Monthly Archives: Januari 2012

Amsal 30:17

Standar

Hangur do goar mi anakkon hu

Songon bunga – bunga i nahussusi,

Molo marparange na denggan doho,

Diluat nadao i,

Jala ikkon ingot doho

Tangiang i do parhite-hitean mi

Dingolumi di tondikku…**)
Lagu Poda yang dinyanyikan lirih oleh Edo Kondologit sudah diputar berpuluh kali pada CD, tapi Tiur tak bosan-bosan juga mendengarnya. Sesekali bunyi besi yang ditempa di bengkel di belakang rumah, memecah lirik-liriknya yang menyayat hati. Mata Tiur berkaca-kaca. Pelupuk matanya yang bening menumpuk dengan air mata. Siap tumpah kapan saja. Sesekali batinnya mengikuti Edo bernyanyi…

Kini tumpukan air di matanya sudah meruah tumpah. Kesedihan yang menggema di sekujur sendi badannya yang ringkih membuatnya kehilangan kemampuan untuk menyapukan matanya yang basah. Seluruh kekuatannya sudah terhisap oleh tsunami, sedih. Lasma yang sedari tadi sudah menyadari kegelisahan hati mamaknya menghembuskan nafas keras-keras. Antara kasihan melihat mamaknya yang sedih dan rasa kesal juga.

“Kenapa juga Mamak masih terus menunggu Marningot pulang?” Lasma bertanya dalam hati. Dengan muka muram dia menatap mamaknya yang duduk di teras.

“Udahlah Mak, tadi Bang Ningot sms aku, katanya hari ini dia nggak bisa datang, mungkin minggu depan,” hibur Lasma sambil menghapus air mata Tiur. Sebenarnya dia tidak tahu pasti, apakah Marningot akan datang minggu depan. Di cuma ingin mengurangi kesedihan Tiur.

Lasma lelah dengan perasaannya. Antara sedih campur kesal atas sikap Tiur yang menunggu-nunggu kedatangan Marningot yang tak tahu pasti kapan datang. Kemudian Lasma harus membagi rasa lelahnya ini dengan rasa lelah menjaga Tasya anaknya yang baru berusia dua tahun. Belum lagi dia sedang hamil lima bulan. Lengkaplah sudah!

“Mak, janganlah Mamak masang wajah muram begitu…” kata Lasma lagi.

Tiur hanya diam. Menoleh ke Lasma dengan mata sayu, bibir menekuk, ingin rasanya dia berteriak sekeras mungkin dan menangis. Dia terlalu malu. Sudah cukuplah dia menyusahkan Lasma dan suaminya A Long. Dia juga malu pada Tasya. Masakan ompung-ompung keriput bau tanah yang hidup menjelang ajal ini, menangis seperti anak kecil?

Sekejap saja dia memandang Lasma, kemudian di kembali memandang keluar. Berharap semoga keajaiban terjadi. Marningot datang bersama menantu dan cucu-cucunya.

“Mak, kumatikan ya CD-nya?” Tiur mendengar suara Lasma. Bukannya menjawab, Tiur mengeluarkan suara gerutuan pertanda tak setuju. Tiur memberengut memasang wajah tak suka. Dia mencampakkan cangkir plastik dekat mejanya.

“PLAANG…”

“Duh, Mak,” kata Lasma dengan nada terkejut, ” ya udah, nggak kumatikan pun, tapi jangan main banting gitulah,” protes Lasma sembari menunduk susah payah, mengambil cangkir plastik yang dicampakkan Tiur.

“Aku masuk ya Mak, mau mandikan Tasya,” kata Lasma lagi. Pintu berderit tertutup.

Dari dalam terdengar Edo Kondologit menyayikan Poda untuk kesekian kalinya. Dentang-dentang besi masih terdengar. Karyawan A Long terus sibuk bekerja. Keributan itu tidak mengurangi kenikmatan Tiur meresapi lagu.

Tiur mendengar Lasma mengomeli Tasya. Timbul sesal dalam hatinya karena sudah marah-marah pada Lasma. Seharusnya dia tidak boleh menyampakkan cangkir. Menambah kerjaan Lasma. Tiur menghempaskan nafasnya. Dia sudah tak tahan lagi dengan himpitan di dadanya. Kerinduannya dengan Marningot anaknya sudah tak tertahan lagi.

