Raja Singa

Standar

“Aku pencet (penis) dan keluar nanah, waduh kacau nih, aku kena raja singa!”

Percakapan ini terjadi beberapa waktu lalu di sebuah café di bilangan kuningan. Seorang teman mengajak ketemuan karena sudah lama tidak ketemu. Biasanya kami ketemu di tempat biasa kami latihan bersama. Tapi, sebelum puasa saya sudah tidak pernah melihatnya lagi di tempat kami latihan bareng. Rupanya dia sempat pulang kampung dan baru kembali lagi ke Jakarta.

Tidak mau kehilangan kesempatan, saat ketemu saya todong dia membeli buku “Sebab Kita Semua Gila Seks”. Awalnya dia ogah beli, karena judulnya tapi akhirnya dia beli juga. Dari situlah obrolan kami tentang petualangan seksnya sampai kena raja singa bermula.

Sebenarnya bukan sekali ini saja sih dia cerita mengenai petualangan seksnya. Sebelumnya juga sudah pernah dan sepertinya salah satu ceritanya saya tulis di “Sebab Kita Semua Gila Seks”. Nah, balik lagi ke raja singa, kebetulan dia orang yang cukup teredukasi mengenai penyakit kelamin dan teman-temannya punya pengalaman kurang lebih sama. Salah seorang teman menyarankan dia untuk membeli obat di pusat toko kesehatan di Jalan Pramuka dan dengan bantuan teman yang sama disuntiklah dia antibiotik.

Sembuh dari raja singa tidak menghentikan petualangan seksnya. “Gimana ya, kayak ada kebanggaan gitu buat laki-laki kalau tidur dengan banyak perempuan,” begitu pengakuannya. Dengan gamblang dia ceritakan dia pernah tidur dengan si A, B, C, D, E dan lain-lain dengan beraneka gaya, rupa, dan lokasi. Dikeluarin di mukalah, dilap dengan serbet, sampai dilakukan di WC umum salah satu bank.

Kenalan ini juga pernah mencoba membesarkan penisnya dengan ramuan daun tiga jari yang dilakukannya ketika dia dinas di Papua. Lokasi kerjanya di Raja Ampat, tapi khusus untuk membesarkan penis ini dilakukan di Biak. Katanya sih di Biak yang paling bagus untuk membesarkan penis.

Menurutnya daun tiga jari tidak hanya asal diusapkan ke penis, tapi ada ritual dan pembacaan mantra oleh orang setempat sampai akhirnya penis beneran membesar. Pun, ada pantangan-pantangan yang harus dilakukan kalau mau tetap awet.

“Aku lupa apa,” jawabnya saat saya tanyakan apa pantangannya. Tapi akhirnya, masih menurut pengakuannya, penisnya dikembalikan ke ukuran semula karena suatu hal melalui operasi.

“Lha memang bisa ya, pengobatan herbal yang ada mistisnya diperbaiki dengan pengobatan medis?” kata saya meragu.

“Ya bisa-bisa saja sih…” jawabnya pasti.

Sekarang dia tidak pernah lagi melakukan seks yang aneh-aneh dan dengan orang yang berbeda-beda. “Sudah menikah, bukan itu lagi fokus utama,” imbuhnya. Tapi setelah saya korek-korek ternyata dia pernah juga ena-ena dengan kawan kerja saat tugas di Sukabumi.

“Jiaah…katanya enggak mau lagi gitu-gituan itu kok mau?” saya agak ngegas.

“Ya gimana…namanya juga kita disuguhin ikan ya siapa yang nolak?” dia cengengesan.

Setelah dia pulang saya agak merenung, dan mempertanyakan raut dan rona kebanggaan saat dia cerita tentang pengalaman-pengalaman liarnya. Laki-laki dan perempuan memiliki perilaku seks yang berbeda. Cara keduanya menikmati dan mendapatkan kepuasan seks juga tidak sama.

Terkait petualangan seks, ternyata baik laki-laki dan perempuan punya kecenderungan menjalani “keliaran” yang sama. Hanya saja dalam mencari pasangan seks laki-laki dan perempuan punya pertimbangan yang berbeda. Laki-laki lebih kepada kuantitas sedang perempuan lebih kepada kualitas. Fakta ini terangkum pada penelitian yang dilakukan oleh David P. Schmit dkk dan dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada jurnal berjudul “Universal Sex Differences in the Desire for Sexual Variety: Tests From 52 Nations, 6 Continents, and 13 Islands.”

Sebelum memutuskan untuk melakukan hubungan seks atas dasar senang-senang, laki-laki tidak banyak babibu. Laki-laki bisa memutuskan dengan cepat hanya dengan pertimbangan visual dan rasa “suka”. Untuk perempuan sendiri, harus ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar visual. Perempuan harus mengenal dan mendapatkan feel mengenai calon pasangan seksnya dulu baru akhirnya melakukan eksekusi.

Kalau ditimbang-timbang sih, untuk mendapatkan kepuasan seksual perempuan juga harus memiliki landasan psikologi yang kuat. Kalau hanya sekadar fisik saja, sulit untuk mendapatkan orgasme. Bisa jadi itulah sebab mengapa untuk hubungan seks sekadar senang-senang perempuan lebih pemilih ketimbang laki-laki.

Saya jadi teringat apa yang dibilang Monika (Sandra Drzymalksa) dalam serial Sexify, “Aku bisa saja bercinta dengan banyak laki-laki, tapi aku harus membayangkan mantanku untuk mendapatkan orgasme…”

Filosofi Sebat

Standar

Merokok bisa menyebabkan stroke, penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi (hipertensi), gagal jantung, dan penyakit lainnya. Bisa jadi, ini adalah alasan kenapa saya tidak suka merokok. Selain kepala saya sudah dicekoki informasi kesehatan mengenai bahaya merokok, saya juga sejak lama mendapatkan stigma negatif mengenai perokok; perokok itu tidak baik, apalagi perempuan yang merokok.

Tapi kenangan saya tentang merokok tidak hanya pada hal-hal yang “buruk” tetapi juga melankolis. Laki-laki yang dulu saya suka adalah perokok, dan merk rokoknya Marlboro Lights. Dulu, ketika masih bego, setiap kali tanpa sengaja mencium aroma Marlboro Lights saya kerap terbawa memoria.

Ketika dia membonceng saya dengan motor sambil kami menyanyikan lagu Aku dan Dirimu Bunga Citra Lestari dan Ari Lasso dengan tangan saya menangkup di perutnya yang menggelambir.

