Cafe Memories

Standar

people-vintage-photo-memories

Saya memang termasuk orang yang senang mengobok-obok sampah masa lalu. Terkadang dibutuhkan juga melihat ke belakang untuk mendapat inspirasi menulis. Tapi tentang dia sepertinya sudah tidak perlu diingat-ingat lagi, karena semua yang berkaitan dengannya sudah habis ditulis. Jadi memang bagusnya tutup buku saja.

Dia adalah alasan kenapa saya menyenangi daerah Menteng-Cikini kemudian Sabang-Jaksa dan Pasar Festival-Kuningan. Kalau melewati kawasan tersebut rasanya gimana gitu. Sudah setahun belakangan ini tidak pernah lagi muncul perasaan ‘gimana gitu’. Semua sudah biasa saja.

Kemudian tiba-tiba saja perasaan ‘gimana gitu’ muncul, sekira semingguan lalu. Ini karena salah satu murid di kelas Bikram Yoga yang kembali saya ikuti berkomentar soal Jalan Jaksa yang sekarang tidak ramai lagi dengan turis.

Bikram Yoga Kuningan yang biasa saya datangi sudah pindah ke Wahid Hasyim dan berdekatan dengan Jalan Jaksa. Si murid ini cerita kalau dia sebenarnya mau pulang jalan kaki lewat Jalan Jaksa tapi takut karena sepi.

“Sudah tidak ramai turis lagi di sana,” katanya begitu.

Setahu saya kawasan itu masih ramai. Terakhir khusus benar-benar singgah di Jaksa itu tahun 2015, sebelum akhirnya saya meninggalkan Jakarta dan pergi ke kota lain. Ketika 2015, Jalan Jaksa masih ramai seperti biasa dan beberapa restoran/cafe sudah diperbaharui termasuk Cafe Memories tempat mangkalnya dia hehehe.

Jadi si dia ini memang senang ke Jalan Jaksa karena di sana beer-nya murah dan dia bisa melatih bahasa Inggrisnya lewat percakapan-percakapan dengan orang asing. Tahun baruan dia ke sana. Pulang dari nikahan ponakannya dia ke sana. Nonton bola dia di sana juga. Setiap suntuk ataupun mau nge-beer sendiri dia selalu ke sana.

Suatu waktu saya pernah menemani dia di Cafe Memories. Saya ingat, saya mau karena dijanjikan teh manis panas dan roti bakar. Saya kira teh manisnya seperti teh poci, rupanya nggak hehehe. Sedikit kecewa tapi ya sudahlah ya.

Yang bikin menyenangkan adalah karena ada sudut, di bawah tangga ruangan cafe yang penuh dengan buku-buku, membuat bar yang kesannya bronx itu jadi lebih teduh. Tapi, sebenarnya karena ada dia juga sih yang mendadak membuka pintu kayu menuju toilet pas saya berdiri di depan rak buku. Sehingga posisi kami berdiri tepat di hadapan buku-buku kuno. Artistik sekaligus bernas sekali kan?  Hehehe….

Semenjak itu, Cafe Memories menjadi sesuatu yang bermemori buat saya. Sangat menarik sih, ketika melihat dia bergaul dengan orang-orang di luar profesinya. Bagaimana dia dipanggil dengan nama lahirnya, dimana orang hanya melihat dia sebagai dia bukan embel-embel lain.

“Kamu satu-satunya perempuan yang pernah dia bawa ke sini,” kata dua waiter yang menemani saya saat dia sedang ‘mengolah’ bahasa dengan beberapa turis. Pernyataan ini membuat saya menganggap diri istimewa. Apalagi dia juga bilang begitu.

Kemanusiaan-kemanusiaan dia yang memanusiakannya membuat saya suka, sampai akhirnya saya menyadari komposisi  cinta (kalau ini disebut cinta) yang pas adalah jangan pernah suka dengan orang yang lebih gila darimu. Dia ini memang orang yang kadar gilanya terlalu banyak. Selain narsistik akut yang kerap diidap oleh orang-orang yang berprofesi sama seperti dia.

