Evolusi Wawancara

Standar

Wawancara 2

“Jadi kau ketemu narasumber bawa-bawa kertas HVS?” tanya Kordinatoor Lapangan (Korlip) ke saya.

“Iya Bang..”

“Nggak diketawain?”

Saya tidak menjawab. Niat saya membawa HVS bekas supaya memaksimalkan penggunaan kertas saja. Tapi buat Korlip itu agak malu-maluin. Dan dia menyuruh Sekretaris Redaksi untuk memberikan notes kecil dengan logo koran tempat kami bekerja.

“Nah ini bawa!” katanya.

Ini terjadi 12 tahun lalu.

Rupa-rupa wawancara sudah mengalami evolusi sejak saya pertama kali melakukan wawancara itu sendiri. Dulu konvensional sekali. Mencatat pernyataan narasumber di kertas dan saya kerap diminta untuk datang menemui langsung si narasumber.

“Supaya kau bisa mencatat gerak-geriknya ketika si narasumber menjawab pertanyaanmu. Dan itu bisa kau tambahin dalam tulisan,” kata si Korlip. Maksudnya seperti ini “……,”kata A sambil mengusap dahinya.

Menjumpai narasumber secara tatap muka, siapa tahu mood ketika pertama kali bertemu si narasumber bisa menjadi lead tulisan. Misalnya seperti ini…

Hampir mendung ketika saya menunggu B. Es Jeruk yang saya minum hampir setengahnya habis. Saya teringat jemuran yang belum diangkat di rumah ketika tiba-tiba suara berat menyapa saya, “Maaf, sudah lama menunggu?”

Mungkin deskripsinya agak “dangkal” ya hehe, tapi kira-kira seperti itu. Romantisme-romantisme semacam ini sudah jarang ditemukan. Wawancara zaman now bisa dilakukan secara online dan direkam.  Bila terbentur sumber yang kurang, tinggal tambahkan saja dari informasi internet.

Kalau dulu? Tidak bisa menambahkan sumber data dari internet karena internet belum selengkap sekarang. Pun, orang-orang zaman dulu belum semuanya menggunakan akun media sosial. Sekarang rata-rata sudah punya Instagram, Facebook, LindkedIn, atau kalau dia public figure dia punya rekam di internet yang bisa dibaca-baca untuk data tulisan.

Bisa dibilang sumber data/informasi yang kita peroleh ya dari si narasumber itu sendiri, atau dari teman-teman wartawan yang sebelumnya pernah wawancara dengannya, atau memang sudah kenal.

Kecanggihan wawancara era sekarang memang sudah menerabas batas. Bahkan wawancara bisa dilakukan via WhatsApp. Saya beberapa kali juga pernah melakukannya. Sambil membalas pesan WhatsApp si narasumber saya berganti baju atau mengaduk kopi.

Kalau ketemu langsung, hal ini nggak mungkin dilakukan kan? Email, DM Instagram adalah platform lain yang saya gunakan untuk ngobrol dengan narasumber. Walaupun platform-nya fleksibel, saya “tahu diri”. Tidak akan membiarkan narasumber saya menunggu ketika wawancara berlangsung.

Ini sebenarnya kebiasaan dari zaman konvensional sih, Korlip saya selalu mengingatkan untuk datang lebih dulu. Alasannya, mulai dari sisi psikologis supaya bisa sempat mengatur napas dan tahu kondusifitas lokasi di mana wawancara berlangsung.

Pesan Korlip lainnya adalah jangan mudah terbawa cerita si narasumber. Kalau si narasumbernya doyan banget cerita bisa berjam-berjam, apa engkau bakal tetap meladeni? Padahal dalam sehari kita harus menyetor 3 tulisan–dan ini ada narasumber “hidupnya” semua lho bukan saduran, kawan. Tetap fokus itu juga penting, supaya obrolan nggak lari-lari. Kecuali engkau punya waktu yang panjang.

Beberapa waktu lalu saya pernah diwawancara dan dia mewawancara saya menggunakan WhatsApp. Obrolan diiringi jeda yang cukup lumayan. Seolah bukan “wawancara” tapi chatting dengan gebetan. Saya bahkan tidak tahu kalau wawancara sudah berakhir karena belio tidak menginfokan hehehe. Kalau saya bilang tipikal generasi Z, nanti saya disebut menggeneralisasikan semua ummat.

Terkadang saya kangen dengan masa-masa konvensional dulu. Catatan-catatan di kertas, pengalaman nyata dengan narasumber, mengamati gestur, melihat peristiwa dan memberikan deskripsi lapangan, mendapatkan ilham lead dari daun jatuh atau warna baju.

 

Jakarta, 30 Juni 2020

Perempuan Single Indonesia Di Atas 28 Tahun “Disukai” Setan, Gaes!

Standar

single foto

Baru saja ada masuk pesan di Instagram saya, berisikan foto Tara Basro dan Daniel Adnan. Teman saya mengetik, “Tara Basro sudah menikah ya..” lalu saya jawab, “Baguslah, berarti Tara Basro tidak termasuk perempuan single berusia 28 tahun yang tertekan dengan status lajangnya sehingga memicu dirinya lebih sensitif dengan hal-hal goib.” Si teman membalas dengan ikon senyum karena dia paham maksud saya.

Saya sering bertemu dengan match yang ajaib di dating apps, tapi baru kali ini sih “ajaibnya” benar-benar maksimal. Sebut saja namanya Umar. Ketika melihat fotonya saya tidak membaca profilnya. Dan ketika match baru saya tahu kalau dia menyebut dirinya tarot reader dan necromancer; orang yang bisa bicara dengan arwah. Dia juga pernah mengalami kematian beberapa kali tetapi akhirnya hidup kembali.

Cukup penasaran dengan profilnya, saya langsung chatt dia. Awalnya saya tanya-tanya soal profesinya, kemudian saya jelaskan kalau saya beberapa kali pernah punya pengalaman goib. Dulu pernah didatangi sama spirit  yang sama berulang. Ada dua spirit; satu bule, yang satunya lagi perempuan.

Kemudian saya juga menceritakan mimpi yang susah dilupakan  ke dia. Salah satu scene dalam mimpi tersebut adalah penampakan lemari. Akhirnya, kurang lebih setahun kemudian saya benar-benar melihat lemari tersebut di kehidupan nyata. Yang saya tanyakan kepada dia, kira-kira ada purpose-nya nggak sih kenapa saya bisa mengalami hal-hal tersebut.

Saya juga sempat bilang kalau saya pernah cerita dengan seorang guru kundalini mengenai pengalaman-pengalaman goib ini dan si guru bilang supaya saya “menutup” hal-hal tersebut. Katanya, tidak semua spirit itu baik.

Lalu si Umar memberikan penjelasan; kenapa saya menjadi “sensitif” karena saya perempuan single  di atas 28 tahun yang tertekan oleh tuntutan untuk melepas masa lajang dll-nya. Kata dia kecenderungan menjadi “sensitif” sering terjadi pada perempuan-perempuan lajang Indonesia. Saya agak terkejut sih, masakan hanya alasan sesederhana itu bisa bikin orang sensitif dengan hal goib?

Terus kenapa harus perempuan, memangnya masalah yang bikin tertekan hanya persoalan single atau tidaknya saja? Lalu saya tanyakan, atas dasar apa dia berkata seperti itu. Dia jawab, dia sudah banyak bertemu dengan perempuan-perempuan yang mengalami hal serupa, “Ada ratusan,” katanya.