Kemudian, ketika pindah ke Jakarta saya dekat dengan seorang seniman yang juga perokok. Kalau dia lagi “beradab”, dia akan merokok di kamar mandi, tapi kalau egonya lagi tinggi dia akan merokok di depan saya sambil berkomentar, “Kenapa, memang nggak boleh (merokok)?”

Kakak perempuan saya juga perokok. Di rumahnya melekat aroma asap rokok yang amat sangat. Dan kerap saya juga memarahi dia ketika merokok—yang tentu saja masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Terkadang saya ingin mencari tahu apa yang disukai orang dari merokok. Saya pernah beberapa kali mengisap rokok kakak perempuan saya dan rasanya…tidak ada yang istimewa. Seorang teman perempuan saya juga perokok aktif. Dia begitu ayu dan kalem—tapi merokok; lagi-lagi pandangan kalau perempuan perokok itu sudah pasti liar tertanam di kepala, padahal itukan belum tentu benar.

Saya tanya ke dia kenapa dia suka merokok, dia jawab dia ingin merasakan sedikit keliaran. Kalau minum alkohol dia tidak bisa karena alkohol itu haram dan bisa sampai 40 hari nggak bisa sholat kalau minum sampai mabuk. Terakhir ketemu dia mengepulkan asap rokok dengan mata menerawang menembus asap putih yang dihempaskannya ke langit-lagit. Cantik sekali. Dia seperti menyatu dengan asap rokok. Dia seperti lukisan.

“Apa sih enaknya merokok,” tanya saya ke kakak perempuan saya.

“Enak, apalagi pas selesai makan atau sambil boker,” jawabnya sekenanya.

“Apa yang kamu rasakan pas merokok?” ini pertanyaan saya ke teman perempuan lain.

“Enak Mba, apalagi sambil minum kopi hitam dan makan gorengan,” jawabnya.

Bahkan guru yoga saya juga punya kebiasaan merokok setiap bangun pagi, “Minum kopi, merokok, sambil merenung sebentar, baru deh beraktvitas,” kata dia.

I need to do bikram because I am a smoker!” kata seorang teman yang juga aktif yoga.

Macam-macam komentar orang tentang alasan kenapa mereka merokok. Namun kalau dikerucutkan, alasan paling dominan adalah: merokok itu asyik dilakukan sambil merenung aka berkontemplasi.

Tiga pekan lalu saya ke Gresik mengunjungi abang yang juga perokok. Ternyata dia sudah beberapa bulan mengganti rokoknya dengan lintingan. Jadi, dia beli tembakau terus dilinting sendiri, lengkap dengan kertas rokok, busa dan mesin sederhana untuk menggulung rokok.

Iseng saya coba rokoknya dan hmmm unik juga. Apakah saya termakan konsep tradisional saat membuat rokok atau saya hanya euforia saja sehingga begitu menikmati? Empat malam di sana hampir saya habiskan dengan merokok lintingan 2-3 batang. Berasa Roro Mendut, walaupun sedikit berbeda ya, Roro Mendut membubuhi air ludahnya sebagai perekat, kalau yang abang saya lakukan direkatkan dengan lem. Tapi ya, sensasinya cukup hakiki. Saya mengobrol dengan abang sampai subuh sambil merokok dan minum kopi. Sedap.

Sepulang dari Gresik, pengalaman ini terbawa, dan kerap menderu saat saya sedang ingin merenung. Saya ingin merasakan sensasi kontemplasi yang sama. Jadi saya tanyakan ke kakak perempuan saya kira-kira rokok apa yang sesuai dengan jiwa saya. Dia jawab, “Sampoerna Menthol..” tidak lupa dia tambahi jangan sampai ketagihan.

Beberapa hari mencoba merokok, saya menemukan keseruan unik. Rokok bisa menjadi pembuka cerita yang seru. Seperti tadi, saat duduk di balkon kos, niat ingin sebat sambil minum kopi, tiba-tiba saya disamperin anak kos yang melihat saya merokok dan dia ikutan merokok.

Awalnya dia menawari pizza kemudian obrolan semakin lancar dan santai—apalagi dilakukan sambil mengepulkan asap. Dia cerita kalau Natal dan Tahun Baru, dia berencana pulang ke rumah orangtuanya di Makassar. Dia juga cerita tentang suka-duka kerjanya di perusahaan asuransi. Banyak orang yang mengaku meninggal supaya bisa mengklaim asuransi, begitu katanya.

“Dirimu kerja di asuransi, tapi ikut asuransi juga nggak?” tanya saya kepo.

Dia jawab iya dan alasannya cukup unik. Jadi tetangga kos ini ternyata orang Toraja. Dia ikut asuransi supaya ketika meninggal nanti keluarganya tidak perlu pusing lagi mikirin biaya pemakamannya. Saya manggut-manggut—sambil tentu saja mengisap rokok.

Tak terasa sudah tiga batang, padahal niat cuma satu. Saya simpulkan, selain berkontemplasi, merokok jadi sarana asyik untuk membuka percakapan dan lebur dalam obrolan. Saya menyudahi cerita, setelah sebelumnya bertukar nomor hape. Yah, siapa tahu…siapa tahu bisa sebat bareng lagi hehehe…

Jakarta, 20 Desember 2020

How I Fucked Women Before I Met Your Mother

Standar

Cukup terlambat mungkin buat saya untuk menonton How I Met Your Mother, sitcom dengan 9 season yang pertama kali dirilis tahun 2005. Butuh 15 tahun buat saya untuk menyadari kalau sitcom ini freaking funny alias lucu sekali. Sitcom ini jugalah yang melambungkan nama Neil Patrick Harris yang notabene gay tapi bisa memerankan laki-laki hetero playboy dan bangsat dengan baik sekali.

Saya baru sampai di season 2 dan menemukan kecocokan karakter Barney dengan Joey di serial Friends. Sama-sama tampan, rupawan, sama-sama bangsat. Keduanya menghalalkan segala cara untuk bisa membawa perempuan ke tempat tidur. Ironinya, upaya-upaya tersebut dikemas dengan gaya humoris. Penonton pun tertawa melihat aksinya untuk meniduri perempuan—termasuk aku, kamu, dan kita semua.

Barney punya banyak trik untuk membawa perempuan ke ranjang. Di salah satu episode di season 2 saya melihat aksi Barney yang manipulatif. Jadi si Barney membawa si perempuan ke apartemen—yang ternyata bukan apartemennya dan berkomentar, “Ruangan ini butuh sentuhan perempuan…” lalu di momen lain Barney bilang, “Aku mencintaimu…oh maaf aku tidak bermaksud menekanmu, aku tahu ini terlalu cepat, lupakan saja apa yang aku bilang tadi…

Intinya Barney sering mengatakan, melakukan hal-hal yang sweet dan menempatkan dia pada posisi yang to good to be true demi membuat si perempuan meleleh dan baaaaaam setelah si perempuan ditiduri dia langsung pergi sekonyong-konyong, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Anjing!

