Monthly Archives: Maret 2012

Bab 7 Dik Kemala

Standar

Tunggu dulu. Kemala anak priyayi? Bangsawan? Darah biru? Aku belum selesai mencerna kata-katanya Dewan sudah menyambungnya dengan informasi lain. “Kemala itu ibarat sebuah candi. Banyak misteri yang disembunyikannya.” Kalimat Dewan adalah salah satu kepingan puzzle yang selama ini kucari.
Dewan memandangku yang sedang bingung. Dia menghisap rokoknya dan mengangkat satu alis, mencari tahu apakah aku paham dengan helai-helai kalimatnya tadi. Pelan, dia membuang muka dan memandang ke depan. Kemala sudah selesai membaca puisi. Tepuk-tangan mengiringi senyum Kemala. Beberapa orang menepuk bahunya pertanda salut. Kemala melihat ke arah kami. Dia tersenyum. Tanpa senja. Kemala, kenapa kau sembunyikan senja dalam senyumanmu?
Kemala duduk di pojokan. Dia sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya yang lain. Pembaca puisi berikutnya membacakan Kupanggil Namamu. Benar-benar cocok untuk aku yang digempur tanda tanya tentang Kemala. Sia-sia kucari pancaran matamu, ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa, sia-sia…tak ada yang bisa kucamkan, sempurnalah kesepianku..
“Kau memang cinta Kemala atau sekadar suka aja?” tanya Dewan. Kali ini dia mengisap rokok ketiganya.
“Ya! Aku mencintainya makanya aku bersama Kemala,” jawabku bulat.
Dewan terkekeh kemudian terbahak, “Memang kau tau apa itu cinta?”
“Cinta itu tidak akan membuat orang yang disayangi tersakiti.”
“Hanya itu?” Dewan memandangku seperti orang bodoh.
Apa Dewan berusaha menjebakku? Untuk membuktikan apa aku pantas dengan Kemala? “Cinta itu luas. Tak selamanya cinta diungkapkan dengan kata-kata. Cinta itu dirasakan,” kataku.
“Kau bilang tadi cinta itu nggak menyakiti ya?” Dewan kembali ke percakapan kami sebelumnya. Aku mengangguk sembari berpikir mau di bawa kemana lagi perbincangan ini. Dewan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Seketika matanya menjadi teduh. Dia menginjak rokoknya yang separuh terbakar. “Kau tau,” kata Dewan kemudian melanjutkan, “buat Kemala cinta itu menyakitkan….”
Dewan melihatku, “Dan dia menikmatinya…”
“Hidup Kemala itu rumit. Sangat rumit, kalau kau nggak mau tersakiti mending kau udahan aja dengan Kemala. Carilah cewek lain yang punya kehidupan normal, seusiamu,” kata Dewan lagi.
“Apa maksudmu Kemala nggak normal?” kataku dengan intonasi tinggi. “Menurutmu aku nggak cocok dengan Kemala karena aku masih SMA? Tenang aja kau nggak usah khawatir denganku. Aku tau apa yang kulakukan!” Emosiku sudah setengah naik tapi Dewan tetap dengan intonasi suaranya yang tenang.
“Aku sama sekali nggak mengkhawatirkanmu. SMA atau kuliah itu bukan urusanku. Aku hanya mau memastikan kalau Kemala di tangan yang tepat. Selama ini Kemala nggak pernah berhubungan sama anak SMA dan sekarang dia pacaran denganmu.”
Sementara sajak-sajak terus dibacakan kami terlibat pembicaraan yang dalam. Sesekali kami berhenti mendengarkan puisi yang dibacakan di depan. Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta, Sajak Sebatang Lisong, Sajak Orang Lapar…aku seperti berada di dunia berbeda. Dunia Rendra dan dunia riil.
“Bersamamu Kemala nggak seperti orang yang kukenal dan aku benar-benar khawatir itu akan melukainya. Dia udah cukup banyak masalah. Aku nggak mau dia terluka lagi,” kata Dewan.
“Kenapa kau begitu perhatian sama Kemala. Kau suka dengan Kemala?”
Dewan menatapku tajam, “Iya, aku mencintai Kemala.”
“Mungkin aku masih SMA. Aku masih muda. Tapi aku serius dengan Kemala…”
“Hei, Io, Dewan tampang kalian kok serius kali?” percakapan kami terhenti karena Kemala mendatangi kami.
Kami saling bertatapan sekilas kemudian aku memalingkan wajah dan melihat Kemala lagi, “Aku mau baca puisi,” kataku. Tidak menunggu tanggapan Dewan ataupun Kemala aku maju ke depan.
Kutulis surat ini, kala hujan gerimis, bagai bunyi tambur yang gaib, dan angin mendesah mengeluh dan mendesah, wahai, Dik Kemala, aku cinta kepadamu!
Mendadak semua bersorak dan melihat ke arah Kemala yang terkejut karena aku mengganti Dik Narti pada puisi Surat Cinta WS Rendra menjadi namanya. Beberapa temannya menarik Kemala dan menyuruh naik. Wajah Kemala bersemu merah. Semburat senja membayang di wajahnya.
Kutulis surat ini, kala langit menangis dan dua ekor belibis, bercintaan dalam kolam, bagai dua anak nakal, jenaka dan manis, mengibaskan ekor, serta menggetarkan bulu-bulunya,
Semua bersorak riuh menyuruh Kemala naik tapi dia tak mau. Membuatku turun, berjalan mendekat ke Kemala sambil terus membacakan puisi.
Wahai, Dik Kemala dengan pakaian pengantin yang anggun, bunga-bunga serta keris keramat, aku ingin membimbingmu ke altar, untuk dikawinkan. Aku melamarmu,kau tahu dari dulu: tiada lebih buruk dan tiada lebih baik dari yang lain…penyair dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula dari kata, kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa..
Penuh keberanian aku mencium kening Kemala. Sempurna.

