphabets. Lost his taste in words. He doesn’t know that Pring and some friends notice his changes.

“Why you looked so fucked up? Just like Wesa…”  said Pring.

“Hah? What happened with Wesa?”

Pring laughed, “Ah, seems like you don’t know him well…he got a fight with his girlfriend…”

Jo shrink, “You mean his wife?”

Pring giggled, “Hahaha…noo…girlfriend. In your term is groupies. But this is a different woman, Wesa is crazy in love with her…”

“Who is she?”

Pring’s answer felt like bowling balls repeatedly pressing down within his chest. One by one, sentences are sewed creating a complete story. The frequent meetings, good discussion with unlimited learning, everything becomes clear. The warm thing that was in his heart has gone. Again, he felt emptiness inside. He lost the love of his life but he definitely found an ending of his short story.

2017

(Cerpen)

 

 

 

Tetap Terhubung Dengan Medan

Standar
Tetap Terhubung Dengan Medan

Sebagai orang Medan yang kebetulan menetap di Jakarta, saya sering merasa kehilangan benang merah dengan kota tempat saya dibesarkan ini. Medan sudah banyak berubah, lebih genit dengan make up modernnya yang lebih tebal. Terkadang saya merindukan Medan yang dulu, yang tempat nongkrongnya itu-itu saja yang mallnya masih Medan Plaza serta hal-hal jadul lainnya.

Tapi…kita tidak bisa menahan perkembangan zaman ‘kan? Makanya setiap kali punya kesempatan ke Medan saya berusaha untuk tetap terhubung dengan kota ini dengan mendatangi 7 tempat ini….

  1. Sarapan Mie Balap di Pasar Tradisional

Mie Balap adalah istilah untuk mie goreng di Medan. Pilihan Mie Balap ada mie kuning, mie hun ataupun kwetiau. Tidaklah susah menemukan sajian Mie Balap di Medan. Tapi favorit saya ada di Jalan Setiabudi di dekat Pasar Paginya.

mie-balap-salah-satu-sarapan-wajib-coba-di-medan-lho

  1. Mencicipi Kopi Antik di Repvblik Coffee

Pertama kali datang ke cafe ini saya ingat untuk kebutuhan liputan. Sejak itu saya jatuh cinta dengan paduan kopi susunya yang legit sekaligus pahit. Suasana antik akulturasi Melayu dan Tionghoa bisa dirasakan ketika ngopi di sana. Membuat saya betah berlama-lama di sana.

kopi-vietnam-di-repvblik

  1. Melihat Senja dan Burung-burung Bangau di Komplek Cemara Asri

Komplek Cemara Asri adalah salah satu pilihan terbaik menghabiskan sore di Medan. Bukan untuk alasan romantis tapi memang pemandangan senjanya cukup lumayan. Apalagi ada banyak burung-burung bangau yang menambah asri lestari suasana.

pemandangan-burung-burung-bangau-di-cemara-asri

  1. Mengunjungi “Sumber” Sebagai Pusat Aktivitas Para Mahasiswa/wi Universitas Sumatera Utara

Pernah dengar istilah; kalau pernah bawa kendaraan di Medan berarti kamu bisa bawa kendaraan di mana saja di Indonesia, itu benar sekali dan Sumber bisa jadi salah satu lokasi untuk merasakannya hehehe. Sebenarnya sih, mengunjungi tempat ini lebih ke alasan kenangan saja, mengingat sering melewati jalanan sempit dan melawan arus dengan sepeda motor di sini.

uji-nyalimu-membawa-kendaraan-di-sumber

  1. Menyewa Buku di Taman Bacaan Spirit

Spirit lebih dari sekadar tempat meminjam buku karena di sinilah lokasi penelitian skripsi saya. Tema skripsi saya adalah Motivasi Pembaca Novel Harlequin dan Kebutuhan Afektif. Pemilik yang ramah dengan pengetahuan literasi yang luas membuat asyik berlama-lama di sini.

menemukan-buku-buku-andalan-dan-teman-baik-di-taman-bacaan-spirit

  1. Menyantap Bakso Amat di Jalan Juanda

Penggemar bakso bakal orgasmik di sini! Bakso Amat di Jalan Juanda memang paling memuaskan, suwiran dagingnya mantap, baksonya kenyal dan empuk terutama rasa daging di baksonya amat terasa.

