Monthly Archives: Mei 2014

cinta yang sial

Standar

sesial-sialnya cinta sama cowok brengsek, pastikan dulu dia suka Murakami–atau setidaknya tahulah siapa Haruki Murakami. kalau dia tak tahu dan hubungan putus, wah rasanya sial sekali! melebihi kesialan bercinta tanpa pengaman. sesial-sialnya cinta mati sama cowok brengsek pastikan dulu kalau dia suka baca. kalau dia tidak suka baca, brengsek lagi, apalah yang bisa dibanggakan dari pria seperti itu, coba? sesial-sialnya sayang sangat sama cowok brengsek, ada baiknya pastikan dulu tulisannya bagus, yah walaupun akhirnya dia mendepak kita dari hidupnya, toh tulisannya bagus dan tidak malu-maluinlah pernah sayang sama cowok yang pintar nulis. kalau dia tidak pintar nulis, mengganti pikir menjadi fikir, kok menjadi ko, membaca tulisannya bisa mengakibatkan kemualan yang amat sangat dan membuatmu gemas untuk mengeditnya, itu kesialan yang luar biasa melebihi jatuh cinta lalu bercinta dan kemudian hari ketahuan kalau dia suami orang. tapi kita kan tidak bisa mendesain bakal jatuh cinta dengan penggila Murakami. oh, dia suka murakami aku mau jatuh cinta dengannya. sayangnya tidak, cinta selalu datang sebelum meminta konfirmasi dari orangnya langsung–entah dia suka baca, tulisannya bagus atau malah buta huruf sekalipun!

yudhistira

Standar

kau tidak pernah mengakui..

ya…seumur hidup kau tidak akan mengakuinya

kau tidak bisa melupa aku kan?

mungkin mereka bilang kau arif dan bijaksana

namun buatku, kau tidak lebih dari laki-laki dengan nyali tak lebih besar dari satu buah pelirmu

ya, buah pelir lemas, buah pelir lunglai yang belum dijamah wanita

yudhistira, demi anjing ya menemanimu ke nirwana sana, potong leherku jika aku mau kau nikahi lagi!

thomas

Standar

kutebas nadiku, kukucurkan di bibirmu, kau sebut aku gila

kuindrai kau, kutempatkan kau baik-baik di hatiku, kau maki aku sinting

aku bagi lukaku, bukan meminta disembuhkan–ketika kau bertemu dengan seseorang yang membuat putaran duniamu berhenti bukanlah kau ingin segera membagi bab-babmu kepadanya, namun kau sebut aku aneh!

aku jalin rambutmu sebagai hiasan, aku buat aromamu sebagai napasku, aku berikan misteriku….tidak..tidak…kau bilang belum bisa…

padahal, kau angka 5 yang sempurna–separuh dari 10 katamu, kau 11 dari 7 yang aku miliki, kau 26 walaupun kau 11. buatku kau tetap 7, walau kau adalah 3. kau tahu, Tuhan bilang 3 yang terakhir, jangan pernah menyangkal lebih dari 3 kali–dan demi Tuhan aku mau 3 jadi yang terakhir.

ya Tuhan, thomas…apa perlu kau cucuk jantungku yang berlubang ini dengan telunjukmu?

Β 

belum cukup, katamu…

Standar

kutarik keluar jantungku, kuperas darahnya sampai kering. tidak, belum berhenti di situ. kucacah jantungku lalu kuhidangkan sebagai makan malammu. masih juga kau bilang belum, belum cukup. lalu, kujadikan rahimku, ladang kau menanam benih, tempat kelopak-kelopak mawar merah yang kau tolak sebagai anak tumbuh. dan jawabmu, tidak, belum juga cukup.

lantas aku belah diriku jadi seribu, aku campakkan tubuhku seperti debu, aku terbangkan raga dan hatiku ke ujung langit. aku tiupkan serpihanku kemana-mana. biar dimana kau menuju, kemana kau melaju, kepada siapa kau melabuh, kau akan selalu bertemu aku. dan Haruki Murakami beserta dua penulis India itu menjadi saksi, malam itu, kau sudah mengharamkan cintaku!