“Ratusan itu berapa?” saya tanya lagi. Dia jawab 150-an orang. Saya semakin skeptis, saya bilang sambil sebelumnya menghaturkan maaf, “Bisa nggak kamu memberikan bukti kalau kamu memang bisa “baca” orang, coba “baca” sesuatu tentang saya?”

Kemudian dia jawab kurang lebih begini; ketika dia “membaca” akan ada sesuatu yang terbuka dan ketika itu terbuka bisa jadi Yang Maha Kuasa membelokkan. “Karena masa depan bisa berubah,” katanya.

Ya saya percaya sih, masa depan bisa berubah hanya saja saya ingin semacam pembuktian apa dia memang benar-benar bisa “membaca” atau tidak. Apa yang dilihatnya dari masa lalu saya, atau setidaknya mengenai mimpi yang sedikit saya ceritakan ke dia.  Dan untuk itu dia seperti gelagapan dan tidak bisa memberikan penjelasan yang pasti.

Pun, penjelasan dia terkesan patriarki seolah menyebutkan kalau perempuan single di atas 28 tahun tidak hanya tertekan karena tuntutan lingkungan tapi juga berisiko sensitif terhadap makhluk halus.

Dia bilang perasaan tertekan ini secara sadar dan tidak sadar akan “membuka” diri si perempuan sehingga bisa lebih peka terhadap gesekan hal-hal goib. Hufh, berat banget ya jadi perempuan single Indonesia. Sudahlah mendapat tekanan dari sosial, sering “diganggu” makhluk halus lagi!

Oh ya, kalau di sini ada psychic atau orang yang bisa lebih menjelaskan, apakah memang benar begitu seperti yang dibilang Umar? Atau punya pandangan lain, mungkin bisa memberikan pencerahan…

 

Jakarta, 27 Juni 2020

 

 

 

Karena Kondom Saja Tak Menjamin, Sayang…

Standar

DCIM100GOPROGOPR1219.

“Nggak kena sifilis?”

“Nggak kok hahaha”

“Belum aja kali…” kata saya dalam hati.

Percakapan ini masih segar terjadi dengan seorang kenalan yang menggunakan aplikasi dating untuk mencari FWB (friends with benefit). Berdasarkan ceritanya, dia mencari FWB di beberapa apps seperti Tinder, Tantan, dan Bumble.

Terlepas dari dia sudah berstatus suami orang, yang parah dari pengakuannya adalah dia tidak pernah menggunakan kondom dengan rekan-rekan FWB-nya. Dari situlah muncul pertanyaan saya, “Memang nggak kena sifilis?” yang dijawabnya dengan yakin “tidak”.

Menurutnya, dia pilih-pilih dengan siapa dia bersenggama dan dari hasil kurasi independen tersebut sampai sekarang dia aman-aman saja. Kalau dari ceritanya dia, pasangan FWB-nya kurang dari 10 orang, itu belum termasuk istrinya.

Bayangkan bila kurang dari 10 rekan FWB tanpa kondom tersebut ternyata punya FWB-an lain atau pasangan tetap, persenggamaan ini bila diurutkan bisa seperti multi level marketing dengan risiko Infeksi Menular Seks (IMS) sebagai “income” pasif maupun aktif.

“Kondom saja sebenarnya bukan jaminan pencegahan efektif dari IMS,” ini dikatakan dr. Mikhael dalam sesi diskusi Infeksi Menular Seks lewat aplikasi zoom, Senin (16/6) lalu. Diskusi ini diwadahi oleh Perkumpulan Samsara yang sebelumnya menggelar Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR) Online 30 Mei – 13 Juni 2020.

10 peserta—termasuk saya, berasal dari latar belakang yang berbeda dan ada juga yang dari dunia medis dan salah satunya adalah dr. Mikhael, yang bekerja sebagai staf medis di Klinik Mawar, di Bandung.

Seharusnya kan diskusi sudah selesai di tanggal 13 Juni, tetapi ada kelas tambahan dan bahasannya mengenai IMS. Salah satu topik yang menurut saya menarik adalah pernyataan dr. Mikhael yang mengatakan menggunakan kondom saja bukan jaminan kita tidak terkena IMS.

Wah, gawat banget nggak? Kondom sebagai penyelamat satu-satunya penetrasi kok bisa tidak aman? Ternyata oh ternyata ada banyak musababnya:

  1. Salah ukuran, kalau kondom yang engkau kenakan tidak sesuai dengan ukuran penismu entah kekecilan atau kebesaran bisa berabe. Kalau kebesaran, pastinya kondom tidak melekat sempurna di penis, bisa-bisa malah lepas saat terjadi gesekan ataupun penetrasi. Dan kalau kekecilan? Batang penis tidak tertutup sempurna, yang menyebabkan tetap ada pertemuan kulit dengan kulit dan pertukaran cairan. Kedua hal ini bisa meningkatkan risiko IMS. Makanya kadang beberapa orang kutil kelaminnya tidak di ujung penis melainkan di area pangkalnya. Itu bisa jadi karena penis yang tidak tertutup maksimal.
  1. Salah mengenakan, tidak tepat mengenakan kondom juga bisa bermasalah. Itu terjadi saat mengenakan kondom kamu tidak menjepit ujungnya. Jadi ujungnya harus dijepit supaya udara di dalam kantung kondom keluar. Nah, kalau tidak dijepit ketika ejakulasi terjadi dan ada tekanan udara tambahan, bisa-bisa kondom pecah dan terjadinya kebocoran say.
  2. Kekonyolan-kekonyolan lain, “Aku buang di luar tapi,” kata si dia. Lagi-lagi ketakutan yang paling parno malah takut hamil, bukan IMS. Sebagian besar orang masih beranggapan kalau kondom itu cuma sebagai pencegah kehamilan. Dan risiko dari melakukan hubungan seks kasual hanyalah kehamilan makanya pakai kondom. Padahal ya yang namanya IMS itu bisa jauh lebih berbahaya dari kehamilan.

Kekonyolan-kekonyolan dalam penggunaan kondom menjadi pemicu IMS. Misalnya pas penetrasi tidak pakai kondom, tapi begitu mau ejakulasi alias keluar baru kondomnya dipakai. Atau ada juga yang ajaib, pas penetrasi pakai kondom tapi gitu mau ejakulasi kondomnya dicopot karena mau merasakan sensasi keluar di dalam. Yah, sama aja kaleeeeeee….

Membicarakan masalah seks memang tidak pernah ada habisnya. Sama seperti macam-macam kondom yang beragam mulai dari tekstur, warna, dan rasa.

Jadi, intinya kondom nggak menjamin nih? Iya kalau salah pakainya. Pakai kondom nggak enak, enaknya skin to skin, tapi kalau nggak pakai kondom gimana caranya supaya enak tapi nggak kena IMS? SETIA!

  Jakarta, 16 Juni 2020

Fakboi dan Public Figure

Standar

WhatsApp Image 2020-03-06 at 12.26.11 (3)

Sesungguhnya pandemi corona ini membuat orang-orang melakukan aktivitas yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Seperti saya yang jadi rajin mantengin Twitter, apalagi kalau ada berita-berita seputar dunia hiburan yang menarik. Dan namanya jaring berita dari link A bisa masuk ke link B, sampai akhirnya saya ketemu dengan #yudismp.

Ini bermula dari akun gosip di Instagram yang memuat video Aron Ashab yang memplesetkan video Dara Arafah, tercuatlah #yudismp yang akhirnya saya temukan siapa sosok di balik #yudismp itu di lini Twitter.