Berdua dengannya saya akan disibukkan bagaimana mengatur strategi supaya tidak makan hati, membebaskan orang tersebut hidup di dunianya dan kembali ketika dia membutuhkan saja untuk akhirnya pergi lagi saat dia inginkan.

…………………….

Sudah lama sekali saya tidak saling mengontak dengannya. Yang saya dengar kadar gilanya masih sama dan tetap disibukkan dengan petualangan-petualangan tanpa akhir. Sepertinya Jalan Jaksa tidak lagi menjadi tempat mangkal dia, mengingat finansialnya yang cukup membaik sekarang. Mungkin dia  sudah mengganti tempat favoritnya dengan cafe/pub/bar yang lebih elite dengan pilihan perempuan yang variatif juga hehehe.

“Cafe ini namanya Cafe Memories, orang-orang yang bertemu di sini bakal punya kenangan indah. Yah, seperti kamu dan dia…” kata salah satu waiter tersebut.

Empat tahun telah berlalu, Cafe Memories sudah berganti wajah. Sedangkan saya, masih sama, bersama tumpukan huruf-huruf dengan font yang berbeda. Dan dia,  di sana, di benua yang entah dimana. Tentang Cafe Memories? Selamanya hanya menjadi memori saja…

Iklan

Tentang Buku Jorok dan Hidup yang Wuasuuuu!

Standar

“Ini bukunya jorok,” kata teman saya saat saya memegang buku berjudul Pelisaurus karya Gunawan Tri Atmodjo.

“Saya suka yang jorok-jorok,” jawab saya spontan kemudian langsung merebut buku tersebut dari genggamannya dan membawanya ke kasir. Seminggu saya mendiamkan buku dengan predikat jorok tersebut karena saya disibukkan dengan hal-hal yang menghasilkan uang sekaligus menguras emosi hehehe!

Kemudian, dua hari lalu saya ke Bandung. Sembari membawa emosi campur aduk antara lebay dan pms saya mengantongi buku ini sebagai teman di perjalanan. Ternyata…buku ini memang jorok karena sebagian besar isinya penuh dengan karakter-karakter yang hobinya ngloco alias onani.

Pelisaurus 1

Meskipun begitu, kumpulan tulisan di buku ini tidak mengarah pada yang jorok tetapi diceritakan secara natural, menyentil dan bernas yang kemudian membuat saya teringat dengan beberapa orang yang memiliki hobi sama dan membaginya secara terbuka sekaligus bangga ke saya.

Ketika balik ke Jakarta, saya meneruskan membaca Pelisaurus di Stasiun Bandung dan sesekali tertawa seperti orang gila. Untung, saya memegang buku, setidaknya orang-orang di sekitar tidak heran. Sampai di entah menit keberapa saya membaca, tiba-tiba dari sisi kiri ada yang nyeletuk, “Bacaannya sama…”

Saya spontan melongok dan melihat mas-mas dengan sedikit uban di rambutnya. Cukup terkejut namun menyenangkan karena sangat jarang bertemu orang yang punya bacaan sama dan mengatakannya terus terang.

Dia lalu bercerita kalau Gunawan Tri Atmodjo adalah temannya, dia kenal dengan Puthut Ea yang juga dia senangi karya-karyanya dan si mas yang ternyata bernama Budi ini mengaku sedang dalam proses menulis untuk mojok.

Tak berapa lama kami mengobrol akhirnya kereta Argo Parahyangan datang dan siap menarik penumpang ke kota kuching. Kami terpisah, saya di gerbong satu dan masnya di gerbong empat.

***

Saya selalu percaya buku-buku yang bagus akan mempertemukan penikmat-penikmatnya untuk saling bercerita dan berbagi pengalaman yang beririsan dengan buku tersebut.

Tidak pernah ada yang namanya kebetulan. Semua sudah ditempatkan tepat pada waktunya. Bertemu orang-orang yang membagi energinya denganmu, mengenal mereka yang menguras emosimu secara tidak berkesudahan, para oportunis yang mengambil kesempatan di saat kau mulai percaya masih ada sedikit kebaikan di dunia yang penuh intrik ini, termasuk bersinggungan dengan para bajingan yang menceritakan proses “ngloconya” kemudian “menuntaskannya” dengan orang yang kau kenal dekat. Lalu kemudian kau harus berurusan lagi dengan tetek-bengek manusia-manusia kerdil yang nyalinya sebatas membicarakan orang di belakang.