sluurp-bakso-nikmat-bakso-amat

  1. Mencicipi Sate Seafood di Pasar Sambas

Sebagai penggemar sate sayang sekali kalau melewatkan sate paling jempolan di Medan yang ada di Pasar Sambas. Ada bermacam pilihan daging, salah satunya seafood. Bikin sate ini beda dengan yang lainnya adalah kuahnya yang kental dan pedas. Ngeliatnya saja sudah ngiler..sate-seafood-di-pasar-sambas

 

Hujan yang Paling Menyedihkan

Standar
Hujan yang Paling Menyedihkan

Hujan tidak pernah turun sesedih ini. Bagi Kus, ini adalah hujan paling menyedihkan sepanjang hidupnya. Sudah dua tahun lebih tidak ada kabar dari Ratih. Biasanya kalau setiap hujan Kus dan Ratih mojok di pos satpam sambil makan bakso seharga lima ribu perak. Semenjak Ratih pergi ke Malaysia tidak ada lagi yang menemani Kus makan bakso. Bukan karena Kus tak punya teman. Kus punya banyak teman, karyawan-karyawan yang bekerja dengan Engkoh di bengkel. Tapi bersama Ratih Kus tidak hanya sekadar ditemani tapi juga “dihangati”.

Ratih sering membiarkan Kus mereman-remas teteknya yang besar mengkal. Bila Ratih sedang baik-baiknya, Kus diperbolehkan memasukkan tangannya ke balik celana dalam Ratih. Pernah suatu kali saat bermesraan, Kus dengan nakalnya menyelipkan tangannya ke balik rok kembang milik Ratih. Seperti biasa, celana dalam Ratih selalu basah setiap kali Kus memain-mainkan tangannya di situ. Namun kali itu lebih lengket dan Kus mendapati benda kenyal warna merah seperti jeli di sana. Ternyata Ratih sedang datang bulan!

Terlalu dangkal rasanya kalau hanya alasan itu yang membuat Kus merindukan Ratih. Kus bisa kok memegang tetek dan kemaluan perempuan-perempuan nakal yang biasa nongkrong di pertigaan jalan. Yah, walaupun dia harus menyisihkan dua ratus ribu. Makanya, soal dia bisa dapat gratis dengan Ratih hanya nomor sekian. Terpenting di antara itu semua adalah Kus cinta sama Ratih. Kalau perasaan-perasaan berikut bisa dikatakan cinta.

Berdebar-debar, ingin selalu dekat, sudah rindu bukan kepalang bila barang sejam tidak ketemu, ingin Ratih menjadi miliknya seorang. Tidak boleh ada yang memegang-megang Ratih, tidak juga Gun teman kerjanya di bengkel apalagi Engkoh. Ya, Kus tahu, Engkoh sering dengan sengaja menyenggolkan tangannya ke pantat Ratih. Mata sipitnya menatap Ratih penuh gairah. Walaupun tidak kelihatan, Kus tahu, burung Engkoh yang sudah keriput itu selalu menegang setiap kali rok Ratih sedikit tersingkap atau Ratih menunduk sehingga menampakkan teteknya yang montok itu.

“Makanya kamu nggak usah pakai baju yang pendek-pendek gitu…!” kata Kus sedikit membentak. Kala itu tertangkap Kus Engkoh menjawil tetek Ratih saat Ratih menyuguhkan minuman untuk Engkoh. Selepas itu Kus langsung menarik Ratih ke belakang dan memarahinya.

“Jangan marah-marah Mas, takut aku kalau Mas marah-marah,” balas Ratih dengan nada sedih.  Kus tidak marah. Dia cuma mau Ratih menjadi miliknya saja.

Biasanya selepas kerja, menjelang magrib, mereka mengaso di taman dekat bengkel. Membicarakan masa depan yang entah kapan bisa diwujudkan. Kus senang mencium aroma bedak dan lotion viva yang menguar dari tubuh Ratih karena ditiupi angin. Kus senang mengelusi jemari Ratih yang terkelupas karena terkena deterjen saat mencuci kain. Bagi Kus, tangan yang kasar adalah tangan yang bekerja keras. Tangan yang mampu membesarkan anak-anak.

“Kapan ya Ratih kita bisa punya rumah sendiri, kita nggak usah kerja sama Engkoh dan Enci lagi…”

“Iya Mas, aku juga udah bosan ikut Enci terus,” gumam Ratih.

“Tadi cucianmu banyak ya?”

“Lumayanlah Mas, anak Enci sakit mencret, jadi banyak kain kotor…” jawab Ratih tanpa maksud mengeluh.