Hukum alam semesta semua ada sebab akibat. Normalnya, orang melakukan sesuatu pasti karena sesuatu yang lain. Barney bangsat begitu karena dia punya pengalaman disakiti. Wise man said orang yang pernah mengalami sesuatu yang menyakitkan tidak akan melakukan hal yang sama kepada orang lainnya, karena tahu itu sakit.

Pengalaman masa lalu seharusnya tidak membenarkan untuk dia mentransfer rasa sakit yang sama ke orang-orang lain. Itu asu namanya. Sitcom menayangkan aksi “heroik” karakter-karakter seperti Barney dan menganggap lucu ketika pagi-pagi Barney menyelinap keluar kamar meninggalkan perempuan sedang mandi dan berharap selesai mandi dia akan menyantap waffle bersama laki-laki yang semalam dia bersanggama. Ini sama sekali tidak lucu.

Barney menjadi pahlawan karena kebangsatannya. Sitcom ini ditonton sekian juta ummat yang bisa jadi menganggap apa yang dilakukan Barney adalah hal biasa malah sesuatu yang legendary. Kamera hanya fokus kepada aksi Barney mengejar vagina tidak pada apa yang terjadi pada si perempuan setelah menyadari kalau dia cuma sasaran ewe.

Oh ya, saya jadi teringat dengan karakter Joey yang kurang lebih melakukan hal sama dan playing victim. Jadi, dalam suatu episode dijelaskan kalau agen adopsi Monica dan Chandler ternyata adalah perempuan yang pernah ber-one night stand dengan Joey.

Si perempuan marah karena Joey tidak mengontaknya dan Joey dengan dramanya bilang, “Kau yang tidak mengontak aku, kalau aku punya nomor kontakmu masakan aku tidak meneleponmu setelah kita menghabiskan malam yang menakjubkan?”

Si perempuan terbata-bata mendengar jawaban Joey, padahal jelas-jelas si perempuan memberikan nomor kontaknya ke Joey tapi di sini Joey playing victim. Jadinya si perempuan minta maaf dan menanyakan apakah masih ada kesempatan mereka untuk rekonsiliasi kembali.

“Noo… noo you were breaking my heart,” kata Joey dengan asu-nya. Dan guess what? Joey bahkan lupa nama si perempuan. Ajaibnya lagi kita tertawa melihat adegan ini. Padahal sesungguhnya ini aksi manipulatif hanya demi beberapa kali tarikan napas di tempat tidur.

Kemudian yang membaca tulisan ini bisa jadi berkomentar, “Duh, Ester itu kan cuma tontonan, serius banget!” Saya mau bertanya, apakah kamu akan tetap berkomentar sama ketika itu terjadi pada dirimu sendiri atau orang terdekatmu?

Jakarta, 16 Desember 2020

Romantika Membaca

Standar

“Kamu nggak sayang menjual buku-buku koleksimu? Kalau aku, jangankan dijual untuk minjemin ke orang juga mikir dulu,” komentar seorang teman ketika melihat posting-an saya di Instagram, yang menawarkan Kura-Kura Berjanggut dan Kisah-Kisah Perdagangan Paling Gemilang.

Akhir-akhir ini saya memang melepas buku-buku yang sudah dibaca dan gagal dibaca—yang sepertinya tidak akan pernah selesai dibaca, dan menjualnya dengan harga miring. Niatnya sih, dari hasil menjual buku tersebut bisa membeli buku-buku yang lain lagi.

Tapi itu cuma sebagian alasan, alasan sesungguhnya cukup melankolis. Saya meyakini setiap buku yang sudah dibaca akan meninggalkan sedikit “jiwa” dan “emosi” dari si pembaca. Ketika buku tersebut berpindah ke pembaca-pembaca yang lain maka akan semakin banyak “emosi” yang terperangkap di dalam buku tersebut dan membuat buku tersebut semakin “berjiwa”. Aneh ya?

Saya membayangkan setiap pembaca punya gaya membacanya sendiri. Ada yang membaca di tempat tidur, ada yang suka melipat buku, ada yang memberikan pembatas di halamannya, ada juga yang menyelipkan lipatan kertas atau uang sebagai penanda.

Momen-momen membaca buku juga berbeda. Saat menunggu di kereta api, saat sedih, atau mencuri-curi waktu di jam kerja. Kumpulan emosi dan pengalaman masing-masing pembaca ini akan tersimpan di tiap lembar buku yang disadari atau tidak akan dirasakan oleh si pemilik buku yang baru. Atau kepada siapa buku ini berpindah.

Saya suka membayangkan petualangan buku dan siapa-siapa yang mereka temui berikut karakteristik pembacanya. Dulu, sebelum menjual koleksi buku, saya suka meninggalkan buku yang sudah selesai dibaca di mana saja.

Saya meninggalkan Raden Mandasia-nya Yusi Avianto di terminal keberangkatan Ngurah Rai sesaat sebelum menuju Labuan Bajo. Kumpulan tulisan SGA saya tinggalkan di Samosir Cottage di Tuk-Tuk, esai pendek tentang seni rupa saya tinggalkan di hostel di Yogyakarta, The Geography Bliss bikinannya Eric Weiner saya tinggalkan di kamar hotel saat jalan ke Sorong, belum lagi beberapa buku yang saya tinggalkan di kereta api saat menuju Yogyakarta atau balik ke Jakarta.

Terkadang saya iseng menukar buku yang sudah saya baca dengan buku yang ada di hostel tempat saya menginap saat traveling. Pernah suatu waktu pas di Bali, saya menukar buku saya dengan The Psychopath Test bikinan Jon Ronson.

Lucunya, si pemilik buku yang asli menuliskan pesan di dalam buku, kepada siapa saja yang menemukan buku ini bisa mengontaknya di Instagram. Si pemilik buku seorang backpacker asal Birmingham. Bayangkan sebuah buku bisa melancong ke tempat-tempat berbeda dan ditemukan orang asing! Ide ini membuat saya bersuka hati melepas buku.

Saya punya ratusan buku, tapi justru buku terbaik yang pernah saya baca seumur hidup tidak pernah saya miliki. Judul bukunya Middlesex yang ditulis oleh Jeffrey Eugenides. Buku ini tentang seseorang yang dilahirkan dengan kelamin ganda dan perjalanan mencari jati dirinya.