Terakhir kali dia berjumpa dengan Marningot empat tahun lalu, saat masih di Medan. Tiur ingat betul. Saat dia tidur, Marningot menggenggam tangannya yang lisut. Tiur merasakan punggung tangannya basah. Tiur membuka mata dan melihat Marningot menunduk. Bahunya bergetar. Dengan tangannya yang satu lagi Tiur memegang pundak Ningot. Samar dia mendengar Marningot berbisik. Marningot berdoa!

Tiur menangis. Dia kembali menutup mata dan mengamini semua doa yang samar-samar didengarnya.

“Tuhan Yesus tolonglah jawab doa si Ningot ini!” kata Tiur dalam hati.

Menit-menit berlalu. Marningot mengangkat wajahnya. Matanya lembab dan basah. Marningot mengelus wajah Tiur dan berkata, “Mak, doakan aku ya, supaya dapat kerja. Kali ini aku akan bersungguh-sungguh Mak! Nggak main-main lagi…” kata-kata Marningot terhenti oleh sedu-sedannya sendiri.

Tiur mengangguk menangis. Mamak dan anak itu bertangis-tangisan.

Itu empat tahun lalu. Seminggu setelah pertemuan itu Tiur pindah ke Jakarta. Rumah dijual untuk membayar hutang-hutang Ningot. Sebenarnya Lasma dan ketiga anaknya yang lain tidak setuju, kalau rumah dijual tapi karena keputusan Tiur sudah bulat, Lasma dan yang lainnya dengan terpaksa menyanggupi.

Hampir separuh dari hasil penjualan rumah, digunakan untuk membayar utang-utang Marningot. Juga untuk membiayai kebutuhan Marningot, istri dan kedua anaknya selama Marningot belum mendapat kerja.

Sebenarnya bukan hal aneh lagi, kalau Marningot berulah. Sedari kuliah, Marningot selalu menjadi biang masalah di keluarganya. Yah, tawuranlah, mencuri uang dan sebagainya. Sebenarnya berat buat Tiur mengakui kalau suaminya Martahan meninggal, karena tak sanggup memikul beban masalah yang dibuat oleh Marningot.

Puncaknya, saat Marningot tertangkap mata selingkuh dengan istri tetangga mereka. Dua hari sesudah peristiwa memalukan itu Martahan terkena serangan jantung dan meninggal seketika. Sakit rasanya kehilangan belahan jiwa. Itulah yang dirasakan Tiur. Tiur harus bertahan karena anak-anak membutuhkannya.

Tidak selesai di situ saja, Marningot membuat ulah yang baru. Dia menghamili anak pemilik Bak Mie di Cilegon—A Mei, akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Tanpa adat dan tetek-bengek lainnya. Marningot memulai kehidupan barunya di Cilegon. Meski Marningot punya kelakuan luar biasa buruk, sungguh beruntung dia punya otak cemerlang. Mungkin karena kelebihannya itulah Marningot tinggi hati. Dia menganggap remeh semua hal. Dia mengira bisa memiliki dunia dengan wajah tampan dan otaknya yang cerdas. Dia senang bertindak sesuka hati, tanpa memikirkan akibat perbuatannya. Dampaknya, ke keluarga. Tak heran, masalah mengiringi langkahnya.

Sampai satu ketika, Tuhan bermurah hati memberikan rejeki melimpah kehidupan sejahtera karier yang mapan. Tidak sedikit pun dipergunakan Marningot. Bukannya bersyukur, Marningot malah semakin menjadi-jadi, ketika dia ada di puncak kemapanannya. Dia melupakan keluarganya. Terutama Tiur—mamaknya yang selama ini mendukungnya. Mamak yang selama ini membela, ketika bapak dan saudara-saudaranya menyerah atas tingkah-lakunya yang kelewatan.

Marningot bersenang-senang dengan hartanya. Tuhan marah dan memukulnya. Dia terlibat polemik di perusahaan tempat dia bekerja. Marningot dipecat. Dia masih sempat tertawa menyeringai. Tidak ada pertobatan keluar dari mulutnya. Uang yang disimpannya habis, dia tak punya pegangan lagi. Tak punya sekerat roti untuk diberikan kepada anak dan istrinya. Bila sudah seperti itu, kemana lagi dia akan mengadu kalau bukan ke tempat Tiur? Mamaknya yang paling setia menerima dia apa adanya.

Selama ini Marningot terlalu remeh menganggap dengan kekuatannya dia akan segera mendapat pekerjaan. Bertahun dia menunggu, pekerjaan tidak kunjung diperolehnya. Sampai akhirnya dia sadar, ketika semua pintu tertutup, hanya satu pintu yang senantiasa terbuka: pintu rumahnya.