Kus tersenyum, “Ya, sudah sini biar kamu aku kusukin…”

Percakapan-percakapan sederhana selalu membuat Kus dihimpit rasa kangen yang membuatnya seperti terkena penyakit asma—saking menyesakkannya. Kus kangen berada di dekat Ratih—walau dia di bengkel dan Ratih di dapur, rasanya sudah sangat senang sekali. Setidaknya kapan saja dia ingin bertemu dengan Ratih, dia bisa menghampirinya. Apalagi mereka kan tinggal serumah. Kus tidur di bengkel Ratih di dalam rumah. Membuat mereka bisa kapan saja bertemu. Kus juga kangen kopi kelat bikinan Ratih yang sangat maknyus. Pahitnya pas, manisnya pun mantap. Hati Kus selalu berdesir-desir setiap mengingat-ingat kenangan bersama Ratih. Rasanya nyess, lebih sakit dari pada disunat dulu.

img_20161204_080211

Dan diantara semua momen, masa, saat yang paling tidak mengenakkan adalah saat hujan. Kus punya banyak kenangan dengan Ratih saat hujan turun. Satunya lagi adalah malam berhujan sebelum Ratih berangkat ke Malaysia. Mereka bertengkar cukup hebat. Tidak biasanya mereka bertengkar. Kebetulan Engkoh sekeluarga sedang jalan-jalan ke mall. Pun karyawan yang lain sedang tidak ada di bengkel. Hanya ada Ratih dan Kus di rumah.

“Kita sudah sering membicarakan ini Mas,” keluh Ratih serba salah. Dia memilin-milin kaosnya yang bergambar singa. Kaos lungsuran dari Enci.

“Kemarin Mas udah setuju aku jadi TKI,” mata Ratih berkaca-kaca, “sekarang kenapa lagi?” ada nada tanya meminta penegasan. Kus jadi bingung. Memang, diakuinya dia sudah setuju kalau Ratih berangkat ke Malaysia untuk jadi TKI. Lumayan untuk buat modal buka usaha kelak. Supaya Ratih tidak usah lagi jadi pembantu dan Kus pun tidak usah membengkel lagi. Tapi rasanya kok berat sekali melepas Ratih. Entah apa yang membuat hati Kus tak tenteram. Apa karena Engkoh yang dilihatnya tadi mengintip Ratih mandi. Atau Gun yang menyindirnya dengan mengatakan kalau Kus ini hanya mau enaknya saja. Ongkang-ongkang kaki membiarkan Ratih menjadi TKI.

“Ah, nggak laki-laki kamu, masak nyuruh perempuanmu kerja di luar negeri jadi TKI,” kata Gun dengan suara besar atau memang sengaja dibesar-besari supaya karyawan-karyawan yang lain mendengar. Kelaki-lakian Kus seperti tergerus. Mukanya memerah. Kawan-kawan yang lain juga ikut memanas-manasi, mengatakan bagaimana kalau Ratih disiksa majikannya.

“Kok, Kus tega ya!”

Terus, kalau Ratih jatuh cinta sama majikannya dan dijadikan istri.

“Kasihan banget kamu Kus!”

Komentar-komentar ini yang mungkin membuat Kus payah melepas Ratih pergi. Kus memandang Ratih yang sekarang sudah menangis. Hatinya terenyuh. Dia mengelus rambut Ratih.

“Aku takut Tih, nanti kayak si Gun bilang kamu kecantol sama orang sana…”

Ratih langsung memonyongkan mulutnya, “Mas ini! Omongan Gun saja didengar! Aku ini setia Mas. Lagian aku cuma dua tahun di sana, cukuplah untuk modal kita buka usaha.”

“Kamu yakin Tih, tempat kerja kamu ini aman?” Kus memastikan. Dia tidak bisa menutupi rasa kekhawatirannya.

“Aman Mas, nggak mungkinlah Engkoh kasih aku kerja ke tempat yang nggak benar. Dia memang genit tapi nggak nggak sampai sejahat itu.”

“Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa…” Kus menarik Ratih mendekat padanya.

“Mas doain saja semoga aku baik-baik….”

“Mmm..Ratih…” kata Kus pelan.

“Kenapa Mas?”

“Jangan kasih anumu sama laki-laki di sana ya…” Kus berbisik sambil menunduk malu.

Ratih tertawa, “Ya, iyalah Mas…”

Kus memeluk Ratih. Ini adalah malam terakhir mereka. Sebenarnya Ratih mengijinkan Kus menidurinya. Tapi Kus bersikeras tidak mau. Katanya dia mau menjaga Ratih sampai mereka menikah. Karena itu keduanya sepakat menunda libido yang menggelegak. Kus dan Ratih harus bisa puas dengan tangan Kus yang bermain-main di balik celana dalam Ratih.