Saya suka karena bahasanya walaupun ilmiah tapi mudah dimengerti dan humornya cerdas. Buku ini saya pinjam dari seorang teman dengan cara yang lucu juga. Jadi, teman saya pemilik toko buku di Yogyakarta. Ketika saya datang ke Yogyakarta, saya pinjam buku ini dan baru saya kembalikan ketika saya akan datang lagi ke Yogyakarta.

Tahun lalu pas ke Semarang dan mengunjungi toko buku lama, saya ketemu Middlesex versi bahasa Inggris. Ada niat mau beli sih, tapi karena beberapa pertimbangan tidak jadi saya beli.Oh ya, buku ini juga menjadi audio book yang didengarkan oleh ibu-anak di film The Guilt Trip (diperankan oleh Barbra Streisand dan Seth Rogen).

Selain The Middlesex, buku terbaik lain yang saya baca adalah American Gods yang ditulis oleh Neil Gaiman.Ada satu adegan yang memorable ketika seorang laki-laki bercinta dengan salah seorang dewa. Deskripsinya indah sekali, begitu detail, dan cosmic. Dan ketika saya lihat versi serialnya di Youtube, ternyata sama cosmic-nya.

Saya pernah punya koleksi buku terbaik yang ditulis oleh Chitra Banerjee Divakaruni judulnya The Palace of Illusions. Masa itu saya sedang senang-senangnya dengan perwayangan dan kisah Pandawa. The Palace of Illusion mengisahkan tentang Drupadi versi India tentunya.

Kalau beberapa versi cerita mengatakan cinta sejatinya Drupadi adalah Yudhistira atau Arjuna (karena dia paling ganteng), di The Palace of Illusion, dituliskan kalau cintanya Drupadi adalah Karna. Si anak yang lahir dari telinga supaya keperawanan ibunya Kunti tetap terjaga :D.

Buku ini saya berikan dengan seseorang yang spesial dulu. Saya juga sempat memberikan kumpulan esai Julia Suryakusama; Julia’s Jihad. Karena buat saya buku-buku ini bagus dan berharga, saya mau dia membacanya.

Kelindan tentang buku memang melankolis buat saya. Pada saat saya ulang tahun, si orang yang dulunya spesial ini memberikan buku Zahir yang ditulis oleh Paulo Coelho. Tokoh dalam buku tersebut namanya Esther dan kebetulan juga seorang jurnalis.

Di beberapa pertemuan dengan orang-orang spesial yang berbeda, buku kerap menjadi tolak ukur. Baik buku yang ditulis oleh orang tersebut ataupun buku favoritnya. Pertanyaan, “Sedang baca buku apa?” akan menjadi bahasan selama pertemuan dan keintiman.

Begitulah, pada masanya buku tidak hanya sekadar bacaan buat saya tetapi juga pertemuan-pertemuan asing, romantika emosional, dan kedekatan intelektual. Tidak semua harus disimpan, terkadang dilepas bukan karena tak suka, bisa jadi terlalu bagus. Dan hal-hal yang bagus akan lebih baik lagi kalau bisa dinikmati oleh orang yang membutuhkan.

Jakarta, 7 November 2020

Lovebird

Standar

“Kalau dilahirkan kembali, saya mau jadi lovebird…”

***

Semenjak menulis buku Akibat Menabukan Seks, ditambah lagi akhir-akhir ini senang menggambar #eroticadrawing, dan menulis puisi saru, ada banyak cerita mengenai seks serta hal-hal yang berkelindan dengan aktivitas tersebut masuk ke saya.

Seorang teman karib pernah berkomentar, “Kok orang-orang kayaknya gampang banget ya ngomongin soal seks ke kamu..”

“Aku nggak tahu Key, aku sih senang-senang aja menampung cerita..” jawab saya ke Kenya. Mungkin karena saya punya rasa ingin tahu yang menggelora, dan setiap kenal dengan orang, saya pengin tahu latar belakang mereka seperti apa.

Ketika mereka cerita tentang hidupnya, seolah saya punya gambaran bagaimana mereka dibesarkan dan seperti apa aktivitas yang mereka jalani. Dan kebetulan salah satu tema yang saya suka adalah seks.

Sebenarnya tidak setiap ketemu orang obrolan mengenai ini muncul. Hanya saja ketika beberapa kenalan tahu kalau saya suka menulis tentang seks, sering kali mereka langsung mengobrolkan topik tersebut.

Baru-baru ini seorang kenalan menceritakan tentang petualangan seksnya tidur dengan lebih dari 50 perempuan. Mulai dari yang berstatus sebagai pacar, TTM/FWB, PSK, sampai yang berbau komersil.

Kenalan saya ini juga cerita kalau dalam beberapa penggalan kehidupannya, dia mengaku pernah tidur dengan perempuan lebih tua kemudian diupahin uang sampai sepeda motor. Pernah dua kali terinfeksi raja singa tapi tidak sampai parah karena langsung cepat diobati—good for you! Dan suka dioral tapi agak ogah mengoral—typical!

Masih seputar seks, dia menambahkan kelindan baru, kalau zaman sekarang ini bukan hanya laki-laki saja yang kasual melakukan seks, bahkan perempuan juga. Ada banyak perempuan yang dikenalnya menganggap seks sebagai kebutuhan. Dan akan melakukannya dengan siapa pun yang dia mau tanpa ikatan.

“Gue pakai IUD kok, jadi bebaslah mau ngewe dengan siapa saja,” kenalan saya ini meniru omongan teman perempuannya yang waktu itu ditugaskan ke luar negeri dan berikhtiar untuk tidur dengan bule-bule ganteng berotot besar.

Saya tidak tahu, apa maksud obrolan ini. Bisa saja ini hanya obrolan biasa, atau seperti yang sebelum-sebelumnya, si kenalan ini ingin tahu pandangan saya. Secara saya suka menulis tentang seks, suka bikin sketsa sexual intercourse, dan cunnilingus; apakah saya “juga” sekasual itu?

Beberapa kali mengisi diskusi IG Live untuk buku “Akibat Menabukan Seks”, menulis artikel kesehatan dan seks kehidupan urban, membuat saya tetap pada satu kesimpulan kalau aktivitas seksual sejatinya adalah sesuatu yang privat.

Tidak bisa semudah itu dilakukan dan melakukannya, mengingat konsekuensi yang bisa terjadi setelah aktivitas tersebut. Konsekuensi apa? Mulai dari fisik dan psikis. Fisik; penyakit kelamin, psikis; kebaperan akut buat yang tidak terbiasa ataupun tidak lihai main hati.

“Semua orang punya nilai-nilainya masing-masing, ada yang menjadikan seks sebagai sesuatu yang kasual, ada yang menganut poliamori, tapi ada juga yang monogamy. Semua kembali ke personalnya, asal dilakukan secara bertanggung jawab dan consent.”