Di depan kaki Tiur dia berlutut. Menggenggam tangan kisut mamaknya. Berdoa di hadapan mamaknya. Mungkin sudah waktunya Marningot sadar kalau jalan yang ditempuhnya tidak akan berhasil tanpa doa mamaknya. Ternyata memang benar. Tak sampai tiga bulan, Marningot mendapat panggilan kerja di Halmahera. Dengan gaji dan tunjangan yang lebih dari lumayan.

Kini sudah hampir dua tahun Marningot kerja di Halmahera dan dari sekian tahun dia belum pernah menyempatkan diri untuk pulang melihat Tiur. Bukan main sakitnya hati Tiur. Kalau sudah begitu terkadang Tiur menyesal, kenapa juga dia mendoakan Marningot supaya lekas dapat kerja. Sekarang ini ingin rasanya dia mengutuk Ningot. Sudah habis kesabaran Tiur. Marningot. Martahan suaminya memberi nama anak pertama mereka Marningot, sesuai dengan artinya “mengingat”. Supaya di mana pun anak mereka berada, senantiasa mengingat keluarga. Harapan tinggal harapan. Sepertinya Marningot keberatan menanggung beban namanya.

“Ningooooot !”

Tiba-tiba saja Tiur berteriak. Lasma yang sedang di dapur terkejut. Bukan hanya Lasma saja, karyawan-karyawan di bengkel juga terkejut dan serentak menuju teras untuk melihat Tiur. Selayaknya anak kecil yang tidak dikasih permen Tiur menangis. Merengek.

Pedih hati Lasma melihat Tiur seperti itu. Dengan berkaca-kaca Lasma mengusap pipi Tiur.

“Udahlah Mak, nanti kalau tensi Mamak naik dan stroke Mamak kumat lagi gimana?” Tiur tidak menjawab. Bukan karena dia tak punya jawaban. Stroke sudah membungkamnya selama lima tahun. Hanya satu kata yang bisa dia ucapkan : Ningot.

Lasma melonggarkan tuas rem kursi roda Tiur. Dia meminta salah satu karyawan bengkel suaminya untuk mematikan CD.

“Kita masuk ke dalam ya Mak,” kata Lasma sambil mendorong kursi roda ke dalam rumah.

Malamnya Tiur sudah mulai tenang bahkan dia sedang tertawa melihat sinetron kesukaannya diputar. Seakan peristiwa tadi pagi tidak pernah terjadi. Sehari-hari memang seperti itulah kondisi Tiur. Terkadang ingatan membawanya pada Marningot, namun tak jarang dia bisa menjadi amnesia. Stroke telah melumpuhkan syarafnya, tapi tidak kerinduannya untuk Marningot.

Lasma sedang menemani A Long makan malam di meja makan. Sayup-sayup mereka mendengar tawa Tiur dari dalam kamar. A Long menggelengkan kepala dengan mimik prihatin.

“Aku nggak tahan Lasma, aku nggak bisa melihat Mamak kayak gini terus,” A Long membuka percakapan.

“Jadi kita mau gimana lagi Koh, kondisi Mamak memang seperti ini!” balas Lasma. Rasanya sudah beratus kali mereka membahas masalah yang sama.

“Kita nggak bisa bohong terus sama Mamak Las…” A Long mati kutu kalau Lasma sedang berkeras dengan kemauannya.

“Harus Koh, kalau kita nggak mau sakit Mamak tambah parah. Koko mau tanggung jawab kalau Mamak sampai kenapa-kenapa?” ancam Lasma. A Long menghela nafas. Sayup mereka mendengar Tiur tertawa lagi. A Long memandang Lasma kemudian mencuci tangannya di baskom. Dia sudah kehilangan selera makan.

Lasma memandang punggung A Long sebelum akhirnya pintu kamar tertutup. A Long benar. Mau sampai kapan mereka berbohong? Apa dia sanggup mengatakan yang sejujurnya kepada Tiur? Kalau sebenarnya empat tahun lalu Marningot, istri dan anak-anaknya meninggal karena flu burung!

Medan, Nopember 2011

Catatan :

Amsal 30 : 17 = Mata yang mengolok-olok ayah dan enggan mendengarkan ibu akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali.

Dimuat di Analisa, Rebana, Minggu 22 Januari 2012

Iklan