Pelisaurus 2

Hidup ini memang wuaaaasu tapi tidak semestinya kita manusia berubah menjadi asu. Lucunya buku tentang “menyenangkan diri sendiri” ini yang justru mengingatkan saya sekali lagi perihal hidup dan segala dramanya.

Pada akhirnya mengutip cuplikan di halaman 173 bahwa ngloco adalah wujud kasih sayang dan derma bakti yang agung kepada diri sendiri, bukan cuma mengajarkan aktivitas seksuil untuk pemuasan belaka melainkan mengingatkan jangan menunggu orang untuk membahagiakanmu ketika kau sendiri bisa membahagiakan dirimu sendiri. Salah satunya tentu dengan membaca buku-buku bagus selain mengumpatkan mantra untuk mereka yang menjahatimu.

Sudahkah kamu ngloco eeh membaca buku bagus hari ini?

 

Tentang Kita yang Mencari Uang dari Hal-hal Gila

Standar

3F60A71400000578-4424508-image-m-77_1492598394882

Pelan-pelan tapi pasti jemari Eggsy (Taron Egerton) menelusuri perut si perempuan sampai kemudian menyelinap di balik celana merah jambunya demi menyelipkan telunjuk yang sudah ditempeli pelacak ke liang vaginanya!

Pertanyaan pertama, kenapa harus vagina? Pertanyaan kedua, kenapa harus ada sekuel kalau hasilnya maksa? Orang bijak bilang, terkadang kita mencari uang dari hal-hal gila. Hal inilah yang saya rasakan saat menonton Kingsman: The Golden Circle!

Menyelipkan telunjuk ke vagina menjadi salah satu misi penting dalam film tersebut. Karena dari situlah nanti Eggsy dan tim “penyelamat dunia” lainnya bisa melacak penawar narkoba berbahaya yang diedarkan oleh Poppy (Julianne Moore).

Nah…soal Poppy menjadi pertanyaan berbeda lagi. Tampaknya musuh Kingsman punya kejiwaan aneh semua deh! Setelah sebelumnya ada psikopat Richmond Valentine yang dimainkan sangat berkarakter oleh si hitam seksi Samuel L. Jackson, jelas tidak ada kebaruan di sini! Sama-sama gila, bedanya penjahat yang sebelumnya laki-laki dan setelahnya perempuan.

Oh, ada yang “baru”! Ketika akhirnya harus diturunkan agen rahasia lain demi membantu Kingsman dan supaya mereka tetap bisa menyelamatkan dunia. Masih masuk akal. Tapi….kenapalah Harry Hart (Colin Firth) mentor dan kawan akribs ayahnya Eggsy harus selamat dari kematian?

Kenapa juga harus ada gel yang bisa menyembuhkan orang yang di otaknya peluru bersarang secara mutlak? Oh, ya saya tidak akan terkejut kalau di sekuel ketiga (jika ada), ada lagi yang bangkit dari kubur!

Yah, seperti orang bijak yang saya sebutkan di awal bilang, terkadang kita mencari uang dari hal-hal gila. Dan tidak ada yang lebih gila dari film Hollywood yang menjual ketidakmungkinan namun tetap dicicipi secara massal oleh konsumennya.

Termasuk Anda kan? Iya saya juga!

kingsman-2-post-credits-scene-1022534.jpg

Kan Tidak Perlu “Sesuatu” Juga Untuk Datang Ke Jogja

Standar

Kali ini saya punya misi yang istimewa ke Jogja….

Selain sebagai penghabisan sebelum akhirnya kembali ke rutinitas sama, saya punya alasan spesial untuk mendatangi kota ini. Padahal, dua minggu sebelumnya saya baru mengunjungi kota ini juga.

Waktu itu tidak ada niat khusus, perjalanan dadakan yang rencananya akan mencoba tempat-tempat baru yang belum pernah didatangi di Jogja. Ya, sebagai salah satu penyuka Jogja, saya termasuk tamu yang setia. Selalu mendatangi tempat yang sama terus menerus.