***

“Kalau dilahirkan kembali, saya mau jadi lovebird…” kata saya.

“Kenapa lovebird?” tanya dia.

“Soalnya lovebird itu monogamy, dia hanya punya satu pasangan seumur hidup. Sampai dia mati.”

“Kamu tahu nggak, kalau kamu dilahirkan kembali sebagai hewan, itu artinya derajat kamu turun. Karena derajat yang paling tinggi itu manusia,” komentarnya.

“Kalau nggak, lovebird, saya mau jadi awan atau langit biru…”

Kenalan saya tidak berkomentar lagi, dia hanya memutar bola mata yang kalau diartikan, “Sakarepmu!”

Jakarta, 2 November 2020

Berganti-gantilah Pasangan Supaya Terhindar dari IMS

Standar

“Ya jangan sama dia terus, ganti-ganti orangnya,” jawabnya penuh keyakinan saat saya tanya apa nggak takut kena penyakit kelamin.

Percakapan ini terjadi saat beberapa waktu lalu saya trekking di curug dekat Sentul. Entah kenapa obrolan ini bisa muncul dengan guide yang mengantar saya. Awalnya, kami sedang rehat di warung depan curug. Saya sambil menggambar-gambar dan dia sembari makan indomie rebus memerhatikan aktivitas saya.

Lalu seperti yang sudah-sudah mengalirlah obrolan, dia cerita kalau dia terkadang suka “jajan”. “Jajannya” di warung karaoke yang mengarah ke Citereup. Di warung karaoke ini tersedia PSK (Pekerja Seks Komersil). Isenglah saya tanya, “Berapaan Mas tarifnya?”

Dia menjawab sekitar Rp 150.000 – Rp 250.000 sudah dengan kamar, “Harga kamarnya Rp 50.000, padahal kamarnya jelek,” celetuknya. Saya rasa dari sinilah bermula pernyataan di atas, saat saya kembali menanyakan dengan rasa ingin tahu, apakah si masnya menggunakan kondom atau tidak.

“Enggak..” katanya.

“Nggak pernah kena penyakit kelamin?”

“Alhamdulillah belum pernah. Ya jangan sama dia terus, ganti-ganti orangnya.”

Saya sempat mau memakan krayon karena cukup terkejut mendengar jawaban polos penuh keyakinan darinya; solusi untuk tidak kena penyakit kelamin ya harus ganti-ganti PSK. Bukannya justru kalau semakin sering berganti pasangan malah memperbesar peluang terkena penyakit kelamin?

Saya sering mendengar mitos seputar mencegah infeksi menular seks (IMS), tapi baru kali ini saya mendengar mitos yang salah kaprah sekali apalagi dijawab dengan penuh keyakinan. Saya pernah mendengar dari beberapa kenalan/teman yang suka “jajan” ataupun berganti pasangan, kalau pilih partner yang penampakan genitalnya tidak menunjukkan peradangan/infeksi.

Padahal yang namanya IMS tidak selalu menunjukkan penampakan infeksi dari luar. Makanya sangat penting penggunaan kondom. Lagian, apakah sebelum ngewe, kita cek dulu kelamin calon partner kalau kira-kira ada sakitnya sanggama tidak jadi?

Sebenarnya bukan hanya soal etis dan tidak etis tapi juga ketika nafsu di ubun-ubun apa masih sempat memeriksa kelamin? Agak aneh juga sih. Ternyata selain mitos penampakan fisik genital, ada mitos yang paling “wow” yaitu berganti pasangan untuk terhindar dari IMS.

Percakapan IMS berlanjut ke relasi dengan istrinya. Apakah istrinya tahu kalau dia suka “jajan”? Dia tidak menyangkal dan tidak mengiyakan. Dia hanya menjawab, “Yang penting kan tanggung jawab…”

Tanggung jawab yang dimaksud adalah tetap memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan walaupun suka “jajan” pada akhirnya kembali ke keluarga. “Lagian sebelum menikah kan dia sudah tahu saya seperti ini, seharusnya ya menerima apa adanya…”

Eerrr…defenisi menerima apa adanya juga bukan berarti menerima kalau si pasangan suka berhubungan seks di luar pasangan tetapnya kaleee! Kalau begitu ya enak banget jadi laki-laki, dia bisa berhubungan sana-sini tapi tetap punya istri yang setia menanti di rumah. Dia bisa “nakal-nakal”, kemudian pulang ke rumah seolah tidak terjadi apa-apa.

Kalau saya melihat sih, ada banyak faktor yang membuat perempuan menjadi pasif dan membiarkan ketika suami/pasangannya berbuat sekehendak hati. Pertama adalah ketergantungan finansial. Ketika perempuan tidak memiliki penghasilan sendiri, otomatis dia bergantung pada pemberian uang dari suami.

Kemudian faktor sosial, dimana ada anggapan yang diamani secara sosial kalau laki-laki bebas untuk menjadi nakal dan perempuan ya harus menerima. Termasuk risiko dari aktivitas seks.

Apa hanya perasaan saya saja ya, terkadang laki-laki mengabaikan dampak dari risiko aktivitas seks yang disetujui. Contoh sederhananya saja adalah ketakutan paling mainstream; kehamilan tidak direncanakan.

Si mas ini mengaku ketika dia berhubungan seks dengan PSK dia ejakulasi (keluar) di dalam. Ketika saya tanyakan apa nggak takut hamil? Dia menjawab sekenanya, “Ya enggaklah, pakai KB mungkin..”

Saya pernah melakukan obrolan ini dengan seorang teman laki-laki yang dulu (karena katanya sekarang nggak pernah lagi) sering berhubungan seks mau sama mau aka tanpa ikatan aka friends with benefit. Seperti si mas juga, teman saya ini selalu ejakulasi di dalam. Nggak takut hamil?

“Nggak, soal pas keluar, ceweknya langsung ke kamar mandi jongkok untuk ngeluarin spermanya..”

“Memang bisa keluar? Kamu pernah lihat?” tanya saya.

“Ya enggaklah, urusan dia itu. Saya mah udah capek, nggak bisa mikir lagi…” jawabnya santai.

Oh ya, saya jadi teringat kalau teman saya ini pernah cerita sebelumnya kalau salah satu perempuan yang kerap diajaknya berhubungan seks, hamil.

“Lha, jangan-jangan anak kamu?” kata saya.

“Ya enggaklah, dia kan begituan nggak sama saya aja…” jawabnya.