Terlepas dari benar tidaknya, saya geli-geli sendiri dan cukup miris membaca fenomena sosok publik menjadi fakboi. Geli kalau mengingat-ingat pesan-pesan fakboi yang masuk ke saya, betapa perkentaan adalah tujuan dari semua ucapan-ucapan manisnya.

Miris karena saya pernah jadi korban fakboi ketika di pertengahan usia 20-an. Fakboi yang datang dari dunia yang saya senangi  dan saya kira bisa mendapatkan pencerahan dari perkentaan dengan sosok panutan yang diidolakan tersebut.

Ternyata tidak juga kok. Mungkin iya, beberapa tulisan lahir dari kedekatan tersebut tapi mengingat betapa manipulatif kala itu, tidak sepatutnya relasi seksual tersebut terjadi. Dalam kasus #yudismp, si calon korban mencuitkan balasan, “Lo nggak bisa mencap gue mau diewe sama lo mentang-mentang lo public figure, apalagi gue nggak kenal sama lo dan lo punya istri, lo kira lo siapa?”

Bagus sih kalau semua perempuan punya pendirian yang seperti itu, tapi sayangnya tidak semua perempuan punya ketangguhan demikian. Bagaimana bila si perempuan masih dalam proses pencarian jati diri, dia punya masalah psikologis yang membutuhkan coping, dia mengagumi sosok si public figure yang menurutnya  luar biasa dari segi karya dan imej yang ditampilkan di media?

Ada juga keyakinan dapat mengubah bad boy menjadi goodie boy, atau harapan kasual seks ini bakal menjadi real love seperti di film cinta Holywood? Sayang seribu sayang, kite hidup di dunie nyata. Bukan seperti di film No Strings Attached ataupun Friends with Benefit. Terlebih lagi kalau laki-lakinya memang fakboi, mencari seks gratisan dari penggemar-penggemar perempuannya. Kan bangcad dan ngasuian namanya.

Salah satu fakboi yang saya kenal dulu pernah berkomentar, “Mereka (perempuan-perempuan yang tidur dengannya—red) juga senang kok, istilahnya kayak groupies,” tambahnya. Nah, dari si fakboi inilah saya tahu aturan seks kasual supaya tidak baperan—fakboi juga manusia ternyata.

  1. Jangan menginap
  2. Setelah seks pertama diperoleh, batasi komunikasi
  3. Gencarkan kembali komunikasi untuk sexual intercourse selanjutnya

Lakukan siklus ini berulang-ulang sampai modar! Dan namanya juga fakboi, saat dia tidur dengan si A dia juga tidur dengan B, sementara dia mengupayakan si C, mengincar si D, dan kencan dengan si E.

Fakboi-fakboi dengan label public figure mendapatkan peluang lebih besar untuk membawa perempuan ke tempat tidur. Dengan alasan-alasan yang sudah disebutkan di atas. Bejatnya fakboi dia kadang mendiskusikan pengalaman tidur dengan korbannya bersama kumpulan temannya.

Dan si teman juga memberikan komentar yang bisa jadi seksis, bukannya menasehati supaya si fakboi taubat. Bisa jadi kumpulan temannya adalah para fakboi juga. Lebih sadis lagi, lingkungan akan menghakimi si perempuan sebagai perempuan gampangan yang mudah saja dibawa ena-ena.

“Mungkin cara Mba merespons, makanya dia kirim DM begitu,” kata seorang teman perempuan satu profesi ketika saya bercerita kalau salah seorang public figure kenalannya “test drive” dengan mengirimkan pesan di DM Twitter.

Itu terjadi beberapa tahun lalu yang kalau sekarang saya ingat-ingat, pernyataan si “teman” merupakan perwujudan dari susahnya perjuangan korban pelecehan menemukan keadilan, ketika sesama perempuan pun tidak suportif. Wah…wah…pantas saja budaya fakboi mengakar di mana-mana gaes! Karena, lagi-lagi perempuan yang disalahkan, mulai dari salah bertutur, salah berpakaian, pokoknya serba salah deh!

 

***

“Ester, kamu jangan trauma dan langsung memandang satu profesi itu nggak bener. Laki-laki bajingan (dulu belum ada istilah fakboi—red), ada di segala macam profesi, nggak cuma di kepenulisan saja,” kata seorang teman yang juga mantan redaktur saya.

Ya itu memang benar sih dan berusaha saya amini, walau dalam hati saya kerap kesal melihat si X wara-wiri di media sosial dengan sentosa, si Y diidolakan, si Z karyanya dipuja-puji, plus penuh dengan kelimpahan materi. Waduh para fakboi nih!

Satu-dua masih ada yang mengontak saya. Ada satu yang saya ladeni karena sepertinya dia sudah taubat dan jadi sopan ke saya. Yang lain ada yang tidak lagi memberi kabar, mungkin dia tahu cerita dia saya nukil di kumpulan esai saya “Akibat Menabukan Seks” hehehe.

Buat para fakboi yang membaca tulisan ini, bertaubatlah atau setidaknya berpikirlah dua kali sebelum menjaring target. Apalagi di dunia digital saat ini, apa yang engkau kirimkan di sosial media bisa di-capture dan disebarluaskan.

Statusmu sebagai public figure, punya followers segudang tidak lantas membuat penismu berubah jadi emas dan ejakulasimu mengucurkan intan berlian. Bercinta denganmu juga tidak membuat masuk surga, dilaknat iya apalagi kalau engkau suami orang atau sudah punya pasangan. Fakboi, fakboi, sekarang lagi pandemi corona, mending perbanyak amal ibadah bukan tipu daya.

Jakarta, 18 Mei 2020

Konsekuensi Rasa dari Kasual Seks

Standar

kasual 3

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang teman lama. Dia mengantarkan air kelapa hijau karena dia tahu saya sedang sakit alergi. Pertemuan yang seharusnya singkat menjadi cukup panjang. Masih dengan menerapkan “physical distancing” kami saling bercerita meng-update kabar setahun tanpa pertemuan.

Teman saya ini tipikal orang yang “terkadang” mencari hubungan kasual dan menjadikan seks sebagai relaksasi. Tetapi ada yang tidak biasa dari kasual seks yang dilakukannya. Tidak seperti beberapa orang yang melakukan seks langsung to the point, dia memperlakukan partner-nya dengan sangat manis.

Sebelum lebih lanjut membahas petualangan seks si teman lama ini, ada baiknya saya menjelaskan aturan tak tertulis pada penganut kasual seks. Ini saya rangkum dari beberapa teman/kenalan yang melakoni kasual seks.

  1. Jangan mencium bibir. Entah kenapa feel dari mencium bibir justru lebih intim ketimbang penetrasi itu sendiri.
  2. Jangan menginap. Karena tidak tahu entah apalagi yang engkau tinggalkan, bicarakan, kalau menginap. Urusan yang seharusnya hanya seks bisa lebih dari sekadar perkentaan.
  3. To the point saja, tidak usah terlalu manis dan manja. Buat penganut kasual seks, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan—seperti baper, mending tidak usah banyak basa-basi. Kalau sudah selesai ya sudah. Before sex-nya juga yang standar untuk menaikkan hasrat saja. Toh, dia bukan siapa-siapamu. Begitu kata para “pakar”.
  4. Menghilanglah seperti kentut yang baunya akan semakin samar seiring dengan waktu.

Kira-kira kurang lebih seperti itulah panduan yang pernah saya dengar dari cerita-cerita dengan pelaku kasual seks. Nah, teman lama ini mengobrak-abrik aturan tersebut karena buatnya seks adalah ritual yang harus dilakukan dengan aturan untuk bisa dinikmati sebagaimana mestinya—terlepas dari kalau hubungan tersebut hanya sebatas kasual.