Selama dua tahun lengkap, pelesiran saya di Jogja hanya sekitar Prawirotaman dan tempat-tempat favorit lainnya. Bukan cuma mendatangi tempat yang sama, bahkan di ViaVia saya selalu memesan menu yang sama; Java Coffee dan Cinnamon Roll. Untuk Java Coffee, saya bisa memesan bergelas-gelas karena enak banget! Java Coffee yang pahit pasangan yang tepat untuk Cinammon Roll yang legit.

Dua kali terakhir ini, saya melakukan hal berbeda! Tidak mengunjungi tempat yang sama dan melakukan hal berbeda. Dua minggu lalu, saya makan di Warung Kopi Klotok di 16 Km Kaliurang dan sangat sangat menikmati menyantap makanan rumahan dan teh poci yang endeeeus banget! Murahnya kelewatan!! Sepiring nasi dengan sayuran yang bisa ditambah sesuka hati hanya Rp 11.500, untuk protein hewaninya yang baru dikenakan harga tambahan yang tidak mahal juga. Tentang pisang gorengnya, seperti menyantap sebuah kesempurnaan–kuning keemasan, garing di luar lalu lembut di dalam, membuat yang mengunyah akan merekomendasikannya ke penghuni bumi lain! Saya juga mencicipi kopi di tempat berbeda yang walaupun tidak sedahsyat yang sebelum-sebelumnya, cukup lumayan untuk dijadikan selingan yang tidak diulangi lagi hehehe…

Itu cerita dua minggu lalu, kali ini misi ke Jogja hanya karena ingin mendengar Adhitia Sofyan bernyanyi “Sesuatu di Jogja” di TKP-nya langsung! Sebenarnya kesenangan saya pada Adhitia tidak seperti ke Eross S07, Iwan Fals atau Payung Teduh yang senangnya senang banget, saya senang “saja” dan awalnya karena suka “Forget Jakarta”.

Baru, setelah dia menyanyikan “Sesuatu di Jogja” yang secara random saya temukan di YouTube, kesenangan saya naik satu derajat. Dimana lagi tempat yang paling pas mendengarkan lagu dengan tema Jogja kalau bukan di tempatnya langsung? Itupun, saya dapat info Adhitia nge-gig dari flyer yang ditempel di dinding di jalan saat saya datang ke Jogja dua minggu lalu. Se-spontan itu…

Hasilnya? Feel-nya dapet sih, walaupun penontonnya tidak cukup menyenangkan untuk dijadikan teman nonton hehehe. Membuat saya teringat dengan penonton Payung Teduh yang lebih tenang….

Oh, ya tanpa terencana saya juga menginap di Abrakadabra Art B&B yang owsome! Rp 68.000/ malam di dormitory mix, sudah termasuk sarapan dan snacks (kopi, teh, roti) sesuka hati! Dan ada box yang menyediakan obat-obatannya juga lho. Siapa tahu ada yang masuk angin atau terluka (hatinya) hehehe…

IMG_20170930_075207

Tempatnya super nyaman sih, mirip rumah sendiri. Kita yang membersihkan piring dan gelas plus menjaga kenyamanannya supaya tamu yang lain tidak terganggu dengan kebisingan kita. Sedikit keunikannya, di toilet kita bisa memberikan corat-coret pesan yang malah memberikan penampakan yang nyeni!

IMG_20170929_181317.jpg

Saya ibarat menemukan tempat baru lagi untuk didatangi kalau lagi pusing di Jakarta dan sudah merencanakan untuk kembali lagi. Kapan? Tidak mungkin dalam minggu depan sih. Tapi pastinya, tidak perlu sesuatu untuk datang ke Jogja…

Antara Bokong Reza Rahadian dan Krisis Perempuan Paruh Baya

Standar

Bukan karena ingin melihat Reza Rahadian masturbasilah makanya untuk kedua kalinya saya nonton Something in The Way yang diputar di Radiant Cinema, Tangerang Selatan. Yah, walaupun, melihat Reza beraksi “solo” bukan sesuatu yang membosankan juga! Reza sangat piawai memerankan tokoh Ahmad, supir taksi yang rajin sholat namun kesengsem dengan Kinan alias Santi pelacur jalanan.