Jakarta, 18 Oktober 2020

Diskriminasi Vagina

Standar

“Apa nggak bau ya di bawah sana?” mengomentari postingan saya di story IG. Saya mem-posting gambar laki-laki sedang mengoral perempuan—lukisan yang saya bikin sendiri dengan krayon. Ya, akhir-akhir ini saya senang menggambar dan membuat #eroticadrawing.

Aktivitas oral seks menjadi salah satu tema yang sedang senang-senangnya saya pindahkan ke dalam medium kertas karena buat saya intimasi tersebut sangat intens. Saya juga lebih senang dengan penggambaran laki-laki yang mengoral perempuan saat dunia per-oral-an terlalu didominasi oleh laki-laki sebagai sosok penerima dan perempuan pemberi.

Ketika laki-laki memberikan cunnilingus, saya merasakan sensasi dominasi seksi yang bergairah. Ada semacam kekuasaan, ketika kepala laki-laki berada di antara paha perempuan. Tapi tentu saja itu hanya dalam bayangan dan semangat saya saat mengguratkan krayon. Karena pada akhirnya dominasi ketika berhubungan seks belum tentu juga terjadi pada kehidupan nyata. Bisa jadi itu hanya permainan peran ketika beraktivitas seks.

Ketika ngomongin oral seks, ada kecenderungan kalau aktivitas tersebut hanya dilakukan oleh perempuan ke laki-laki. Stigma bentuk dan aroma membuat vagina mendapatkan diskriminasi. Vagina seolah warga kelas dua untuk mendapatkan layanan oral.

Berbeda dengan penis sebagai pemegang kartu eksekutif.  Penis bisa mendapatkan oral seks dimana saja dan kapan saja, sedangkan perempuan belum tentu. Ya itu tadi, karena aroma dan bentuk.

“Apa nggak bau ya di bawah sana?”

Saya jadi teringat dengan pernyataan seorang mantan teman kerja yang bilang kalau sebenarnya aroma kelamin itu sama saja, baik penis maupun vagina. Dan kalau dipikir-pikir ya memang sama saja sih. Aroma lembap bercampur keringat dengan samar-samar bau sabun (kalau baru mandi), dan sedikit ruap-ruap cairan kelamin.  

Bau penis dan vagina sama saja. Hanya saja vagina memang lebih lembap dan lebih banyak mengeluarkan cairan kelamin/pelumas—entah itu karena adanya rangsangan, faktor hormonal, lingkungan, aktivitas (seperti olahraga), dan psikologis.  Tapi penis juga mengeluarkan cairan pelumas kok, ketika mendapatkan rangsangan. Dan baunya juga sebelas dua belas dengan vagina.

Aroma dan rasa kelamin juga ditentukan dari apa yang kita makan. Kalau kita makan pepaya apa kemudian bau di bawah sana jadi menguarkan aroma pepaya? Ngg…ya nggak juga sih, hanya saja aromanya jadi lebih “enak” ketimbang kalau keseringan atau terlalu banyak makan daging-dagingan.

Kalau soal bentuk, setiap vagina punya bentuk yang berbeda-beda. Media terutama industri pornografi menciptakan imej kalau vagina itu harus plontos, cerah, dengan warna pink di area labianya.

Padahal ya nggak semua penampakan vagina seperti itu. Saya pernah ngobrol dengan dokter Esti dari Klinik Angsamerah yang mengatakan kalau bentuk vagina ya memang beda-beda. Bahkan perubahan posisi membuat rongga ataupun lekuk di dalam vagina jadi berubah juga.

Di dalam vagina tonjolan ataupun lipatan yang disebut dengan rugae. Lipatan-lipatan inilah yang memberikan sensasi kepada penis ketika penetrasi terjadi. Hmm.. saya jadi menyimpulkan sendiri, jangan-jangan sensasi pleasure dari perubahan posisi saat berhubungan seks berarti karena peran besar dari rugae? Berarti hebat banget dong vagina yang kerap mendapatkan diskriminasi karena dibilang lebih bau dan bentuknya aneh? Hehehe…

Tapi kalau saya bilang begitu, nanti saya dianggap mengecilkan peran penis. Pada akhirnya pleasure dari aktivitas seks adalah interaksi dari pelakunya. Mau posisi apapun, ukuran apapun, oral atau tidak oral, apalagi kalau dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan pakai kasih sayang, tentunya.

Jakarta, 17 September 2020

Menjadi Romantis

Standar

Baru-baru ini saya dan teman penggowes sempat menghabiskan waktu di salah satu tempat yang lagi ngehits karena pemandangan Jakartanya. Setelah datang dan melihat, menurut saya pribadi masih ada beberapa tempat yang memberikan pemandangan Jakarta yang lebih cetar.

Tempat yang lagi ngehits tersebut berada di rooftop lantai 11 dan menurut saya pemandangannya kurang greget. Ya, memang terlihat sih bangunan-bangunan tinggi Jakarta, tapi tidak secantik kalau kita mengintip Jakarta dari Westin misalnya atau seromantis di Hermitage atau bahkan di Sky Lounge.

Saya menemukan banyak pasangan muda, anak-anak abege yang datang bersama yayangnya, duduk berdua, berfoto-foto dengan keseruan haqiqi. Saya sempat berkomentar ke teman penggowes, “Kayaknya kita nih yang paling tua di sini. Kita nggak usah datang lagi ke sini ya…”

Tapi, setelah diselami saya menemukan “keseruan” dan alasan kenapa anak-anak muda senang ke sini. Bukan hanya pemandangan langit Jakarta yang romantis, tapi energi yang diberikan tempat itu. Mulai dari live music, sing along, sampai keaktifan para kru tempat tersebut yang ikutan bernyanyi dan berjoget setiap kali lagu dinyanyikan. Penasaran dengan tempatnya? Namanya tempatnya Langit Seduh.

Bayangkan kamu menyeduh kenangan di langit bersama pasangan diiringi lagu romantis dan dipayungi bintang-bintang, belum lagi gedung pencakar Jakarta menjadi saksi cinta kalian tsaaaaah. Kurang romantis apa coba? Kalah drama korea.

“Genggam tangan cokelatku berputar-putar denganku..menarilah denganku…” pasangan di sebelah kami saling menggenggam dan si laki-lakinya bernyanyi mengikuti vokalis band di live music sambil memandang si perempuan. Tentu saja si perempuannya malu-malu dan membalas tatapan dengan penuh cinta.

Romantis banget. Saya sempat berpikir untuk bertanya ke teman penggowes, apa momen romantis yang pernah dia lakukan bersama orang yang dia sukai/cintai/sayangi. Tapi pertanyaan ini tidak sempat saya sampaikan.

