Monthly Archives: Juli 2012

Masih

Standar

Finally, ini adalah perjalanan yang paling saya tunggu-tunggu selama beberapa bulan terakhir. Selama ini saya seperti hewan kecil yang terjebak dalam ruang raksasa. Gedung-gedung tinggi memerangkap saya selama berbulan-bulan membuat saya sesak nafas dana yeay, akhirnya saya terbebas juga dari perangkap ini—yah walau cuma beberapa hari, rasanya seperti bertahun-tahun di sana.

Untuk keempat kalinya saya mengunjungi Jogja. Saya pernah bilang sama selimut cokelat kalau pada kehidupan sebelumnya saya pastilah tinggal di Jogja terlahir sebagai Jawa. Mungkin saya sebenarnya adalah Jonggrang yang dikutuk menjadi candi keseribu atau  Drupadi yang dijadikan sebagai taruhan oleh Yudhistira. Khayalan saya berkembang menjadi cerita-cerita mengasyikkan. Utnuk menghindari kebosanan, sekadar lari dari kenyataan atau membenarkan sesuatu yang seharusnya salah. Selimut cokelat langsung nyambung, yah mungkin kamu ini dari kalangan priyayinya dan saya segera menyambar dan kamu abdi dalemnya!

Eniwei, saya benar-benar menyukai Jogja! Tak tahu, apakah ada hubungannya dengan selimut cokelat atau memang di kehidupan sebelumnya saya terlahir sebagai Drupadi atau Durga J yang saya rasakan, saya benar-benar menyukai Jogja sampai ke sum-sum tulang.

Mungkin juga karena ada hubungannya dengan bacaan-bacaan saya yang kejawa-jawaan atau juga kota yang saya tinggali sekarang yang jauh dari nyaman membuat saya tergila-gila pada Jogja.

Namun di kedatangan saya yang keempat kalinya ini saya jadi mengibaratkan perasaan saya kepada Jogja tak ubahnya perasaan kepada orang yang dicintai. Saat pertama pacaran, perasaan menggebu-gebu, semua yang dilihat baik dan sangat amazing.

Kemudian lama kelamaan, semakin lama mengenal pasangan kita jadi tahu kalau pasangan kita itu bukanlah sosok yang sempurna jiwa raga. Ada hal-hal dari dia yang juga menyebalkan bahkan bukan hanya menyebalkan tapi memuakkan. Plus, ketika sebuah hubungan semakin lama maka kita akan kehilangan greget yang kita dapatkan di awal pacaran.

Yah, kurang lebih itulah yang saya temukan di perjalanan keempat saya ke sana. Keramahan yang ternyata ada maunya, perilaku supir taksi yang menyebalkan, ajakan untuk menaiki becak walau sudah ditolak berkali-kali serta minus-minusnya yang lain.

Well, meski begitu saya tetap menikmati perjalanan ini dan terasa berat ketika meninggalkannya. Saya sempat bilang dengan teman seperjalanan, sedih ya..besok sudah kembali ke kantor lagi. Saya juga bilang, kalau saya sudah kehilangan excited ketika menginjakkan kaki pertama kali di kota ini. Yang kemudian dilanjutkan, tapi saya tetap suka dengan Jogja.

Yah, mungkin seperti itulah ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang. Perjalanan waktu, intensnya pertemuan pastinya akan mengubah beberapa hal. Bisa jadi cara pandang kita pada pasangan, mungkin kita bisa kehilangan greget dengan dia. Kejelekan dia bisa terkuak semua. Bisa jadi kita kehilangan sesuatu yang dulunya amazing dari dia. Namun justru, anehnya, meski demikian kita tetap suka malah jadi semakin sayang. Hmm…tapi tentu saja tidak untuk kesalahan ontologis!