Semenjak Ratih pergi hujan semakin sering turun. Apa karena memang bertepatan dengan musim penghujan atau langit turut sedih menyaksikan Kus yang merana kesepian karena kehilangan Ratih?

Penat berpikir membuat Kus lelah dan mengantuk. Setengah tertidur tiba-tiba dia terbangun karena bunyi gedoran di pintu kamarnya.

Tok…tok…tok…tok…

Gedoran yang panjang dan kuat. Kus mendekati pintu dan menyibakkan gorden… Ratih!!

Segera dia membuka pintu dan menatap perempuan yang dia rindukan ini lekat-lekat, “Ratih???” serunya masih tak percaya dengan penglihatannya.

Ratih tersenyum. Di luar hujan semakin deras. Kus mencubit pipinya dan rasanya sakit. Tanpa disuruh Ratih langsung masuk dan duduk di tempat tidur.

“Ratih, kamu kok bisa di sini?” tanya Kus bingung campur bahagia.

“Aku pulang Mas…” Ratih berujar sendu.

“Hujan-hujanan…kamu nggak kebasahan?” kata Kus panik.

Ratih tersenyum pasi dan menggeleng, “Nggak Mas…aku cuma kedinginan, aku mau dipeluk sama Mas Kus,” Ratih merapatkan dirinya.

Badan Ratih begitu dingin. Hati Kus langsung mencelos. Dia bersegera memeluk Ratih.

“Kenapa kamu nggak masuk ke rumah dulu?”

“Aku nggak sabar mau ketemu Mas…”

“Kenapa? Kamu istirahat dulu, besok kan bisa jumpa…”

“Aku mau kasih janjiku ke kamu Mas…”

“Janji apa?” Kus memegang bahu Ratih dan mengangkat dagu Ratih.

“Aku menjaga diriku Mas…” Ratih meluncur turun dan kepalanya bergerak-gerak di antara paha Kus. Tersentak karena rasa enak dan terkejut—Ratih bisa memerlakukannya seperti itu Kus menjauhkan kepala Ratih dari selangkangannya.

“Kamu kenapa Ratih?”

“Aku mau Mas…”

“Tap..tapi…tapi…” kata Kus terbata seperti orang bodoh.

Ratih menatap Kus tanpa ekspresi lalu membuka bajunya dalam beberapa kali tarikan cepat. Ratih berdiri telanjang. Bulat. Polos. Kus melongo. Ketika onani dia sering membayangkan Ratih yang telanjang.

Kini, dia begitu terkejut melihat tubuh bugil Ratih seperti jamuan makan malam raja yang disodorkan padanya. Ratih jauh lebih kurus. Di beberapa bagian tubuhnya—dada, perut, paha tampak bekas lebam. Tapi Kus tidak sempat bertanya karena Ratih langsung  menempelkan dadanya ke dada Kus. Ratih juga meletakkan tangan Kus di antara pahanya. Kus yang memang sudah amat teramat rindu dengan Ratih langsung bereaksi. Tegang. Serta merta dia menggumuli Ratih. Menggumuli Ratih seolah-olah ini adalah malam pertama dan terakhir mereka bisa bersetubuh.

Aroma birahi menari-nari di langit-langit kamar Kus. Nafas mereka menyatu. Ratih mendesah. Kus mengerang panjang. Kus menciumi kelopak mata Ratih yang basah oleh air mata.

“Kenapa kamu menangis Ratih?”

“Aku bahagia Mas…..”

Mereka kembali bercinta. Entah berapa kali. Kus tidak ingat karena Kus tidak menghitungnya. Karena Kus memimpikannya. Pagi-paginya Kus terbangun, lelah dengan tubuh telanjangnya yang tidak menemukan kehangatan badan Ratih di sisinya. Kus mengerjapkan mata. Mengingat-ingat apakah dia benar-benar bermimpi? Tapi kenapa begitu nyata? Aroma keringat Ratih yang legit masih lekat di hidungnya. Belum lagi dia selesai mengumpulkan semua tenaganya untuk bangun tiba-tiba pintu kamarnya digedor dengan kuat. Masih dengan pikiran bingung Kus mengenakan celananya dan membuka pintu.

“Kus….” Gun berdiri di depannya.

“Ratih, Kus….”

 

Maret, 2012

(Cerpen)