Kemudian saya jadi berpikir, kira-kira apa hal romantis yang pernah saya lakukan di relasi-relasi yang tidak seberapa sebelumnya? Banyak yang bilang traveling bersama pasangan adalah sesuatu yang romantis.

Saya pernah traveling bersama (ex) pasangan ke titik nol Indonesia, dia bilang dia mau menginjakkan kaki di titik nol bersama saya. Wah kesannya romantis ya, tapi ternyata tidak juga. Setelah otak saya cukup pintar mencerna, ajakan dia ke titik nol semata untuk keperluan pekerjaan. Dia sedang mengumpulkan foto-foto. Terkadang kita tidak sadar kalau kita sedang berurusan dengan bajingan.

Jadi, titik nol tidak masuk kategori romantis buat saya. Masih lebih romantis lagi, momen motoran sambil menyanyikan lagu “Aku dan Dirimu”, duet Ari Lasso dan BCL. Saya memeluknya dari belakang. Karena perutnya gendut, rengkuhan saya tidak sampai dan minyak wangi murahannya ketika itu menjadi bau favorit buat saya. Kemudian apa lagi ya momen romantis? Menghabiskan malam di Bukit Bintang Patuk Yogyakarta juga jadi momen romantis, ngobrol dari malam ke subuh.

Lalu minum wedang ronde malam-malam di Parangtritis. Itu terjadi hampir tiga tahun lalu, dan sampai sekarang saya masih ingat jelas cantiknya langit karena jutaan bintang-bintang, embusan angin yang kencang dan kami duduk sambil menikmati wedang ronde. Saya sempat berpikir jangan-jangan ketika menciptakan “Kemesraan Ini” si pencipta lagi duduk di Parangtritis kemudian mendapat ilham.

Teman/guru yoga saya pernah meminta saya untuk menaikkan “standard”. Dia bilang kalau bisa makan di hotel bintang lima kenapa harus memilih makan burger? Kebetulan saya orang yang sederhana (atau terlalu sederhana?). Saya suka hal-hal simpel tapi berkesan.

Kategori romantis buat saya tidak rumit, asal dilakukan dengan tulus dan penuh kasih sayang, itu buat saya lebih dari romantis. Ya seperti juga pernah dengan seorang manusia, kami jalan menyusuri Cikini sambil bergandengan tangan.

Saya menganggap itu romantis karena, saya pernah baca buku bikininan dia, dimana salah satu adegannya si tokoh utama bergandengan tangan di Jalan Cikini bersama pasangannya. Dibikinin kopi dan disuguhkan sekerat roti, kemudian duduk di kamar penuh ceceran cat dan lukisan setengah jadi juga buat saya sesuatu yang romantis. Btw, itu kopi terbaik yang pernah saya minum seumur hidup—takarannya pas, sempurna!

Romantis yang teranyar adalah ketika berciuman, berpelukan, sambil setengah menari diiringi lagu Baby I Love Your Way. Tapi sebenarnya dengan “dia” semua jadi romantis. Mengecek saya apakah masih terus melihat/menunggunya saat motornya sudah dihidupkan dan setengah jalan juga sweet buat saya.

Seperti  homo sapiens pada umumnya, saya juga suka datang ke tempat-tempat istimewa, mendapatkan kejutan unik—baru teringat, saya pernah dihadiahi buku dengan nama karakter di bukunya Esther! Buat saya itu romantis juga sih. Walaupun kemudian bukunya saya bakar, karena bikin sedih kalau teringat dengan si pemberi.

Pada akhirnya, defenisi romantis buat saya tidak terbatas pada tempat dan pemberian. Asalkan bersama dengan orang yang kita sayangi dan menyayangi kita itu lebih dari segala keromantisan.  Lagian hidup tidak bisa disetir seperti adegan di film ataupun novel.

Seperti itu juga dengan pasangan. Jangankan romantis, kita maunya yang setia dan relasi yang eksklusif tapi dapatnya bajingan. Kan ngasuin, cuk!

Jakarta, 12 September 2020

Menukar Segelas Kopi Kekinian dengan Seks

Standar

“Aku sih lebih mengapresiasi orang yang membayar pekerja seks komersil Rp 400.000 ketimbang orang yang traktir kopi tapi ujung-ujungnya minta seks.” Percakapan ini terjadi beberapa minggu lalu di bilangan Sabang—tempat favorit saya sepanjang masa.

Obrolan ini berlangsung dengan teman sesama penggowes. Saya membuka percakapan dengan menyinggung pengakuan seorang kenalan yang mengatakan kalau semenjak menikah dia sudah bertaubat dan tidak “jajan” lagi.

Katanya sih dia sudah puas “jajan”. Dibilangnya kalau dihitung-hitung sudah ada sekitar 50-an perempuan yang dia tiduri—baik secara komersil maupun suka sama suka. Di sinilah teman penggowes saya memberikan pernyataan kalau dia lebih mengapresiasi si mantan tukang jajan ini. Relasinya jelas, “Dia mau seks dan dia bayar untuk itu, nggak kayak satunya lagi,” celetuknya.

Maksudnya adalah teman match saya di aplikasi dating dua tahunan lalu. Iya. Jadi, dulu saya sempat match dengan barista. Pertama kali bertemu dia membawakan cold brew yang konon biji kopinya dia giling sendiri. Dia berikhtiar menjemput saya di tempat saya biasa olahraga.

Kopi kekiniannya andalan banget dan pernah menjadi tempat ngopi favorit saya. Di momen tersebut saya mau balik ke rumah kakak saya di Cengkareng. Itu sudah saya sampaikan juga ke dia. Nah, di sini agak lucu sih.

Awalnya saya menawarkan untuk duduk di bangku tempat bakso depan studio olahraga, tapi dia menolak dan katanya, “Yuk, cari tempat lain.” Dan ternyata tempat yang dia maksud adalah persimpangan jalan yang agak gelap.

Kami duduk di sepeda motor dan saya mencoba kopinya. Seperti biasalah, basa-basi, tanya-tanya, dan dia mengaku single—yang sebenarnya setelah saya cari tahu di sosial media dia sudah menikah dan punya anak.

Singkat cerita dia mau mengantarkan saya ke Cengkareng. Dalam perjalanan tersebutlah dia berupaya untuk mengajak saya mencari hotel.

“Berapa harga cold brew-nya?” tanya teman saya.

“Rp 65.000…” jawab saya.

“Dan dengan Rp 65.000 dia mau mendapatkan seks gratis? Nggak modal banget!”