“Seks itu kan dinikmati oleh dua orang, kalau cuma aku saja yang menikmati ya main sendiri saja,” demikian katanya. Kasual atau tidak, buatnya seks memang harus dilakukan dengan maksimal.

Dia mencari referensi bagaimana memijat yang enak, selalu membawa permen mint supaya ciuman lebih yahud, membersihkan pubis supaya oral tidak terganggu dengan bulu-bulu, dan dia suka kontak mata.

Intinya dia memperlakukan pasangannya dengan sangat manis dan ketika seks terjadi, dia menatap mata pasangannya, mencium kening, bahu, telapak tangan, dan mengeratkan genggaman jari. Seolah-olah mereka akan melakukan ini besok-besok lagi.

Buatnya, dia menikmati proses yang dilakukannya tersebut. Dia menikmati caranya menikmati pasangannya. Dan dia semakin menikmati karena pasangannya menikmati apa yang dia lakukan.

“Apa kamu nggak pernah baper?” tanya saya sambil menyeruput air kelapa hijau.

“Ya pastilah,” jawabnya.

“Lantas kenapa dilakukan?”

“Kamu tahu cabe pedas tapi tetap kamu makan kan?” Dia balik bertanya dan saya menjawab dengan anggukan.

“Sama halnya dengan seks, ya kita sendiri yang mengukur takarannya. Kalau memang jadinya ‘kepedesan’ ya itu bagian dari risiko melakukan hubungan itu,” jelasnya.

Buatnya seks tetaplah seks yang harus dinikmati bersama-sama sekalipun itu kasual. Dan oleh karena itu maka seks harus dilakukan semesti-mestinya. “Pasti pernahlah baper,” katanya. Tapi tidak lantas demi mengurangi kebaperan maka seks harus dilakukan asal-asalan.

***

Seks kasual kerap menjadi pilihan buat orang-orang  zaman now, apalagi dengan kemudahan yang diberikan aplikasi dating online mengatur pertemuan dengan orang asing dan menjadikan persetubuhan menjadi opsi yang bisa dilakukan tanpa drama.

Seks dipandang sebagai sekadar pelepasan dengan banyak-banyak rupa. Tentunya semua pilihan ada di tangan masing-masing dengan segala risikonya. Mulai dari risiko penyakit, untuk mereka yang enggan menggunakan pengaman dengan alasan kehilangan sensitivitas. Sampai dengan kebaperan buat mereka yang gampang main hati.

Ibarat kondom mungkin harusnya ada pelindung hati supaya kebal terhadap rasa dan tidak baperan. Eh tapi bukannya sudah ada aturan yang melindungi supaya seks kasual tetap menjadi kasual? Ya tapi dengan adanya pelindung aka aturan, ibarat penis dengan kondom engkau bisa kehilangan “sensitivitas” dari penetrasi. Hmm…risiko dan konsekuensi adalah pembenaran untuk apapun pilihannya. Bisa jadi.

Ekspresi Seks Penyandang Disabilitas

Standar

37 seconds edited

“Ibunya sampai merelakan diri menjadi saluran pemenuhan kebutuhan seksual anaknya,” kata Indana Laazulva selaku trainer dan dosen tamu gender dan seksualitas yang menjadi pembicara dalam diskusi buku saya—“Akibat Menabukan Seks” di Yogyakarta, Februari lalu.

Ingatan mengenai pernyataan Indana ini tiba-tiba muncul saat seminggu lalu, saya menonton film Jepang berjudul 37 Seconds. Film ini bercerita tentang penyandang disabilitas perempuan 23 tahun berprofesi sebagai asisten komikus.

Ketika tahu kalau komikus utama hanya memperalat dirinya dan menggunakan karya-karyanya, Yuma Takada demikian nama si tokoh film, bergerilya mencari pekerjaan lain. Akhirnya dia menemukan peluang untuk mengirimkan karya di salah satu penerbit komik dewasa.

Gambar yang dibuat Yuma bagus, editor penerbit dewasa tersebut memujinya, tetapi tidak ada “jiwa” dalam setiap gambar yang dibuatnya. “Kamu sudah pernah melakukannya?” tanya si editor frontal.

Hehehe, saya jadi teringat Kak Susu pemilik toko Laci Asmara yang pernah menanyakan hal serupa. Bahkan dia penasaran di mana saya menemukan teman kencan. Dia bertanya begitu tak lain karena saya menulis “Akibat Menabukan Seks”.

Antara tak percaya “kesayaan” saya punya cerita-cerita seks personal atau dia punya asumsi lain. Tapi, hal yang menarik dilontarkan si editor di film 37 Seconds, “Seorang seniman berkarya dari pengalaman-pengalamannya. Makanya karyanya bisa ‘hidup’.”

Kira-kira begitu yang dikatakan si editor. Dan eng ing eng, si editor menyarankan Yuma untuk ngeseks supaya bisa membuat gambar yang lebih “berjiwa”. Oh, ya sebelumnya, Yuma membuat gambar dari dari adegan film bokep. Saking niatnya, dia membeli dildo supaya bisa menggambarkan urat-urat penis dengan oke. Begitulah…

Dimulailah petualangan Yuma mendalami seks, gaes. Masturbasi. Dia duduk di kursi rodanya, menghadap cermin, memasukkan jemari ke dalam celana, dan mulai melakukan penjelajahan. Tidak stop di situ, Yuma mendaftarkan diri di situs kencan.

Bertemu dengan laki-laki berbagai rupa dan sifat, kemudian yang paling gokil adalah dia menyewa jasa pekerja seks komersil. Yuma bukan perempuan yang sehat secara fisik, dengan kondisi disabilitasnya; dia tidak bisa berjalan dan harus menggunakan kursi roda, lengan yang tidak bisa lurus, membuatnya mendapatkan respons yang menyebalkan.

Ada yang beranggapan kalau pengidap disabilitas tidak memiliki hasrat seksual dan pertanyaan bagaimana mereka melakukan hubungan seks; memuaskan dan dipuaskan?

***

“Kalau pendidikan kesehatan di luar negeri, masturbasi menjadi sesuatu yang diajarkan dalam rangka memenuhi pemenuhan kebutuhan seksual penyandang disabilitas,” kata Indana Laazulva lagi.

Sungguh berbeda dengan di Indonesia, jangan dianggap sebagai materi kesehatan yang penting untuk diketahui teman-teman dengan disabilitas, masturbasi sendiri masih dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Seperti dilansir dari The Guardian, menurut Dr. Daniel Atkinson dari University of Southampton Medical School, masturbasi bukan hanya eksplorasi dan pembebasan fisik. Masturbasi dalam kaitannya dengan kesehatan seksual juga menjadi upaya memberikan konsep harga diri yang sehat.

Menyandang disabilitas tidak lantas menghilangkan kebutuhan akan melampiaskan ataupun mengekspresikan seksualitas. Seperti kata Yuma, “Hanya karena aku menggunakan kursi roda, bukan berarti aku tidak mau (seks—red).”

Tidak seperti orang umum yang melakukan masturbasi dengan tangan atau alat bantu seks, lantas bagaimana dengan teman-teman disabilitas? Tentunya di zaman serba canggih seperti sekarang ini, kemudahan teknologi semestinya bisa membantu memberikan informasi dan solusi.

Salah satu yang menarik adalah Ripple Suit yang dirancang oleh desainer asal Taiwan Hsin-Jou Huang, Szu-Ying Lai dan Chia-Ning Hsu yang membantu penyandang disabilitas merasakan kenikmatan seksual.