Iklan

Ciuman

Standar

“Kamu tak akan menemukannya di sana. Sembilan belas tujuh tiga bukan tahun yang baik untuk jatuh cinta. Tapi suatu hari, di tempat itu, dia mencium bibirmu. Kamu langsung yakin bahwa dia adalah cinta sejatimu”

(Saya kutip dari cerpennya Avianti Armand yang dimuat di Koran Tempo, Minggu 22 Mei 2011)

Saya rasa saya sudah menemukan cinta sejati saya. Namun setelah membaca kutipan di atas, batin saya bergolak, benarkah dia cinta sejati saya? Soalnya saat dia mencium saya, saya tidak merasakan apa-apa. Hanya ada rasa hampa. Yah, mungkin karena saat dia mencium saya belum memiliki “rasa” dengannya. Semua hanya sekadarnya saja, hanya iseng sampai akhirnya saya tidak bisa hidup tanpanya. Apakah dengan ciuman kita bisa mengetahui kalau dia adalah cinta sejati kita. Sebenarnya apa arti dari cinta sejati? Kenapa disebut cinta sejati?

Eniwei, seberapa sakralkah sebuah ciuman sehingga sebuah kecupan bisa membangkitkan apa saja? Julia Roberts dalam filmnya Pretty Woman mau melakukan hubungan seks tapi tidak ciuman–walaupun pada akhirnya dia mau mencium Richard Gere. Terus ada juga yang bilang, atasan saya dulu, menulis lead itu ibarat mencium seorang gadis ketika kau mendapatkan bibirnya maka kau akan mendapatkan tubuhnya. Entahlah saya rasa itu tidak bisa menjadi rumusan yang tetap. Soalnya tidak semua yang kau cium mau tidur denganmu.

Namun ciuman itu sepertinya punya kekuatan lho! Beberapa teman saya sangat menyukai aktifitas ciuman. Si B mengatakan ciuman itu intim. Setiap sentuhan, tarikan, kecupan menggambarkan kedekatan. “Gimana ya… rasanya dekat…intim…” kata si B dengan mata menerawang memandang langit-langit plus kedua tangan terbuka (mungkin dia sambil membayangkan momen-momen dia berciuman). Lain lagi dengan si C, katanya ciuman itu alat pendeteksi cinta paling ampuh. Entahlah, nyata-nyatanya si C mengaku sering bereksperimen dengan ciuman. Dia senang berciuman. Baik dengan laki-laki maupun perempuan.

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang teman, si D. Dia menemani saya jalan-jalan berkeliling kota yang baru saya injak. Dalam perjalanan pulang dia menggenggam tangan saya, erat dan hangat. Pelan namun pasti dia membawa tangan saya mendekati wajahnya, dia mencium punggung tangan saya. Saya memandang wajahnya, ditemaram lampu. Dia tersipu malu. Saat berpisah, dia meminta ijin untuk mencium bibir saya. Saya katakan padanya, “Sebaiknya jangan, nanti saya meminta ikatan ke kamu…”

Mungkin memang benar, ciuman memiliki ikatan emosionil yang kuat. Sentuhan dua bibir, menyatu, melebur, luruh. Kau bisa saja mencium orang yang tidak kau sayangi tapi kau sukai. Kau juga bisa  mencium orang yang tidak kau sayangi dan juga tidak kau sukai. Tapi bisakah kau mencium orang lain ketika kau sudah memiliki orang yang kau sayangi?

Bisa saja jika kau gila. Bisa saja jika hatimu luas, punya banyak ruang untuk kau bagi-bagi. Saya bisa saja mencium untuk iseng, untuk gila-gilaan tapi saya tidak siap untuk terlibat hubungan emosionil lalu mengoyak jiwa saya karena sakit hati yang amat sangat. Sungguh rasanya sangat sangat sakit sekali!!