***

Seharusnya aktivitas seks adalah transaksi personal yang dilakukan atas persetujuan bersama, tanpa manipulasi. Apalagi berharap bisa ngeseks dengan modal segelas kopi kekinian? Kalau alasannya supaya ada “rasa”, nggak terkesan komersil—karena dengan komersil seks jadi kurang berasa, nggak masuk akal ya…

Soalnya dengan memberikan cold brew, disadari atau tidak, dia sudah mengomersilkan kopinya. Dengan Rp 65.000, dia berharap bisa mendapatkan seks. Segitunya, cuk!

Pada akhirnya saya setuju dengan teman penggowes saya yang mengapresiasi sikap si mantan tukang jajan; membayar ketimbang gratisan. Apalagi gratisan yang to the point dan on point banget.

Eh, tapi saya punya pengalaman yang agak “mewah” dibanding segelas kopi kekinian. Bahkan saya sempat beranggapan kalau si personal ini manly. Dia menanyakan saya suka makan apa, dia memilihkan tempat makan yang cukup prestisius, membawakan barang-barang saya, memerhatikan saat saya makan, menanyakan hobi dan kesenangan saya—seolah itu hal terpenting di dunia.

Dan pada akhirnya jeng jeng…dia juga mengharapkan seks.

Sejati-jatinya aktivitas seks akan lebih indah dan berjiwa bila dilakukan tanpa tindakan manipulasi berkedok pemberian ataupun perhatian.

Entah mana yang lebih miris, “dihargai” Rp 65.000 atau dilimpahi ke-prestisius-an tapi ujung-ujung ya, untuk sekadar ditiduri.

Jakarta, 09 September 2020

Geprukan Jahe dan Memek

Standar

Jahe (2)

“Jahe digepruk terus dibekapkan ke memeknya,” kata Mba penjaga warung di kaki Gunung Batu Jonggol, Jawa Barat kepada saya. Percakapan ini berlangsung tengah malam, Sabtu (29/08) di warung dengan penerangan temaram, saat teman-teman seperjalanan saya sudah tidur.

Mba penjaga warung menceritakan proses penyembuhan setelah melahirkan di desanya yang dipercayakan dilakukan oleh seorang paraji; istilah untuk dukun beranak. Obrolan bermula dari pertanyaan saya sudah berapa usia kandungan si Mbanya.

Beliau menjawab usia kandungan sudah menginjak 7 bulan dan ini adalah anak kelima. Saya cukup wow, karena dari penampilannya usia si Mba masih cukup muda untuk sudah memiliki lima anak. Dari situlah obrolan mengalir, ternyata Mba penjaga warung menikah di usia 15 tahun sedang suaminya di usia 17 tahun.

“Ya gitulah Mba, namanya juga orang desa, menikahnya cepat-cepat katanya.”

Baru kemudian dia bercerita kalau anak kelima yang sedang dikandung ini kehamilan tanpa rencana. Awalnya dia ingin memasang KB dan saat periksa kesehatan ternyata dia baru sadar kalau dia belum menstruasi cukup lama dan barulah diketahui kalau dia sudah hamil 3 bulan.

“Di kehamilan ini saya mau melahirkannya pakai bidan Mba…” Si Mba bercerita.

“Memang yang sebelumnya?” tanya saya.

Lalu si Mba menjawab kalau empat kelahiran sebelumnya menggunakan jasa paraji. Nah, dulu si Mba tidak takut melahirkan dengan paraji karena usianya masih muda, dan malah dulu dia agak ragu ke rumah sakit. Dia khawatir vaginanya digunting atau malah dirujuk untuk melakukan operasi sesar.

“Empat kelahiran sebelumnya saya normal dan saya nggak pakai digunting-gunting, serem saya..” katanya. Dari situlah dia bercerita kalau proses penyembuhan setelah melahirkan ala paraji dengan menggeprekkan jahe lalu dibekapkan ke vagina. Plus air rebusan jahe yang diminum secara teratur.

“Rasanya hangat dan ketika pipis nggak bikin sakit,” jawab si Mba saat saya bertanya apa rasanya geprukan jahe yang dibekapkan ke vagina. Lebih lanjut si Mba bercerita ada perbedaan, kelahiran dengan bidan dan melalui paraji.

Kalau bidan, katanya setelah bayi keluar air-arinya langsung dipotong, sedangkan dengan paraji, ari-ari harus keluar dulu semua berikut plasenta, baru ari-arinya dipotong. Keinginannya untuk melahirkan melalui bidan juga dikarenakan pengalaman tetangganya yang ketika melahirkan bayi kembar salah satu bayinya tidak bisa diselamatkan.

“Sebenarnya paraji tahu kalau melahirkannya nggak bisa normal harus operasi karena bayi satunya lagi kejepit kaki saudaranya, tapi dipaksa. Yang saya dengar sampai diputar gitu kepala bayinya. Gitulah, jadinya nggak selamat.” Dia menambahkan kalau si ibu juga baru tahu kalau anaknya kembar ketika melahirkan.

Percakapan akhirnya mengerucut ke saya sebagai subyek. Si Mba bertanya apakah saya masih kuliah atau sudah bekerja. Saya jawab sudah bekerja. Lalu dia mengajukan pertanyaan paling klasik sedunia, “Belum menikah?”

“Belum Mba…” jawaban saya.

“Oh…gitu ya kalau orang Kota memang masih berpikir karier, pekerjaan, dan sekolah dulu ya…” katanya, saya menangkap nada sendu. Seolah pernyataan tersebut tidak ditujukan ke saya.

***

Setiap kali melakukan perjalanan saya selalu membayangkan betapa menyenangkan, damai, dan ademnya bila menetap selamanya di tempat yang didatangi. Seperti itu juga ketika saya bermalam di kaki Gunung Batu Jonggol.

Kami tidur di warung, berselimutkan jaket tebal, beralaskan karpet, dan bantal Hello Kitty ala-ala. Kami minum kopi panas, menyantap indomie, dan mendengarkan keotentikan obrolan penduduk lokal.

Kami kedinginan. Merapatkan jaket, berlumur keringat saat melakukan pendakian, mencapai puncak, berfoto, turun, dan sekali lagi membayangkan betapa menyenangkan jika lebih lama menetap di sini. Juga, betapa beruntungnya penduduk lokal bisa menikmati pemandangan aduhai dan menyatu dengan alam.

Terkadang saya berpikir apakah penduduk lokal juga merasakan hal yang sama ketika melihat kedatangan penduduk kota? Apakah mereka juga menginginkan kehidupan yang kami alami? Yang jelas, satu hal yang saya ketahui pasti; keindahan yang pendatang rasakan hanya berhenti pada pencarian pengalaman, sedangkan buat penduduk lokal itu adalah keseharian. Jadi, mana yang lebih baik? Tergantung…

Jakarta, 1 September 2020