Ripple Suit ini semacam baju yang pada titik-titik tertentu bisa memberikan rangsangan termasuk di zona sensitif. Kelengkapan Ripple Suit juga termasuk masker mata, headphone dan bantalan pundak. Bahkan konon bisa memberikan sensasi cuddling setelah orgasme.

Celah kreativitas untuk mengejar cuan? Eksplorasi habis-habisan kaum tak beragama? Bisa jadi ini adalah komentar-komentar saat mengetahui inovasi ini. Namun mengutip apa yang dikatakan Tina Schermer penulis buku Sex, God, and The Conservative Church,

“Seksualitas memengaruhi semua aktivitas yang kita lakukan. Hal yang sama juga berlaku dengan keyakinan spiritual (agama). Kita bisa saja menyangkal keduanya. Tetapi dengan menyangkalnya tidak serta-merta membuat keduanya hilang dalam setiap tarikan napas dan detak jantung kehidupanmu.”

Kekerasan Seksual di Rumah Sendiri

Standar

Kekerasan Seksual Edited

Saya baru saja menuntaskan film pendek karya Ari Aster berjudul The Strange Thing about the Johnsons. Film yang juga merupakan karya sutradara film-film Hereditary dan Midsommar ini bercerita tentang kekerasan seks di rumah.

Pelakunya bukan orang dewasa, tetapi anak kepada orangtua. Lebih tepatnya anak laki-laki kepada ayahnya. Walaupun dari segi antagonis dan protagonis agak sedikit berbeda dari umumnya, namun latar belakang dan musabab kenapa kekerasan seks ini dilanggengkan masih tetap sama yaitu menjaga imej alias nama baik.

Sebenarnya sang ibu sudah tahu kalau anak laki-laki mereka punya kecenderungan memiliki perasaan lebih kepada si ayah. Sang ibu bahkan tahu kalau anak laki-lakinya mencium dan mengoral si ayah di hari pernikahan si anak.

Dan sang ibu juga sengaja membesarkan volume tivi saat tahu suaminya berteriak  kesakitan dari kamar mandi ketika anak laki-laki mereka memperkosanya. Tapi, lagi-lagi demi menjaga nama baik, peristiwa memalukan ini didiamkan, diabaikan, dan dibiarkan begitu saja. Sampai akhirnya meledak dan tidak seorangpun bisa diselamatkan selain tetap imej itu sendiri.

Film pendek yang dibuat Ari Aster dan dirilis tahun 2011 ini sekali lagi menjadi pengingat bagaimana kita sering menempatkan kekerasan seks di rumah tangga sebagai sesuatu yang harus diredam dan ditutupi. Demi apa? Demi imej.

***

Pertengahan Januari 2020 saya menerbitkan buku “Akibat Menabukan Seks” yang isinya kumpulan esai mengenai seksualitas, seks edukasi, dan urban life. Beberapa tulisan dalam buku tersebut sudah pernah dipublikasikan sebelumnya di Magdalene.co dan mojok.co.

Ada banyak pengalaman unik yang saya peroleh semenjak buku tersebut dirilis. Selain dianggap cabul dan senang ngeseks, saya kerap mendapat cerita langsung dari mereka yang pernah mengalami kekerasan seksual di rumah.

Dari beberapa cerita yang disampaikan langsung ke saya, benang merah yang bisa saya tarik adalah “menjaga imej”. Ya, kebanyakan kekerasan seksual tetap dilanggengkan untuk menjaga nama baik keluarga.

Misalnya seperti X, seorang perempuan bersuku Batak yang sejak remaja dilecehkan oleh paribannya. Jadi supaya pembaca tahu, pariban dalam adat Batak adalah seseorang yang seharusnya menjadi jodohmu. Pariban ini sebenarnya sepupu dekat, tetapi adat memperbolehkan keduanya menikah.

Nah, si X sudah sering kali dilecehkan oleh paribannya, dan keluarga besarnya tahu, tapi mereka menenangkan X dengan alasan posisi si sepupu sebagai pariban. Bahkan kalau bisa keduanya dinikahkan saja. Mereka sudah jodoh!

Bagaimana bisa seorang pelaku pelecehan seksual dinikahkan dengan korbannya? Apakah itu bukannya malah membuat si korban semakin trauma? Bagaimana hubungan rumah tangga dibangun dengan latar kekerasan? Tidak semua perempuan seperti Karmila1 . Tapi ya itu tadi demi nama baik, hal yang salah didiamkan.

Cerita mengenai kekerasan seksual di rumah sendiri juga saya dapatkan dari si Y. Sebenarnya Y tidak menjadi korban langsung melainkan abangnya. Jadi, malam ketika kejadian tersebut, om mereka menginap di rumah.

Dan om mereka tidur dengan abang Y di lantai dua, Y sendiri tidur di kamar lantai satu dan kamar orangtua mereka di sebelah kamar Y. Tiba-tiba tengah malam, abangnya si Y berteriak dan mengetuk keras kamar Y lalu bersikeras minta tidur di kamar Y.

Sebagai informasi tambahan, saat peristiwa itu terjadi mereka duduk di bangku SMP atau SMA—rentang usia yang sewajarnya tahu dan bisa mengingat suatu kejadian seumur hidup. Tentu saja, orangtua mereka ikutan terbangun dan bertanya ada apa. Si om pun turun dari lantai dua menghampiri keramaian.

Y cerita ke saya, di momen itu dia merasa ada sesuatu yang salah dan dia bisa membaca kalau si om seperti gelapan, berusaha menenangkan dan meminta abangnya Y untuk kembali ke kamar atas. “Nggak papa, dia cuma mimpi kok,” Y mengulangi pernyataan si om.

Sedangkan orangtua Y hanya berdiri termangu, bingung, serba salah antara mau mencari tahu apa yang terjadi (atau sudah tahu?) tapi juga tidak mau sampai hubungan kekerabatan rusak. Apalagi si om ini posisinya adalah seorang pendeta. Mosok sih pendeta berani macem-macem?

Sampai sekarang Y cerita kalau peristiwa tersebut dianggap angin lalu, seolah tidak pernah terjadi. “Aku juga sampai heran kenapa papa mamaku nggak pernah membahas ini.” Saya pun bertanya, “Memangnya abang kamu diapain?”

Y cerita, paginya dia bertanya ke abangnya tentang peristiwa semalam, dan abangnya mengaku kalau si om mengajaknya berbaring di sebelah, dan ketika dia tidak mau si om mengelus paha dalam abangnya Y.

Dari kedua cerita ini saya menyimpulkan kekerasan seksual di rumah didiamkan selain karena menjaga imej, alasan lainnya adalah rasa tidak percaya kalau seorang kerabat dekat—apalagi yang profesinya rohaniawan, bisa berperilaku seiblis itu.

Inilah juga yang menjelaskan kenapa para korban ogah bercerita, karena ujung-ujungnya didiamkan atau malah mau dinikahkan (seperti yang dialami X). Saya belum bercerita tentang Z yang dipenetrasi paksa oleh paman jauhnya berulang-ulang ketika dia duduk di bangku SD.

Itu terjadi terus-menerus tanpa dia tahu, apa itu artinya. Sampai akhirnya dia duduk di bangku SMP mempelajari Biologi, baru dia tahu kalau yang dilakukan pamannya adalah penetrasi yang dipaksakan alias pemerkosaan!

Z berusaha pulih, dan sampai sekarang pengalaman itu membuatnya setengah kacau dan tidak mempercayai keluarganya—dia tidak cerita ke orangtuanya kalau paman jauhnya sudah melecehkannya.