20134178_2_IMG_FIX_700x700

sumber foto: http://itcaughtmyeyes.com

Saya bukan cuma memuji akting “seksual” Reza yang wow; mulai dari akting masturbasi yang sangat menjiwai dan juga ekspresi kenikmatan pada wajahnya saat pertama kali orgasme dengan berhubungan badan tetapi juga badannya yang terpahat bagus. Kalau diibaratkan patung, Reza adalah masterpiece dari sang pemahat–body-nya bagus bener, hehehe!

Saya bukan Reza addict, tapi suka dengan aktingnya sejak dia main jadi karakter yang menyebalkan dalam film Perempuan Berkalung Sorban. Kemudian ada 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta dan Habibie & Ainun. Film-filmnya yang sekarang ini saya kurang begitu sreg.

Anyway, sebenarnya kemarin saya cuma mau nonton About a Woman. Tapi karena diputarnya jam 7 dan saya datang kecepatan takut kehabisan tiket, jadilah untuk menunggu saya nimbrung lagi nonton Something In The Way yang dilanjut dengan About a Woman.

Sejujurnya sih agak sedikit drop, ibarat makan, sudah kenyang dengan suguhan Something In The Way, harus ngunyah About a Woman yang so-so. Saya nggak bilang kalau About a Woman nggak bagus. Tapi, kalau dibandingkan dengan Something In The Way ataupun Lovely Man, masih lebih bagus kedua film sebelumnya.

About a Woman bercerita tentang perempuan 65 tahun yang hidup sendiri di rumahnya. Rutinitasnya itu-itu saja, makan, olahraga, nonton film dan merangkai puzzle. Ketika pembantu perempuannya berhenti, dia kedatangan keponakan dari menantunya yang disuruh sang mantu untuk melihat mertuanya.

Di sinilah konflik cerita muncul, ketika kedua manusia terpaut usia jauh ini menemukan gejolak seksual pada masing-masing. Mereka mulai bereskperimen dengan rasa dan fisik mencari makna, apakah ini hanya perasaan sesaat, dorongan biologis atau hanya naluri kesepian?

Seperti biasa, film-filmnya Teddy Soeriaatmadja selalu punya ending sedih. Inti film ini sih, kesedihan bisa membunuhmu pelan-pelan. Baik secara konotasi maupun denotasi….

118125-film-festival

Filosofi Odong-odong

Standar

Semenjak lebih sering bekerja dari rumah, saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama ponakan. Entah itu mengantar, menjemput mereka dari sekolah dan setiap pagi atau sore kami punya kebiasaan untuk naik odong-odong.

Odong-odong adalah semacam gerobak yang memiliki beberapa deretan tempat duduk dan ditarik dengan sepeda motor. Biasanya ada 3-4 baris dengan muatan 3-4 anak per bangku tergantung besar kecilnya si anak. Kemudian menambah keseruan, ada playlist lagu yang diputar.

Cukup membayar 2000 perak, penumpang akan dibawa berkeliling sesuai dengan rute yang ada. Biasanya satu kali putaran bisa 15-20 menit. Ternyata kendaraan ini tidak hanya menjadi idola buat para anak saja tetapi juga orang tua. Saya lebih sering melihat ibu-ibu sih ketimbang bapak-bapaknya. Mungkin para bapak sibuk mencari uang makanya yang menemani krucil seringnya para ibu.

Odong-odong.jpg

Ponakan saya yang paling kecil dan imut si Nom, kegandrungan odong-odong. Dalam sehari dia bisa naik 6 x putaran odong-odong dengan rinciang masing-masing 3 putaran di pagi dan sore. Menemaninya naik odong-odong sedikit banyak membuat saya hafal lagu-lagu yang diputar dan keunikan tak biasa yang susah untuk ditemukan di kota besar. Misalnya, ibu-ibu berdaster menggendong balitanya dengan kain jarik dan menyimpan uang di dalam beha! Fenomenal sekali ya kan?