***

“Saya tidak mau punya anak, dunia ini sudah terlampau kacau,” saya sempat bilang seperti itu ke teman-teman dekat dan saudara saya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan seorang anak malah sumber malapetaka, karena perilaku orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.

Kalau anak hanya sebagai pelengkap status suami istrimu, menjaga ketika tua nanti, atau supaya ada jawaban ketika ditanya kenalan sudah punya anak atau belum, mending engkau buang jauh-jauh rencana memiliki anak.

Bumi sudah dipenuhi begitu banyak manusia. Membuat manusia baru tanpa mempersiapkan matang-matang fondasi awal, menjaga rumah sebagai tempat tinggal anak yang semestinya, bukannya malah jadi sarang predator!

 

 

 

1 Karmila adalah tokoh novel karya Marga T yang diperkosa kemudian menikah dengan pelaku pemerkosanya.

Jika Saya Jadi HRD…

Standar

HRD

Foto karya: Rahardi Handining (Heng) berjudul "The Dream".
Acrylic dan pensil di atas canvas 108 x 153 cm (2016).
Difoto saat diikutkan dalam pameran "Fenestram" 
11 - 19 Oktober 2017 di Bentara Budaya Jakarta (BBJ).

“Walaupun sudah bekerja dengan nyaman di tempat sekarang, saya tidak menutup kemungkinan untuk kesempatan-kesempatan yang datang.”  Ini kerap menjadi jawaban saya ketika ditanyakan oleh perekrut apakah tertarik bekerja di perusahaan X atau ketika ditanyakan kenapa mau melamar di perusahaan Y.

Dan seperti kandidat-kandidat lainnya, saya sering mendapatkan pengalaman unik. Seperti yang pernah saya tuliskan di “Tidak Ada Negosiasi, jadi Pilihannya Ambil atau Tinggalkan”, kearogansian dari sebuah perusahaan yang haqiqi sekaleeeh

Hal-hal ini terkadang membuat saya keder duluan ketika ada pesan masuk di LinkedIn yang menawarkan peluang pekerjaan. Bukannya gimana-gimana nih, saya tidak siap untuk dilambungkan kemudian dihempaskan seketika. Diberi harapan lalu di-PHP. Sudah memberikan effort tapi tidak dihargai. Disayangi tapi tidak diakui.

Jadi ,ketika beberapa kali datang tawaran atau gayung bersambut aka lamaran saya diproses, saya tidak terlalu meninggikan ekspektasi. Saya berusaha membawanya santai, yah lumayan untuk menambah link baru, atau karena saya baru menerbitkan buku Akibat Menabukan Seks secara mandiri, saya juga menawarkan buku saya kepada pihak perekrut. Eh, ada yang beli lho gaes! Hehehe…

Setahun lalu saya pernah ditawari untuk mencoba peluang di sebuah perusahaan layanan jasa Z. Nah, HRD di perusahaan Z ini dulu pernah jadi HRD di tempat saya bekerja sebelumnya. Kita tidak pernah berinteraksi secara profesional. Ketika saya cabut, Mba HRD ini join di perusahaan tersebut.

Dia menambahkan saya di jejaring LinkedIn-nya kemudian mengirim pesan kalau perusahaan Z sedang membuka lowongan pekerjaan yang “katanya” sesuai dengan kriteria yang mereka cari. Berdasarkan pengalaman-pengelamanan perekrutan sebelumnya– sudah melewati pelbagai macam tes dan wawancara ujung-ujungnya tidak ada kabar, saya jelaskan status dan keprihatinan saya.

Dia lalu menjawab, tidak akan melakukan hal-hal tersebut dan memberikan kepastian yes atau no. Tapi ternyata, dia tidak melakukan seperti yang dia katakan gaes! Ini tidak ubahnya janji gebetan tapi ternyata cuma bumbu-bumbu pemanis di masa PDKT.

Dia tidak memberikan kabar, padahal saya sudah melakukan screening awal di telepon—yang syukurnya dilakukan dengan panggilan normal bukan WhatsApp! Saya juga mengisi form—yang sebenarnya sudah ada di CV juga (mungkin di sini ada yang bisa menjawab, kenapa kandidat harus selalu diminta mengisikan form padahal jelas-jelas informasi utama tersebut sudah termuat di dalam CV?) Keuseul-ny lagi, saya juga sudah mengirimkan tes, dan dia bilang oke hasilnya.

Puncaknya saya melakukan wawancara dengan calon atasan saya—kalau saya diterima dan ternyata tidak. Si HRD bilang akan memberikan jawaban yes or no paling lambat seminggu karena mereka juga butuh cepat.

Tapi, apa yang terjadi saudara-saudara, seperti yang sudah-sudah, si Mba HRD tidak memberikan jawaban! Bahkan pesan WhatsApp saya tidak dibalas berminggu-minggu. Kalau tidak salah, ketika sebulan lebih ,saya iseng mengirimkan pesan untuk kembali menanyakan dan ternyata langsung cus dibalas deseu. Dia minta maaf, katanya pesan saya terlewatkan dan jawabannya adalah NO!

Sejujurnya, saya tidak terlalu berharap sekali dengan kata YES dari mereka. Hanya please, have some attitude-lah. Proses pencarian pekerjaan adalah hal yang melibatkan kerja sama antara orang yang mencari kandidat dan si kandidat itu sendiri.

Sudah selayaknya dalam upaya menemukan personal yang tepat dilakukan sebaik-baik, seringkas-ringkas, dan setepat-tepatnya. Saya selalu percaya HRD adalah cermin perusahaan bagi para kandidat di luar sana. Kenapa begitchu? Karena HRD adalah orang pertama yang ditemui si kandidat ketika dia bersinggungan dengan perusahaan tersebut.

Tentunya bukan hanya for the sake of humanity saja ya, yang utama adalah memberikan KESAN POSITIF dan NICE kepada kandidat yang sejatinya adalah-orang-luar-yang-bisa-jadi-thepowerofmouth, mengenai perusahaan tersebut. Makanya, sudah selayaknyakan tim HRD memberikan sikap yang mencerminkan nilai-nilai perusahaan?

Saya pernah diapain lagi ya gaes? Oh, ya saya pernah diminta slip gaji—sesuatu yang menurut saya personal, di tahap-tahap akhir, tapi ending-nya ya itu tadi di-PHP. Ini bukan pernyataan sih tetapi pertanyaan, apa memang sudah aturannya ya perekrut menanyakan gaji terakhir dan memberikan penawaran dari gaji terakhir si karyawan tersebut?

Kalau itu dilakukan, berarti perusahaan memberikan penawaran berdasarkan standar dari perusahaan yang lama dongs? Apa perusahaan tidak punya standar sendiri? Tapi, kenapa ketika kandidat menanyakan kisaran gaji untuk posisi yang akan diisinya tidak etis untuk diberikan jawaban?

Sedangkan di sisi lain perekrut menanyakan gaji terakhir yang diterimanya—padahal ini masih tahap screening juga. Saya berpikir, zaman boleh berganti menjadi kekinian dan digital, tetapi tetap saja ada hal-hal purba yang dijadikan metode untuk mengisi zaman yang katanya serba technology ini.

***

Di rentang 2013 – 2015 saya pernah bekerja paruh waktu untuk mengisi blog di website pencarian kerja. Tugas saya tidak hanya menulis dari sudut pandang kandidat tetapi juga si perekrut.

Apa yang saya lakukan kalau saya jadi seorang HRD? Tentunya, saya akan mengubah sistem pencarian kandidat, lebih ringkas, menghargai kandidat, no dramas, calls—seperti kata Gigi di film He’s Just Not That Into You. Kemudian, beberapa hal ini akan saya lakukan juga:

  1. Tidak Akan Menanyakan “Coba Ceritakan tentang Diri Kamu”

Oke, mungkin perekrut sedang mencoba menggali tentang si kandidat. Tapi, bisakah menanyakan pertanyaan yang lebih spesifik dari ini? Selama ini dalam proses pencarian kerja, yang selalu ditekankan adalah si kandidat harus punya jawaban-jawaban cerdas seperti kuis jadul tahun 90-an Taktik Bom. Kalau salah menjawab, maka kesempatan selanjutnya akan musnah.

Bagaimana dengan posisi perekrut sendiri? Bukankah kalau tidak menanyakan pertanyaan yang tepat bisa membuat perusahaan kehilangan kemungkinan untuk mendapatkan karyawan andalan?

  1. Jangan Mengulangi Pertanyaan yang Jawabannya Sudah Ada di CV

Oh, ya terkait hal ini saya juga punya pengalaman mengesalkan gaes. Di sebuah perusahaan startup milik asing yang ada di Indonesia. Kalau menurut saya pengalaman ini cukup parah sih, apalagi mengingat orang yang mewawancarai saya ini adalah HRD Manager.

Dalam proses pencarian kandidat, mereka menggunakan jasa head hunter, tapi ini bukan alasan sih untuk dia tidak membaca CV saya. Ibu HRD Manager ini baru membaca CV saya ketika wawancara dilakukan. Yap! Dia membacanya tepat di depan saya.

Saya tidak tahu, apakah hal ini dilakukannya ke saya saja karena saya remah-remah rengginang, ke kandidat-kandidat lain, atau memang seperti itu default perusahaannya.

  1. Selalu Mengacu dan Menilai pada Aktivitas di Pekerjaan Now-nya Kandidat?

“Apa saja jobdesc kamu?”

“Bagaimana flow-nya?”

“Kalau daily job-nya ngapain aja?”

Oke siiih, mungkin deseu ingin tahu kontribusi si kandidat di perusahaannya sekarang seperti apa. Tapi…apakah performa seorang kandidat hanya dinilai dari apa yang dilakukannya buat tempat kerjanya saja?

Bagaimana kalau dia punya kegiatan lain, aktivitas lain yang menarik dan menjadi faktor X yang bisa jadi berkontribusi untuk the next company kelak? Atau kebiasaan perekrut memang mencari ikan dalam aquarium yang hidup matinya di satu wadah sajakah?

  1. Research dunks…

Saya selalu tertarik untuk menggali seseorang yang menarik buat saya dan melakukan stalking kecil-kecilan. Saya pernah mewawancarai seorang sutradara, dan tidak menemukan banyak riwayat cerita di akun sosial medianya.

Akhirnya saya menemukan fakta-fakta menarik seputar kariernya di LinkedIn. Dia sampai cukup “wow” saya bisa tahu pekerjaan pertamanya. Mungkin tidak sampai seserius itu ya, atau kepo. Tapi nih, mengingat era sekarang era digital yang dielu-elukan, kenapa tidak mau mencari hal unik dari kandidat dari sosial medianya.

Kalaupun terlalu mager untuk melakukannya, setidaknya bacalah CV-nya dengan baik dan temukan hal-hal yang bisa digali untuk ditanyakan. Toh, pada akhirnya untuk itu kan CV dibuat? Bukan sekadar menambah-nambahi arsip atau kuota.

  1. Tidak Akan Melakukan Wawancara Via WhatsApp Call

Untuk urusan santuy saja saya menjadikan WhatsApp Call sebagai pilihan terakhir. Bahkan, kalau saudara saya menelepon via WhatsApp Call, saya akan mematikan panggilan dan meneleponnya lewat panggilan biasa.

Lain hal kalau video call, akan saya angkat dan pastikan sinyal saya kuat, salah satunya adalah menggunakan WiFi. Bagaimana sebuah wawancara bisa dilakukan dengan panggilan WhatsApp? Itu yang terjadi gaes. Sinyal mati-hidup, kemudian terputus. Saya ingin menghubungi deseu kembali. Tapi, yasudahlah…

  1. Yes or No dengan Jelas

Kalau memang diterima ya diterima, kalau tidak diterima ya tidak. Supaya kita bisa sama-sama move on mez. Kandidat sudah melakukan effort lho, masakan dia tidak berhak untuk sebuah kepastian. Apalah beratnya mengirimkan email atau WhatsApp, tidak akan menyedot pulsa atau kuota internet dengan signifikan kan?

Plusnya, perekrut tidak akan ditanya-tanya atau sampai dibikinin tulisan seperti yang saya lakukan sekarang. *Wink*

 

 

Musik dan Seks

Standar

WhatsApp Image 2020-03-06 at 12.27.26

Pernahkah kamu sedang berada di mood yang bagus dengan pasangan, namun suasana tersebut jadi rusak hanya karena lagu? Kamu dan dia sedang  berada di kamarnya yang khas banget.

Lukisan setengah jadi, kuas-kuas kering, sisa-sisa cat yang belepotan di dinding dan lantai, baju yang berantakan—dan saat itu tidak ada alasan untuk berdebat. Ketika suasana sedang hangat-hangatnya, mendadak Spotify dia memutar lagu Banda Neira yang berjudul “Di Beranda”.

Semangat untuk melanjutkan jadi turun. “Di Beranda” itu lagu yang bikin terkenang dengan orangtua, lain hal kalau “Sampai Jadi Debu”.

***

Menurut data penelitian yang dipublikasikan oleh Research Gate yang berjudul Current Emotion Research in Music Psychology, disebutkan kalau musik memberikan pengaruh secara efektif terhadap emosional. Musik-musik tertentu akan memberikan sensasi sedih, gembira, turn on, tergantung bagaimana pengalaman personal seseorang dan tema lagu tersebut.

Lagu sebagai mood untuk bercinta memang sangat personal, tapi sedikit banyak lagu-lagu slow dengan lirik yang menyiratkan hasrat seperti yang saya rekomendasikan di bawah ini bisa jadi cocok juga buat kamu.

  1. Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan (Payung Teduh)

Saya selalu suka dengan lagu ini, karena liriknya yang dalam. Terlepas dari fakta kalau ternyata lagu ini dibuat mantan vokalisnya untuk anak perempuannya. Lirik lagu “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” pas banget didengarkan buat kamu yang senang mendusel-dusel pasanganmu.

  1. Concrete (Tom Odell)

Lagu ini juga cukup membangkitkan mood bercinta terutama jika perkentaan dilakukan dengan orang yang baru pertama kali ketemu, tapi obrolan di online nyambung banget. Tak jarang pertemuan kilat di aplikasi online membawa relasi ke petualangan di tempat tidur. Lirik di “Concrete” benar-benar membahasakan sensasi tersebut.

Cause I’d sleep, on a bed that’s made of Concrete, just the two of us and No sheet, just your feet Rubbing up against mine

  1. Body (Loud Luxury feat Brando)

Lagu ini pas banget untuk persetubuhan yang dilakukan one night stand. Ketemu orang asing di club, terjalin chemistry, sparkling atau apalah namanya. Di tengah malam, di Friday vibes, obrolan semakin intim, biar makin intens, pasang musik ini ladies. Tapi, jangan lupa stay safe dengan kondom ya!