Sejujurnya, saya sangat menikmati momen naik odong-odong dengan si Nom dan anak-anak kecil lainnya. Pasalnya, ada banyak kejadian unik dan hal-hal sederhana yang menyelinap dalam pengamatan saya. Apalagi kalau bukan interaksi orang-orang di perkampungan tempat kami tinggal. Ada banyak suku di sini, bukan hanya Betawi, Jawa, Cina, Batak dan suku-suku lain yang tidak tertebak saya lewat pandangan mata dan obrolan.

Laju jalan odong-odong yang pelan tapi pasti membuat saya mampu merekam keadaan sekitar. Ibu yang menjemur baju, menyuapi anaknya, anak-anak kecil setengah telanjang yang lari di gang-gang, aroma hio yang hampir habis terbakar meruapi jalanan–berasal dari depan rumah orang Cina di depan jalan, seorang bapak dengan kursi roda sedang bermain catur (beberapa kali lawan mainnya selalu itu-itu saja tapi sering juga berganti-ganti), kakek tua yang selalu setia minum kopi di pos satpam, gerombolan ibu-ibu yang bergosip di gerobak bakso dan macam peristiwa unik lainnya.

Kehidupan bersahaja yang merakyat ala rakyat kecil namun tetap berbahagia dalam kesederhanaannya. Saya rasa para “penguasa” harus naik coba naik odong-odong untuk tahu bagaimana kehidupan rakyat sebenarnya hehehe…

Dari beberapa hal yang saya nikmati selama naik odong-odong, ada hal yang tidak masuk ke dalam nalar saya yaitu soal jenis lagu yang dimainkan si abang odong-odong. Aneh, kebanyakan lagu-lagunya adalah genre dangdut denga lirik nakal seperti ini;

Liriknya sangat absurd dan tidak pantas untuk diperdengarkan ke anak-anak. Apakah lagu ini diputar untuk memenuhi selera abang odong-odongnya atau ibunya para anak-anak ya? Semacam wanti-wanti supaya hati-hati dengan para pria buaya?

“Wanita punya lubang buaya” bukan cuma satu-satunya lagu yang masuk kategori dewasa, ada juga lagunya Zaskia Gotik…

Kalau kamu mendengarkan liriknya, pasti langsung teringat dengan Bang Toyib yang tidak pulang-pulang. Sepertinya Bang Jono ini punya kebiasaan yang sama dengan Bang Toyib, suka kelayapan dan tidak pernah beli susu untuk anak-anaknya. Eh, apa lagu ini diputar supaya anak-anak kecil juga “demo” ke bapaknya kalau tidak dibelikan susu?

Di antara banyak lagu yang tak masuk akal, ada satu lagu yang masih bisa ditoleransi seperti ini…

Yah walaupun liriknya tetap masih tergolong “dewasa”, setidaknya tidak ada kata-kata yang mengumbar di sana, justru mengajarkan kesederhanaan dan mimpi tak muluk. Berharap punya anak dua….tinggal di rumah sederhana…

Dan….selama menjadi penumpang setia odong-odong, hanya satu lagu inilah yang relevan dengan anak-anak…

 

Kalau saya punya odong-odong, saya akan membuat playlist lagu-lagu yang lebih masuk akal untuk diperdengarkan kepada anak-anak temannya si Nom. Misalnya seperti lagu ini…

 

Atau…

 

Lebih masuk akal kan?

Mandalawangi, Perjalanan tentang cinta tak sampai

Standar

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu….

 

Menurut kepercayaan masyarakat setempat yang tinggal di sekitar Gunung Gede – Pangrango, Jawa Barat, Gunung Gede melambangkan perjalanan sedangkan Gunung Pangrango adalah tempat untuk kembali.

DSCN2186

            Bisa jadi inilah yang membuat Soe Hok Gie mencintai Pangrango dan membuat teman-temannya berikhtiar untuk menabur abunya di Mandalawangi—lembah di Pangrango. Pastinya Mandalawangi memiliki kenangan yang sangat dahsyat buat Soe Hok Gie sampai-sampai banyak puisi tercipta tentangnya.

Mulai dari pandangan-pandangan politik kritisnya sampai dengan kisah cintanya yang tak selesai. Tahun 1942 dia lahir dan meninggal karena mengisap asap beracun di Semeru tahun 1969. Dalam rentang waktu tersebut sudah seringkali Soe Hok Gie melepas keresahannya di Pangrango kemudian menyepi di Mandalawangi.

Selepas Soe Hok Gie mangkat, pesona Mandalawangi kian menghipnotis hingga sekarang entah sampai kapan. Mandalawangi telah menjadi ikon para pendaki yang menjadikan Soe Hok Gie sebagai idolanya dan para pendamba romantisme.

Gede dan Pangrango dari Cibodas.JPG

            Terbukti hampir setiap weekend Pangrango menjadi destinasi buat penduduk urban yang mencari ketenangan di penghunung minggu mereka yang padat karena pekerjaan dan macet kota besar. Travel agent juga cukup sering membuat jadwal ke sana. Karena memang terbukti minat berkunjung ke sana cukup tinggi.

Sebenarnya gunung-gunung di Jawa Barat menjadi favorit para gunung mania Ini dikarenakan jalur yang jelas, trek yang tidak begitu berat sehingga tidak dibutuhkan ketangguhan khusus untuk sampai ke sana. Beberapa diantaranya yang menjadi destinasi lain yang disukai adalah Papandayan, Cikuray, Guntur dan Ciremai.

Namun memang belum ada yang mengalahkan magnet Pangrango. Selain karena pikat Gie, biasanya untuk orang-orang yang berparu-paru kuat akan melanjutkan pendakian ke Gunung Gede yang menjadi tetangga dari Pangrango.

Kuncup Edelweiss di Lembah Mandalawangi.JPG

            Ada banyak jalur yang bisa digunakan dalam pendakian Pangrango. Sejauh ini yang terdata ada sekira 20 jalur. Namun yang paling populer adalah Cibodas yaitu masuk ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Bila melewati rute ini kita bisa menikmati objek wisata lain sebelum sampai ke Pangrangonya. Beberapa di antaranya adalah Air Terjun Cibeureum, Air Panas yang memang dilewati sebelum mencapai Kandang Badak—yang biasanya menjadi tempat  berehat ataupun menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak Pangrango.

Meski treknya melalui jalur Cibodas ini tidak begitu berat dibanding trek yang lain namun tetap cukup menguras keringat. Apalagi buat orang yang jarang berolahraga. Kira-kira 7-8 jam perjalanan dengan kecepatan biasa untuk sampai ke Kandang Badak. Selebihnya antara 2 – 4 jam untuk sampai di Pangrango dan 1,5 – 2 jam untuk sampai ke Mandalawangi. Menerobos jalan yang sempit, becek, penuh tanjakan, belum lagi batang-batang pohon besar yang menghalangi jalan.

Euforia “Gie” memang sangat berasa. Ransel-ransel raksasa di pundak, kain yang melilit leher ataupun kepala dan sepatu gunung menutupi kaki. Semangat untuk sampai di puncak sudah mulai membara di warung-warung biasa para pendaki berkumpul sebelum memulai perjalanan.

Tidak jarang juga ada pasangan yang mendaki gunung cinta ini dan mendirikan tenda di Mandalawangi. Penggalan puisi kabut tipis mulai turun di lembah kasih lembah Mandalawangi memang benar-benar menghipnotis pendaki untuk menginap di Mandalawangi.

Mengucap janji, bergandengan tangan sambil duduk tepekur menyaksikan kuncup-kuncup edelweiss yang tumbuh abadi. Rasa lelah tergantikan sudah tiba di Pangrango yang puncaknya tidak begitu luas namun cukup untuk menyaksikan keindahan alam dari ketinggian 3019 mdpl. Barisan awan serta bukit-bukit hijau yang membentang. Angin beku yang menampar wajah, mengeringkan keringat yang terkuras di perjalanan.

Mimpi untuk berada di labuhannya Soe Hok Gie terwujud sudah. Sebuah perjalanan tentang cinta yang tak sampai…

 

DSCN2273.JPG