  1. Apocalypse (Ciggarette After Sex)

Saking emosionalnya, lagu tidak disebut sebagai lagu, this isn’t a song. This is a feeling. Lagu ini bakal menjadi pendamping yang seru menikmati momen bercinta dengan orang yang kamu sayangi dan menyayangimu. Mungkin, bisa jadi lagu ini akan menemani kalian ke little death (la petite mort) bersamaan?

  1. Somehow (Tom Odell)

Kali ini bukan karena lirik melainkan harmonisasi pada musikalitasnya yang iramanya pas banget, menggenapi foreplay sampai ke tahap orgasme. Kalau kamu lihat langsung videoklip dari lagu ini, para musisi yang terlibat sangat menikmati musik yang mereka mainkan, seakan melakukan percintaan itu sendiri.

  1. You are The Only One I Love (Jaymay)

Mulai dari lirik, musik, sampai nada gumam dari penyanyinya andalan banget untuk membangun saat-saat intim dengan pasangan. Iramanya benar-benar selaw, komposisi antara durasi untuk musik dan menyanyinya juga pas jadi kamu bisa benar-benar menikmati lagu ini. Dan di ending, yang menurut saya pamungkas dan menjelaskan banget sensasi bercinta adalah saat ada backsound yang memperdengarkan lirik can you feel the love song.

  1. Melebur Semesta (Sal Priadi)

Liriknya membahasakan banget bagaimana irama percintaan sesungguhnya. Derit dipan yang berbunyi, peluh keringat yang jatuh, desah napas yang berat, serta teriakan nama. Kemudian yang awwwww-nya, saat refrain Sal mempertegas kalau malam ini akan dibuat cinta dalam semesta tubuh pasangannya yang begitu romantis.

Anyway, kamu nggak perlu menunggu sampai hujan turun seperti di lagu ini dulu ya untuk making love dengan pasanganmu.

***

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh National Health Institutes, seks memberikan banyak manfaat untuk kesehatan fisik dan psikismu. Dentuman gairah seks yang menggebu bagus untuk melatih kekuatan jantung.

Seks (yang bertanggung jawab) juga baik untuk kesehatan mentalmu. Penelitian yang sama menunjukkan hasil signifikan di mana orang yang melakukan hubungan seks penetrasi memiliki manajemen stres lebih baik ketimbang yang tidak. Selamat cinta-cintaan!

 

 

Menjadi Feminis Tanpa “Ngegas”

Standar

Feminis Ngegas

Baru-baru ini saya melihat posting-an sebuah akun feminis yang cukup mencuri perhatian. Akun feminis ini mem-posting sebuah pernyataan yang mengatakan, untuk perempuan yang dilarang pakai KB sama pasangannya, pasangan tersebut sebaiknya ditinggalkan saja. Perempuan punya otoritas atas tubuhnya tanpa perlu izin pasangannya.

Kemudian ada salah satu akun lain yang memberi komentar kalau suaminya melarang dia memasang KB karena KB dapat “merusak” tubuh dan mengganggu hormon. Sebagai ganti, sang suamilah menggunakan kondom, dan ini merupakan win-win solution buat mereka.

Admin akun feminis langsung membalas dengan gigi tiga, alias tancap gas, dan mengatakan si perempuan tidak usah membawa-bawa narasinya. Dengan dia mengiyakan larangan suami, sama saja membiarkan perempuan-perempuan lain menerima larangan suami masing-masing.

Saya tidak memiliki latar belakang medis, tetapi setahu saya alat kontrasepsi berfungsi untuk mencegah kehamilan. Beberapa jenis KB tidak ramah terhadap tubuh perempuan, contohnya saja suntik KB, pil KB, pemasangan susuk, dan IUD/spiral.

Jenis-jenis KB ini bisa mengganggu keseimbangan hormon perempuan. Teman saya ada yang mengonsumsi pil KB kemudian mengalami menstruasi yang tidak teratur. Belum lagi pemasangan IUD yang cukup “ekstrem”.

Bagaimana tidak “ekstrem”, vagina dibuka lebar, dibersihkan dengan cairan antiseptik, disuntik supaya nyeri berkurang saat pemasangan IUD, leher rahim diukur dengan memasukkan alat lagi, baru kemudian IUD dipasangkan. Biasanya akan ada sensasi kram yang normal.

Jadi, ketika suami si perempuan yang memberikan komentar di akun feminis mau mengenakan kondom, saya cukup “wow” juga. Berarti si laki-laki aware dengan tubuh pasangannya. Jarang sekali laki-laki yang mau mengenakan kondom saat berhubungan seksual.

Kondom mengurangi sensasi saat penetrasi. Penis tidak bisa merasakan skin to skin otot-otot vagina yang mencengkeramnya. Inilah salah satu alasan utama kenapa laki-laki menolak menggunakan kondom. Lantas, apa yang salah dari suami si Mba yang sekadar berbagi pengalaman tersebut? Apakah setuju dengan apa yang dikatakan suami—dan saran itu memang bagus, adalah bentuk kelemahan diri?

Semua orang tentunya punya deal yang berbeda dengan pasangannya. Apakah ketika dia memiliki cara yang berbeda, itu malah dianggap menghilangkan keberdikariannya sebagai seorang perempuan? Memangnya kenapa kalau dia “menurut” dengan saran suami, kalau toh memang saran tersebut bagus untuk dijalani?

Sikap-sikap antipati seperti inilah yang justru memberi kesan kalau feminis itu galak, pembenci laki-laki, dan tidak mau diatur, kesannya marah-marah terus. Bagaimana mau memberikan edukasi, kalau setiap diberi komentar langsung menyanggah? Padahal sanggahannya belum tentu benar.

Kalau belum apa-apa sudah marah-marah, menutup pintu diskusi, bagaimana mau mengimbau masyarakat untuk berpikir setara? Saya tidak pernah menganggap diri saya feminis, saya lebih suka dengan konsep kesetaraan.

Lagian apa sih artinya feminis itu? Menurut Cambridge Dictionary, feminis adalah keyakinan bahwa perempuan harus diberi hak, kekuasaan, dan peluang yang sama dengan laki-laki. Perempuan harus diperlakukan dengan cara yang sama termasuk hak ekonomi, sosial, dan politik. Jelas di sini tidak ada yang di atas dan tidak ada yang di bawah.

Saya juga selalu percaya kalau laki-laki dan perempuan sudah seharusnya saling melengkapi dan bekerja sama. Dan sebaik-baiknya, organisasi-organisasi feminis ataupun yang mengusung human rights tidak menjadikan keyakinannya sebagai titah tunggal.

Sedikit banyak posting-an akun feminis ini mengingatkan saya akan kejadian beberapa tahun lalu, saat seorang penulis perempuan senior memberikan komentar di status FB seseorang mengenai buku bagus. Saya menganggap penulis perempuan ini sebagai sosok yang baik untuk jadi acuan, kemudian dengan sederhananya saya menanyakan di status tersebut, “Memang kriteria buku bagus menurut Mba X seperti apa?”

Mba penulis senior ini memberikan jawaban yang cukup arogan dengan membalas kurang lebih seperti ini, “kalau memang nggak tahu, nggak usah ikut-ikutan”. Dari situ saya menemukan adanya arogansi dalam lingkup-lingkup yang seharusnya bisa memberikan pencerahan.

Pada akhirnya pembahasan-pembahasan mengenai topik “intelek” hanya bisa didiskusikan dengan orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sama. Lha, lantas bagaimana suatu pemahaman menemukan kebenarannya kalau tidak diuji terus-menerus? Satu hal yang membuat saya tercenung, ternyata katak dalam tempurung juga bisa (sering) terjadi pada kaum yang mengaku diri intelek.